OpenTrades
TentangAUMSimulasiCara ikutChartHargaNewsFAQ
  IDEN English versionMasukDaftar gratis
TentangAUMSimulasiCara ikutChartHargaNewsFAQ
Mata uang  
MasukDaftar gratis
NewsProfil Saham

Saham SMGR: Profil Semen Indonesia (SIG), Bisnis, Kinerja, dan Risikonya

SMGR turun 49,8% dalam setahun ke Rp1.365. SIG kini mengkaji buyback saham lewat jalur POJK 13/2023 di tengah tekanan IHSG.

TTim OpenTrades30 Oktober 2026 · 11 menit baca

Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan

Saham SMGR: Profil Semen Indonesia (SIG), Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
Di artikel ini
  1. Ringkasan saham SMGR
  2. Bisnis SIG
  3. Sejarah singkat dan IPO
  4. Pemegang saham dan manajemen
  5. Kinerja keuangan terbaru
  6. Dividen
  7. Pergerakan harga saham SMGR
  8. Berita dan katalis terbaru
  9. Apa artinya buat investor
  10. Pesaing di BEI
  11. Risiko
  12. Cara beli saham SMGR
  13. FAQ
  14. Apakah SMGR rutin membagikan dividen?
  15. Berapa harga 1 lot SMGR?
  16. Apakah SMGR masuk indeks LQ45?
  17. Apa bedanya SMGR dengan INTP?
  18. Kenapa SIG mengkaji buyback saham SMGR?
  19. Siapa pemegang saham mayoritas SMGR?

SMGR itu kode saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, badan usaha milik negara yang menjalankan bisnisnya dengan nama dagang SIG. Perusahaan ini bergerak di bidang produksi bahan bangunan, dengan bisnis inti semen dan produk turunannya seperti beton, mortar, precast, dan agregat. Jaringannya mencakup 17 anak perusahaan di Indonesia dan Vietnam, dengan pasar yang menjangkau Asia, Australia, dan Oseania.

Ringkasan saham SMGR

Per 30 Oktober 2026:

KategoriDetail
KodeSMGR
Nama resmiPT Semen Indonesia (Persero) Tbk (nama dagang SIG)
Sektor/subsektorBahan bangunan — produksi semen dan produk turunan (beton, mortar, precast, agregat)
Tahun IPO1991, melantai di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya
Harga terakhirRp1.365 per lembar
Harga 1 lotRp136.500 (100 lembar)
Rentang 52 mingguRp1.265 - Rp3.260
Kinerja 1 bulan / 3 bulan / 1 tahun-5,9% / -6,2% / -49,8%
Indeks LQ45/IDX30belum ada di sumber yang kami cek

Bisnis SIG

SIG punya tiga lini produk utama: semen kantong, semen curah, dan produk turunan berupa beton, mortar, serta beton pracetak. Semen kantong dipasarkan lewat delapan merek, termasuk Semen Gresik, Semen Padang, Semen Tonasa, Dynamix, Semen Andalas, Semen Baturaja, Semen Merdeka, dan Thang Long Cement di Vietnam, didukung 385 distributor dan lebih dari 70.000 toko retail di seluruh Indonesia.

Untuk semen curah, SIG punya varian khusus seperti DuPro+ untuk lingkungan ekstrem dan tahan air laut, sampai Supertermo yang dipakai untuk pengeboran minyak dan gas bumi. Lini beton mencakup produk readymix biasa sampai beton dekoratif dan beton kuat tekan tinggi, didukung jaringan batching plant yang tersebar di lokasi-lokasi proyek.

Di luar bisnis inti semen, SIG punya lini pendukung berupa jasa konstruksi dan manufaktur, jasa angkutan darat dan laut, penyedia kemasan industri, jasa penambangan, perdagangan internasional, dan aplikasi solusi bahan bangunan. Lewat anak usaha dan unit bisnisnya, SIG juga merambah properti, pengelolaan kawasan industri, pengelolaan limbah industri, solusi informatika, sampai layanan kesehatan.

