Saham ITMG: Profil Indo Tambangraya Megah, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
ITMG, anak usaha Banpu dari Thailand, mencatat laba bersih sekitar US$106-110 juta di semester I 2026. Simak profil lengkap bisnis dan risikonya.
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan
ITMG itu kode saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk, perusahaan investasi yang mengendalikan sejumlah anak usaha tambang batu bara, perdagangan batu bara, dan pembangkit listrik di Indonesia. Perusahaan ini adalah bagian dari grup Banpu Pcl asal Thailand, dengan tambang utama tersebar di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Selain batu bara, ITM mulai merambah bisnis mineral dan energi terbarukan lewat pembangkit listrik tenaga surya hibrida.
Ringkasan saham ITMG
Per 27 Oktober 2026 (data Yahoo Finance):
| Keterangan | Detail |
|---|---|
| Kode | ITMG |
| Nama resmi | PT Indo Tambangraya Megah Tbk |
| Sektor/subsektor | Investasi dan pertambangan batu bara, berdasarkan uraian bisnis di sumber; label sektor resmi BEI belum ada di sumber yang kami cek |
| Tahun IPO | 2007 |
| Harga terakhir | Rp25.200 per lembar |
| Harga 1 lot | Rp2.520.000 |
| Rentang 52 minggu | Rp20.900 - Rp30.700 |
| Kinerja 1 bulan / 3 bulan / 1 tahun | -1,2% / +3,5% / +10,9% |
| Rata-rata volume harian (3 bulan) | 1,57 juta lembar |
| Indeks (LQ45/IDX30) | belum ada di sumber yang kami cek |
Bisnis ITM
ITM pada dasarnya adalah perusahaan induk investasi. Operasional riilnya dijalankan lewat anak-anak usaha yang memegang izin tambang, di antaranya PT Indominco Mandiri, PT Trubaindo Coal Mining, PT Jorong Barutama Greston, PT Kitadin, dan PT Bharinto Ekatama, yang tersebar di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. Menurut Wikipedia Indonesia, grup ini mengoperasikan enam tambang, lima pelabuhan, dan dua titik pemuatan batu bara, termasuk Balikpapan Coal Terminal, Pelabuhan Bontang, Pelabuhan Jorong, serta titik pemuatan di Muara Berau dan Muara Jawa.
Selain batu bara, ITM punya anak usaha di bidang pembangkit listrik seperti PT ITM Bhinneka Power dan PT ITM Energi Utama, dan belakangan mulai mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya hibrida sebagai bagian dari diversifikasi energi bersih. Langkah diversifikasi terbaru datang lewat pendirian PT ITM Mineral Investama (IMI) pada 7 Oktober 2026, anak usaha baru yang dibentuk bersama PT ITM Batubara Utama untuk menggarap bisnis mineral di luar batu bara.
Sejarah singkat dan IPO
PT Indo Tambangraya Megah didirikan pada 2 September 1987. Cikal bakal bisnisnya berasal dari Grup Salim lewat PT Kitadin, yang memegang konsesi tambang 930 hektare di Kalimantan Timur sejak 1986. Beberapa perusahaan tambang lain menyusul, seperti PT Indominco Mandiri (sejak 1997) dan PT Trubaindo Coal Mining (patungan Truba Grup dan Salim Grup), yang bersama membentuk kelompok bisnis bernama Indocoal.
Krisis keuangan mengubah peta kepemilikan. Sebagai bagian dari penyelesaian kewajiban BLBI ke Bank Central Asia, Grup Salim harus menyerahkan seluruh bisnis batu baranya ke BPPN. Lewat tender yang diikuti pesaing seperti PT Timah, PT Bukit Asam, dan PT Bhakti Investama Tbk, Banpu asal Thailand akhirnya memenangkan aset Indocoal lewat PT Centralink Wisesa International pada Maret 2001. Setelah itu, Banpu mengkonsolidasikan seluruh eks-Indocoal di bawah ITM, termasuk membeli sisa saham anak usaha yang masih dipegang perusahaan Salim lain, seperti 35% saham Indocement di PT Indominco Mandiri.