Sejarah singkat dan IPO

Cikal bakal SIG dimulai pada 1953 lewat pendirian Badan Hukum N.V. Pabrik Semen Gresik, dengan kapasitas terpasang awal 250.000 ton semen per tahun. Presiden Soekarno meresmikan pabriknya pada 1957. Status badan hukum berubah jadi Perusahaan Negara pada 1961, lalu jadi perseroan terbatas pada 1969.

Perusahaan ini resmi melantai di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada 1991, saat kapasitas terpasang sudah mencapai 1,8 juta ton semen per tahun. Ekspansi besar terjadi pada 1995 lewat akuisisi Semen Padang dan Semen Tonasa, mendorong kapasitas jadi 8,5 juta ton per tahun.

Perusahaan asal Meksiko Cemex sempat jadi pemegang saham dengan porsi 14% pada 1998, naik jadi 25,5% setahun kemudian, sebelum dilepas ke Blue Valley Holdings milik Rajawali Corpora pada 2006 dan dijual kembali empat tahun berikutnya. Ekspansi ke luar negeri terjadi pada 2012 lewat akuisisi Thang Long Cement di Vietnam yang berkapasitas 2,3 juta ton per tahun.

Tahun 2013 jadi titik balik struktural: perusahaan bertransformasi jadi strategic holding, berganti nama dari Semen Gresik jadi Semen Indonesia, dan memisahkan bisnis produksi semennya ke entitas baru PT Semen Gresik. Pada 2019, lewat Semen Indonesia Industri Bangunan, perusahaan mengakuisisi 80,64% saham Holcim Indonesia dan mengubah namanya jadi Solusi Bangun Indonesia, dengan merek produk berganti dari Holcim jadi Dynamix.

Rebranding besar terjadi pada 2020, saat nama dagang berubah dari Semen Indonesia jadi SIG untuk menegaskan posisi sebagai penyedia solusi bahan bangunan, bukan sekadar produsen semen. Taiheiyo Cement Corporation asal Jepang masuk sebagai mitra strategis pada 2021 dengan memegang 15,04% saham Solusi Bangun Indonesia. Pada 2022, Semen Baturaja resmi bergabung ke grup sebagai bagian dari konsolidasi BUMN sub klaster semen.

Peralihan kepemilikan terbaru terjadi Maret 2025, saat mayoritas saham negara dialihkan ke Biro Klasifikasi Indonesia yang kemudian berganti nama jadi Danantara Asset Management. Pada 6 Januari 2026, sebagai implementasi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang BUMN, sebanyak 34.570.229 lembar saham Seri B (0,51%) dialihkan dari Danantara Asset Management ke Badan Pengaturan BUMN dan dijadikan saham Seri A Dwiwarna. Porsi kepemilikan Danantara pun turun jadi 50,69%, meski total kepemilikan negara secara keseluruhan tidak berubah.

Pemegang saham dan manajemen

Berdasarkan data yang ada, Danantara Asset Management memegang 50,69% saham SMGR per Januari 2026, menjadikannya pemegang saham mayoritas. Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) memegang saham Seri A Dwiwarna hasil pengalihan 0,51% saham Seri B pada 6 Januari 2026. Direktur Utama SIG saat ini adalah Indrieffouny Indra, yang jadi juru bicara resmi dalam keterangan terkait rencana buyback saham akhir Oktober 2026. Detail susunan direksi dan komisaris lainnya belum ada di sumber yang kami cek.

Kinerja keuangan terbaru

Sumber yang kami cek tidak menyertakan angka pendapatan, laba bersih, atau pertumbuhan kinerja keuangan SMGR untuk periode tertentu. Untuk data laporan keuangan resmi dan terkini, sebaiknya cek langsung laporan tahunan atau laporan keuangan kuartalan SMGR di situs resmi idx.co.id atau laman investor relations SIG.

Dividen

Tidak ada informasi soal kebijakan atau riwayat pembagian dividen SMGR di sumber yang kami cek. Investor yang ingin melihat jejak dividen historis bisa mengeceknya lewat keterbukaan informasi perusahaan di idx.co.id.