ITM resmi melantai di Bursa Efek Jakarta pada 18 Desember 2007 dengan melepas 20% saham ke publik pada harga penawaran perdana Rp14.000 per lembar, meraup dana Rp3,16 triliun. Pada 2008, saham Banpu di ITM dialihkan ke Banpu Minerals (Singapore) Pte. Ltd. dan sebagian dilepas lagi ke publik, sehingga porsi Banpu tersisa sekitar 65%. Pada 2010, ITM tercatat sebagai eksportir batu bara terbesar keempat di Indonesia. Sepanjang 2014 sampai 2020, perusahaan terus memperluas portofolio lewat pendirian dan akuisisi anak usaha baru, termasuk yang bergerak di pembangkit listrik tenaga surya. Pada 2021, pendapatan ITM tercatat US$1,3 miliar dengan laba US$271 juta.
Pemegang saham dan manajemen
Berdasarkan data kepemilikan yang tercatat, struktur pemegang saham ITMG adalah:
| Pemegang saham | Persentase |
|---|---|
| Banpu Minerals (Singapore) Pte. Ltd. | 65,14% |
| Saham treasuri | 2,953% |
| Publik | 31,9% |
Komisaris Utama dijabat Djisman Simandjuntak, didampingi dua Komisaris Independen yaitu Mahyudin Lubis dan Djoko Wintoro, serta komisaris lain dari pihak Banpu seperti Somruedee Chaimongkol, Somsak Sithinamsuwan, Fredi Chandra, Kirana Limpaphayom, dan Maneewan Vachiruckul. Direktur Utama ITMG dijabat Mulianto, dengan jajaran direksi lain yakni Chum Ramsiri, Parameth Prasan, Isara Pootrakul, Ignatius Wurwanto, Jusnan Ruslan, Yulius Kurniawan Gozali, Stephanus Demo Wawin, dan Junius Prakarsa Darmawan. Sekretaris Perusahaan ITMG saat ini adalah Monika I Krisnamurti, yang beberapa kali menjadi juru bicara perusahaan dalam keterbukaan informasi ke BEI.
Kinerja keuangan terbaru
Untuk semester I 2026, ITMG membukukan pendapatan sekitar US$1 miliar, tumbuh 9% secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang kenaikan volume penjualan 5% menjadi 12,3 juta ton dari 11,7 juta ton pada semester I 2025, serta kenaikan harga jual rata-rata (ASP) dari US$78 per ton menjadi US$81 per ton.
Untuk laba bersih, ada sedikit perbedaan angka antar media. Kontan dan Mikirduit mencatat laba bersih yang diatribusikan ke pemegang saham sekitar US$106 juta, tumbuh 16-17% secara tahunan. Liputan6 di sisi lain menyebut laba bersih periode berjalan sebesar US$110 juta untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026. Perbedaan ini kemungkinan soal basis perhitungan, antara laba diatribusikan ke pemegang saham dan laba bersih konsolidasian, jadi untuk angka pasti sebaiknya cek laporan keuangan resmi di idx.co.id.
Dari sisi produksi, volume pada kuartal II 2026 naik 13% secara kuartalan menjadi 5,3 juta ton, sehingga total produksi semester I 2026 tercatat 9,9 juta ton, masih 5% lebih rendah dibanding 10,4 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. Di sisi biaya, beban pokok pendapatan naik 7% akibat strip ratio yang lebih tinggi dan kenaikan harga bahan bakar. Beban penjualan naik dari US$81 juta menjadi US$88 juta, beban umum dan administrasi US$26 juta, sehingga total beban operasional mencapai US$114 juta. Pendapatan keuangan turun tipis menjadi US$18 juta dari US$21 juta, sementara beban keuangan justru turun 32% menjadi US$4 juta dari US$6 juta.
Pemerintah sudah menyetujui revisi RKAB 2026 ITMG dengan kuota produksi grup sekitar 23 juta ton, sedikit di atas target awal perusahaan 22-22,9 juta ton. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan kepada Kontan pada 22 September 2026 bahwa tantangan ITMG kini bukan lagi soal ketersediaan kuota, melainkan kemampuan mengeksekusi produksi dan mengonversinya jadi volume penjualan di sisa tahun.
Dividen
Data kebijakan dividen, jadwal cum date, atau besaran dividen per saham ITMG tidak ditemukan di sumber yang kami cek untuk profil ini. Pembaca yang membutuhkan riwayat dan rencana pembagian dividen sebaiknya mengecek keterbukaan informasi dan laporan tahunan resmi ITMG di idx.co.id.
Pergerakan harga saham ITMG
Per 27 Oktober 2026, ITMG diperdagangkan di Rp25.200 per lembar. Posisi ini sedikit di bawah titik tengah rentang 52 minggu Rp20.900-Rp30.700, lebih dekat ke area bawah dibanding puncak tahunan Rp30.700, tapi masih jauh di atas titik terendah 52 minggu.
Dalam sebulan terakhir, saham ITMG melemah tipis 1,2%, tapi masih mencatat kenaikan 3,5% dalam tiga bulan dan 10,9% dalam setahun terakhir. Rata-rata volume transaksi harian tiga bulan terakhir tercatat 1,57 juta lembar, menandakan saham ini masih cukup aktif diperdagangkan di pasar reguler.
Sebagai konteks, pada penutupan Kamis 15 Oktober 2026, sehari sebelum pengumuman pendirian anak usaha baru, harga ITMG tercatat Rp25.300, melemah 0,59%, dengan rentang intraday Rp24.975-Rp25.425, frekuensi transaksi 2.551 kali, volume 21.852 saham, dan nilai transaksi Rp56,1 miliar, menurut data RTI yang dikutip Liputan6.
Berita dan katalis terbaru
Beberapa perkembangan yang relevan dipantau investor ITMG dalam beberapa bulan terakhir:
- 7-16 Oktober 2026: ITMG dan anak usahanya PT ITM Batubara Utama (IBU) mendirikan PT ITM Mineral Investama (IMI) pada 7 Oktober 2026, diumumkan lewat keterbukaan informasi BEI pada 16 Oktober 2026. Sekretaris Perusahaan Monika I Krisnamurti menyatakan, "IMI akan mendukung ekspansi portofolio bisnis mineral perseroan secara terpadu." Transaksi ini dikategorikan sebagai transaksi afiliasi karena IBU adalah perusahaan terkendali yang sahamnya dimiliki ITMG sekurang-kurangnya 99% dari modal disetor, sehingga tidak memerlukan persetujuan RUPS.
- 22 September 2026: Kontan melaporkan revisi RKAB ITMG 2026 disetujui pemerintah dengan kuota sekitar 23 juta ton, sedikit di atas target perusahaan. Analis UBS Sekuritas, Timothy Handerson, menurunkan proyeksi CAGR volume produksi 2025-2028 ITMG menjadi 2% dari sebelumnya 6%, karena menilai visibilitas persetujuan kuota tambahan 2027/2028 masih rendah dan pemerintah lebih mengutamakan optimalisasi penerimaan negara lewat harga komoditas tinggi.
- 24 September 2026: Mikirduit mencatat harga batu bara sempat menembus US$150 per ton sepanjang kuartal III 2026, dan menyoroti risiko operasional dari surutnya Sungai Mahakam yang memaksa pengurangan muatan tongkang dari area Melak sekitar 30-40%, dari sekitar 7.000 ton menjadi 3.500-4.000 ton per tongkang, berpotensi menaikkan biaya angkut per ton sekitar 30-40%.
- 12 Agustus 2026: ITMG merilis kinerja semester I 2026 lewat keterangan tertulis perusahaan, menunjukkan pendapatan tumbuh 9% YoY dan laba bersih tumbuh double digit, ditopang kenaikan ASP dan volume penjualan.