Pergerakan harga saham SMGR

Per 30 Oktober 2026, SMGR diperdagangkan di Rp1.365 per lembar. Posisi ini jauh di bawah titik tengah rentang 52 minggu Rp1.265-Rp3.260, dan hanya sekitar 8% di atas titik terendah dalam setahun terakhir. Dibanding puncak Rp3.260, harga saat ini sudah terkoreksi hampir 58%.

Tren jangka pendek dan menengah masih negatif: turun 5,9% dalam sebulan terakhir dan 6,2% dalam tiga bulan terakhir. Secara tahunan, penurunannya jauh lebih dalam, mencapai 49,8%. Rata-rata volume transaksi harian dalam tiga bulan terakhir tercatat 22,30 juta lembar, menunjukkan saham ini masih cukup aktif diperdagangkan meski harganya tertekan.

Berita dan katalis terbaru

Katalis terbaru datang dari pengumuman manajemen SIG pada Kamis, 29 Oktober 2026, soal kajian rencana buyback saham SMGR. Direktur Utama Indrieffouny Indra menyatakan, lewat keterangan resmi yang dikutip Suara.com dan Pasardana.id, bahwa kajian ini merujuk pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 13 Tahun 2023 tentang pembelian kembali saham oleh emiten.

"Kajian atas rencana buyback saham dilakukan secara cermat untuk mendukung kinerja Perusahaan dan menjaga kepentingan pemegang saham. Di tengah dinamika pasar saham domestik, SIG menegaskan keyakinan dan kepercayaan Perusahaan atas fundamental kuat yang dimiliki," kata Indrieffouny Indra, seperti dikutip Suara.com.

Menurut analisis Feedberry pada tanggal yang sama, POJK 13/2023 memang dirancang sebagai jalur buyback tanpa persetujuan RUPS saat pasar berfluktuasi signifikan, sehingga pemicu kajian ini bukan cuma keyakinan internal manajemen, tapi juga penilaian bahwa kondisi pasar saat itu masuk kategori tertekan. Sejauh ini belum ada pagu dana, rentang harga, atau jadwal eksekusi yang diumumkan; statusnya masih sebatas kajian.

Konteks pasar saat pengumuman ini keluar juga ikut jadi faktor: IHSG ditutup di 5.098 setelah terkoreksi 3,19% pada 29 Oktober 2026, dengan kurs USD/IDR di 18.128, menurut data yang dikutip Feedberry. Sebelumnya, pada Senin 26 Oktober 2026, IHSG sudah melemah 1,22% disertai aksi jual asing senilai Rp2,03 triliun, dengan saham-saham besar seperti BMRI, TLKM, BBCA, BBRI, dan ANTM jadi incaran jual asing, menurut catatan BNI Sekuritas yang dikutip Liputan6.com.

Di tengah tekanan itu, Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman memasukkan SMGR sebagai salah satu trading idea pada 27 Oktober 2026, bersama ISAT, PTBA, TINS, AMRT, dan HMSP, dengan IHSG saat itu diperkirakan bergerak di support 5.300-5.350 dan resistance 5.400-5.450.

Apa artinya buat investor

Ada beberapa hal konkret dari posisi SMGR saat ini yang bisa dipantau, tanpa perlu buru-buru menyimpulkan arah harga ke depan.

Pertama, rencana buyback masih sebatas kajian. Sampai 29 Oktober 2026, SIG belum mengumumkan pagu dana, rentang harga, atau jadwal eksekusi. Detail semacam ini biasanya baru muncul lewat keterbukaan informasi resmi di situs BEI atau idx.co.id, jadi pengumuman lanjutan jadi hal pertama yang layak ditunggu sebelum menilai dampaknya.

Kedua, level Rp1.265 adalah titik terendah SMGR dalam 52 minggu terakhir, sementara Rp3.260 adalah titik tertingginya. Dua angka ini bisa dipakai sebagai acuan untuk melihat seberapa jauh harga saat ini, Rp1.365, bergerak dari kedua ekstrem tersebut.

Ketiga, sentimen pasar secara luas masih jadi faktor penekan. IHSG sempat terkoreksi 3,19% ke level 5.098 pada 29 Oktober 2026, sehari setelah asing tercatat net sell Rp2,03 triliun di saham-saham besar seperti BMRI, TLKM, BBCA, BBRI, dan ANTM. Pergerakan SMGR ke depan kemungkinan masih terpengaruh arah IHSG secara umum.

Keempat, karena sumber yang kami cek tidak menyertakan angka pendapatan atau laba terbaru, memeriksa laporan keuangan kuartal III 2026 di idx.co.id jadi langkah yang perlu dilakukan sebelum menilai apakah klaim manajemen soal "fundamental kuat" sejalan dengan angka riil di laporan.

Kelima, rata-rata volume transaksi harian tiga bulan tercatat 22,30 juta lembar. Kalau rencana buyback benar-benar terealisasi, perubahan pada volume dan likuiditas saham di pasar bisa jadi indikator awal bahwa eksekusi aksi korporasi ini sudah berjalan.

Pesaing di BEI

Beberapa emiten sejenis yang bisa jadi pembanding SMGR di BEI:

  • INTP (Indocement Tunggal Prakarsa) — produsen semen besar lain di Indonesia, berbeda dari SMGR karena bukan BUMN dan mayoritas sahamnya dikuasai grup produsen semen asing.
  • SMBR (Semen Baturaja) — meski sejak 2022 sudah jadi bagian dari grup SIG lewat konsolidasi BUMN sub klaster semen, sahamnya tetap tercatat terpisah di BEI.
  • WTON (Wijaya Karya Beton) — pesaing di segmen beton pracetak dan readymix, lini bisnis turunan yang juga digarap SIG lewat produk precast-nya.

Risiko

Beberapa risiko konkret yang perlu dipantau investor:

  • Siklus sektor semen dan properti: permintaan semen sangat terkait proyek infrastruktur dan sektor properti, yang bersifat siklikal dan sensitif terhadap kondisi ekonomi makro.
  • Ketergantungan pada belanja infrastruktur: sebagian besar permintaan semen domestik dipengaruhi proyek pemerintah dan swasta di bidang konstruksi, sehingga perlambatan belanja infrastruktur bisa berdampak langsung ke volume penjualan.
  • Tata kelola di bawah Danantara: SMGR berada dalam pengelolaan Danantara Asset Management dengan porsi kepemilikan 50,69%, sehingga arah kebijakan korporasi bisa dipengaruhi strategi holding BUMN yang lebih luas, termasuk soal struktur permodalan dan aksi korporasi seperti buyback.
  • Volatilitas harga saham: penurunan 49,8% dalam setahun dan rentang 52 minggu yang lebar (Rp1.265-Rp3.260) menunjukkan fluktuasi harga yang cukup tajam.
  • Likuiditas yang bisa berubah: rata-rata volume harian tiga bulan tercatat 22,30 juta lembar, tapi minat pasar bisa menyusut jika sentimen terhadap saham BUMN memburuk.
  • Klaim fundamental dari manajemen sendiri: pernyataan bahwa harga saham belum mencerminkan fundamental perusahaan datang langsung dari manajemen SIG, bukan dari penilaian analis independen, sehingga tetap perlu dicek silang dengan data keuangan resmi di idx.co.id.
  • Ketidakpastian pelaksanaan buyback: belum ada pagu dana, harga, atau jadwal resmi untuk rencana buyback, sehingga rencana ini masih bisa berubah atau batal.

Cara beli saham SMGR

Satu lot saham SMGR setara 100 lembar. Dengan harga terakhir Rp1.365 per lembar, nilai satu lot sekitar Rp136.500, belum termasuk biaya transaksi dari sekuritas. Untuk membeli saham ini, investor perlu membuka rekening efek lebih dulu di perusahaan sekuritas yang berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terdaftar sebagai anggota bursa di BEI.

FAQ

Apakah SMGR rutin membagikan dividen?

Dari sumber yang kami cek, belum ada data pembagian dividen SMGR. Sebaiknya cek riwayat dividen resmi di laporan keuangan atau keterbukaan informasi di idx.co.id sebelum mengambil keputusan.