Pesaing di BEI
Beberapa emiten batu bara dan energi sejenis yang sering dibandingkan dengan ITMG di BEI:
- BYAN (Bayan Resources): produsen batu bara besar yang dikenal dengan produk kalori tinggi, juga mendapat tambahan kuota RKAB di periode yang sama dengan ITMG.
- ADRO (Adaro Energy Indonesia): grup energi terintegrasi dengan diversifikasi lebih luas ke aluminium dan energi hijau, berbeda dari ITM yang baru mulai merambah mineral lewat IMI.
- PTBA (Bukit Asam): produsen batu bara pelat merah dengan konsesi utama di Sumatra Selatan, berbeda basis wilayah tambang dari ITM yang terpusat di Kalimantan.
UNTR (United Tractors) juga relevan disebut karena anak usahanya, PT Pamapersada Nusantara (PAMA), berperan sebagai kontraktor tambang penting di konsesi PT Indominco Mandiri milik ITM, mulai dari pengupasan lapisan tanah penutup, penambangan batu bara, hingga pengangkutan ke pelabuhan.
Risiko
- Harga komoditas: pendapatan ITMG sangat bergantung pada harga batu bara global dan Harga Batubara Acuan (HBA). ASP yang naik dari US$78 ke US$81 per ton di semester I 2026 menunjukkan betapa sensitifnya pendapatan terhadap pergerakan harga pasar.
- Regulasi kuota produksi: kuota produksi tahunan diatur lewat RKAB yang disetujui pemerintah. Analis UBS menyoroti rendahnya visibilitas persetujuan kuota tambahan untuk 2027-2028, dengan pemerintah cenderung memprioritaskan penerimaan negara lewat harga tinggi ketimbang volume besar.
- Konsentrasi bisnis: meski mulai diversifikasi lewat IMI dan pembangkit listrik tenaga surya, sebagian besar pendapatan ITM masih bertumpu pada satu komoditas, yaitu batu bara, dan pasar ekspor.
- Risiko operasional dan logistik: surutnya Sungai Mahakam memaksa pengurangan muatan tongkang dari area Melak hingga 30-40%, yang berpotensi menaikkan biaya angkut per ton dalam proporsi serupa, meski dampak ke total biaya perusahaan sejauh ini masih terbatas karena hanya memengaruhi sebagian tambang.
- Ketergantungan pada kontraktor pihak ketiga: PAMA, anak usaha UNTR, memegang peran vital di tambang Indominco Mandiri, mulai dari pengupasan tanah hingga pengangkutan batu bara. Ketergantungan pada satu kontraktor besar ini menjadi faktor yang perlu dicermati dalam struktur biaya ITM.
- Risiko nilai tukar dan biaya input: pelemahan rupiah secara teori mendukung pendapatan ITM yang berbasis dolar AS dari ekspor, tapi kenaikan harga bahan bakar dan biaya penambangan yang mengikuti harga minyak dunia bisa menggerus margin.
- Transisi energi global: dorongan dunia menuju energi bersih berpotensi menekan permintaan batu bara jangka panjang, meski ITM sudah mulai merespons lewat ekspansi ke mineral dan pembangkit listrik tenaga surya hibrida.
Apa artinya buat investor
Harga ITMG saat ini di Rp25.200, berada di bawah titik tengah rentang 52 minggu Rp20.900-Rp30.700. Investor yang memantau saham ini bisa membandingkan harga berjalan dengan dua ujung rentang tersebut untuk melihat posisi relatifnya terhadap pergerakan setahun terakhir, tanpa perlu menyimpulkan arah ke depan.
Beberapa hal konkret yang bisa dipantau ke depan:
- Realisasi produksi dan penjualan semester II 2026: produksi semester I masih turun 5% YoY meski kuota RKAB sudah naik jadi 23 juta ton. Laporan produksi kuartal III dan IV akan menunjukkan apakah ITMG bisa mengejar target 22-22,9 juta ton yang dipatok perusahaan.
- Pergerakan ASP dan HBA: ASP ITMG naik dari US$78 ke US$81 per ton di semester I 2026. Perubahan harga acuan batu bara ke depan akan langsung terasa di margin perusahaan, mengingat harga batu bara sempat menembus US$150 per ton pada kuartal III 2026.