Berapa harga 1 lot SMGR?

Berdasarkan harga terakhir Rp1.365 per lembar, 1 lot (100 lembar) saham SMGR bernilai sekitar Rp136.500, belum termasuk biaya transaksi dari sekuritas.

Apakah SMGR masuk indeks LQ45?

Status keanggotaan SMGR di LQ45 atau IDX30 belum ada di sumber yang kami cek. Informasi ini bisa dicek langsung di situs resmi BEI atau idx.co.id.

Apa bedanya SMGR dengan INTP?

SMGR adalah BUMN dengan merek dagang SIG yang menaungi Semen Gresik, Semen Padang, Semen Tonasa, dan Semen Baturaja, sementara INTP adalah Indocement Tunggal Prakarsa yang mayoritas sahamnya dikuasai grup semen asing. Keduanya sama-sama produsen semen besar di Indonesia tapi berbeda struktur pemilik dan merek produk.

Kenapa SIG mengkaji buyback saham SMGR?

Menurut keterangan Direktur Utama SIG Indrieffouny Indra pada 29 Oktober 2026, kajian buyback dilakukan karena manajemen menilai harga saham saat ini belum sepenuhnya mencerminkan fundamental perusahaan, dengan merujuk pada POJK No. 13/2023. Sejauh ini belum ada pagu dana, rentang harga, atau jadwal pelaksanaan yang diumumkan.

Siapa pemegang saham mayoritas SMGR?

Berdasarkan Wikipedia, Danantara Asset Management memegang 50,69% saham SMGR setelah pengalihan 0,51% saham Seri B ke Badan Pengaturan BUMN pada 6 Januari 2026, yang kemudian dijadikan saham Seri A Dwiwarna.

Artikel ini disusun sebagai informasi profil emiten, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham SMGR.

Sumber

  1. Yahoo Finance
  2. Wikipedia · SIG (perusahaan)
  3. suara.com · SMGR Kaji Rencana Buyback Saham, Dana Masih Rahasia
  4. feedberry.com · SIG Kaji Buyback SMGR — Valuasi Semen di Bawah Fundamental
  5. pasardana.id · Fundamental Kuat, SIG Kaji Rencana Buyback Saham SMGR
  6. liputan6.com · Rekomendasi Saham Analis 27 Oktober 2026: SMGR, ISAT, PTBA, TINS, HMSP, AMRT
  • #SMGR
  • #Semen Indonesia
  • #SIG
  • #BUMN
  • #saham BEI
  • #buyback saham
BagikanWhatsAppXTelegram

Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.

Mau trade kami ikut ke akun lu?Lihat dulu akunnya jalan di dashboard demo. Daftar gratis, member aktif setelah bayar.
Daftar gratis

Baca juga

  • Saham AKRA: Profil AKR Corporindo, Bisnis, Kinerja, dan RisikonyaProfil Saham · 29 Oktober 2026Saham AKRA: Profil AKR Corporindo, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
  • Saham MEDC: Profil Medco Energi, Bisnis, Kinerja, dan RisikonyaProfil Saham · 28 Oktober 2026Saham MEDC: Profil Medco Energi, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
  • Saham ITMG: Profil Indo Tambangraya Megah, Bisnis, Kinerja, dan RisikonyaProfil Saham · 27 Oktober 2026Saham ITMG: Profil Indo Tambangraya Megah, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
OPENTRADES

Intelligence in Every Trade.

AI-powered trading automation, built for disciplined execution.

ProdukTentang OpenTradesAkun liveRiwayat tradeChart gratisHargaOpenTrades NewsMembershipAffiliate
AkunMasukDaftar gratisSyarat & KetentuanWhatsApp

Trading futures berisiko tinggi dan bisa bikin modal habis. Semua angka di sini asli dari akun yang lagi jalan, bukan janji dan bukan ajakan beli atau jual aset apa pun. Pakai uang yang siap lu risikokan.

© 2026 OpenTrades · opentrades.app · Syarat & Ketentuan