- Perkembangan PT ITM Mineral Investama (IMI): anak usaha baru ini baru berdiri 7 Oktober 2026. Keterbukaan informasi BEI berikutnya bisa memberi gambaran lebih jelas soal aset dan rencana bisnis mineral yang digarap.
- Kondisi Sungai Mahakam: surutnya sungai sempat memangkas muatan tongkang di area Melak hingga 30-40%. Kalau musim kemarau berkepanjangan, biaya logistik berpotensi naik lagi.
- Laporan keuangan resmi: ada selisih angka laba bersih semester I 2026 antar media (US$106 juta versus US$110 juta). Untuk kepastian angka kuartal III dan laporan tahunan 2026, cek publikasi resmi ITMG di idx.co.id.
Cara beli saham ITMG
Untuk membeli saham ITMG, investor perlu membuka rekening efek di perusahaan sekuritas yang berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terdaftar sebagai anggota Bursa Efek Indonesia. Setelah rekening aktif dan dana disetor, order beli bisa dipasang lewat aplikasi trading sekuritas dengan satuan minimal 1 lot atau 100 lembar saham. Per 27 Oktober 2026, harga 1 lot ITMG setara Rp2.520.000 mengikuti harga terakhir Rp25.200 per lembar, dan nilai ini akan berubah mengikuti pergerakan harga di pasar.
FAQ
Apakah ITMG rutin membagikan dividen?
Data kebijakan dan jadwal dividen ITMG tidak ditemukan di sumber yang kami cek untuk profil ini. Sebaiknya cek keterbukaan informasi dan laporan tahunan resmi di idx.co.id sebelum mengambil keputusan terkait dividen.
Berapa harga 1 lot saham ITMG?
Per 27 Oktober 2026, harga ITMG di Rp25.200 per lembar, sehingga 1 lot (100 lembar) senilai Rp2.520.000.
Apakah ITMG masuk indeks LQ45?
Status keanggotaan ITMG di LQ45 atau IDX30 belum ada di sumber yang kami cek. Pembaca bisa mengecek daftar konstituen indeks terbaru langsung di situs BEI.
Apa bedanya ITMG dengan BYAN (Bayan Resources)?
Keduanya sama-sama produsen batu bara besar di Indonesia, tapi ITMG merupakan anak usaha Banpu Pcl dari Thailand dengan portofolio tambang di Kalimantan Timur dan Selatan, sementara BYAN dikenal dengan produk batu bara kalori tinggi. Perbandingan kinerja keuangan detail keduanya tidak dibahas di sumber ini.
Siapa pemegang saham pengendali ITMG?
Banpu Minerals (Singapore) Pte. Ltd. menguasai 65,14% saham ITMG, menjadikan ITMG bagian dari grup Banpu asal Thailand.
Apa itu PT ITM Mineral Investama yang baru didirikan ITMG?
PT ITM Mineral Investama (IMI) adalah anak usaha baru yang didirikan ITMG bersama PT ITM Batubara Utama pada 7 Oktober 2026 untuk mendukung ekspansi portofolio bisnis mineral perseroan.
Artikel ini merupakan informasi untuk membantu riset, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham ITMG.
Sumber
- Yahoo Finance
- Wikipedia · Indo Tambangraya Megah
- supernews.co.id · Home › Investasi › Langkah Berani ITMG: Dirikan ITM Mineral Investama untuk Garap Bisnis Mineral ITMG Dirikan Anak Usaha Baru Dukung Ekspansi Portofolio Bisnis Mineral
- liputan6.com · ITMG Bangun Anak Usaha Baru di Bisnis Mineral
- mikirduit.com · Adu Prospek Kinerja ITMG, BYAN, dan UNTR yang Dapat Tambahan Kuota RKAB di Akhir 2026
- investasi.kontan.co.id · Indo Tambangraya (ITMG) Bakal Pulihkan Produksi, Cek Rekomendasi Sahamnya
Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.