Saham AKRA: Profil AKR Corporindo, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
Laba bersih AKRA naik 32,4% jadi Rp2,44 triliun hingga September 2026, tapi margin menipis. Simak profil bisnis, dividen, dan risikonya.
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan
AKRA adalah kode saham PT AKR Corporindo Tbk di Bursa Efek Indonesia, perusahaan yang bergerak di perdagangan dan distribusi bahan bakar minyak (BBM) serta bahan kimia dasar. Selain bisnis intinya, perusahaan ini juga mengembangkan kawasan industri terintegrasi pelabuhan JIIPE di Gresik, Jawa Timur. Sampai akhir 2024, AKR Corporindo memiliki 13 kantor cabang dan 20 fasilitas penyimpanan yang tersebar di Indonesia, menurut Wikipedia.
Ringkasan saham AKRA
Per 29 Oktober 2026:
| Item | Keterangan |
|---|---|
| Kode | AKRA |
| Nama resmi | PT AKR Corporindo Tbk |
| Sektor/subsektor | Energi, perdagangan dan distribusi BBM serta bahan kimia; klasifikasi resmi BEI belum ada di sumber yang kami cek |
| Tahun IPO | 1994 |
| Harga terakhir | Rp1.405 per lembar |
| Harga 1 lot | Rp140.500 (100 lembar) |
| Rentang 52 minggu | Rp1.100 - Rp1.595 |
| Kinerja 1 bulan | -2,1% |
| Kinerja 3 bulan | -4,1% |
| Kinerja 1 tahun | +15,2% |
| Indeks | LQ45 (disebut dalam pemberitaan Kontan) |
Bisnis AKR Corporindo
Bisnis inti AKR Corporindo adalah perdagangan dan distribusi BBM non-subsidi dan bersubsidi, lewat jaringan SPBU termasuk kemitraan dengan BP (PT Aneka Petroindo Raya) dan distribusi avtur bersama BP (PT Dirgantara Petroindo Raya). Segmen ini masih jadi mesin pendapatan utama, menyumbang 90,5% dari pendapatan segmen dan 69,3% dari laba segmen per 9M26, menurut riset Mikirduit, meski marginnya relatif tipis di angka 5,74%.
Di luar BBM, perusahaan mengoperasikan kawasan industri JIIPE bersama Pelindo III, yang mengintegrasikan kawasan industri dengan pelabuhan laut dalam. Segmen ini justru mencatat margin laba tertinggi di antara semua lini usaha, yakni 30,83%, diikuti segmen logistik 20,32% dan pabrikan 16,68%. Bisnis lain mencakup terminal tangki BBM lewat PT Jakarta Tank Terminal bersama Vopak, distribusi bahan kimia lewat kerja sama dengan Petronas Chemicals Group, distribusi pelumas Castrol, serta rintisan bisnis energi terbarukan lewat PT Berkah Renewable Energi Nusantara yang didirikan pada 2024.
Sejarah singkat dan IPO
AKR Corporindo berakar dari bisnis perdagangan bahan kimia dasar yang dimulai di Surabaya pada 1960. Bisnis ini resmi berbadan hukum sebagai PT Aneka Kimia Raya (AKR) pada 28 November 1977, sebelum memindahkan kantor pusat ke Jakarta. Perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 3 Oktober 1994.
Nama perusahaan berubah menjadi AKR Corporindo pada September 2004 seiring ekspansi bisnis di luar kimia. Pada 2005, AKR menjadi perusahaan swasta nasional pertama yang mendistribusikan BBM non-subsidi, lalu pada 2010 menjadi yang pertama mendistribusikan BBM bersubsidi lewat SPBU dan SPBN. Pada 2018, AKR ditetapkan sebagai Badan Usaha Pelaksana Penyediaan dan Pendistribusian Jenis BBM Tertentu (P3JBT) untuk periode lima tahun. Proyek JIIPE sendiri mulai dikembangkan sejak 2013 dan sempat menyerahkan lahan 103 hektare kepada Freeport Indonesia untuk lokasi smelter pada 2019.
Pemegang saham dan manajemen
Sumber yang kami cek belum memuat rincian komposisi pemegang saham mayoritas AKRA. Yang tersedia adalah transaksi jual saham oleh dua direktur pada September 2026. Direktur Bambang Soetino melepas 999.200 saham dalam tiga transaksi pada 7-8 September 2026 di kisaran harga Rp1.445-Rp1.480 per saham, dalam rangka divestasi. Setelah transaksi tersebut kepemilikannya turun dari 11.039.200 saham (0,055%) menjadi 10.030.000 saham (0,05%).
Direktur Nery Polim juga melepas saham pada tanggal yang sama, yakni 250.000 saham di harga Rp1.540 dan 300.000 saham di harga Rp1.530. Sementara itu, Corporate Secretary & Head of Legal Division AKR Corporindo, Arum Pawestri, menjadi juru bicara perusahaan soal kebijakan dividen dalam acara public expose awal September 2026. Untuk struktur pemegang saham utama dan susunan direksi lengkap, pengecekan langsung ke keterbukaan informasi resmi di idx.co.id tetap disarankan.
Kinerja keuangan terbaru
Hingga September 2026 (9M26), AKR Corporindo membukukan pendapatan Rp46,53 triliun, naik 43,6% dibanding periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp32,39 triliun, menurut laporan keuangan yang dikutip Liputan6. Laba bruto naik 30,5% menjadi Rp3,61 triliun, sementara laba usaha tumbuh 31,8% menjadi Rp2,70 triliun.
Laba bersih periode berjalan naik 32,4% menjadi Rp2,44 triliun, dan laba yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk naik 32,4% menjadi Rp2,26 triliun. Laba per saham ikut terkerek dari Rp83,50 pada 9M25 menjadi Rp111,83 pada 9M26.
Meski pendapatan dan laba tumbuh dua digit, beban pokok penjualan naik lebih cepat yakni 44,9% menjadi Rp42,92 triliun, sehingga margin bruto tergerus dari 8,54% menjadi 7,76% dan margin laba usaha turun dari 6,44% menjadi 5,82%, menurut analisis Mikirduit. Dari sisi neraca per 30 September 2026, total aset AKRA mencapai Rp38,63 triliun (naik dari Rp36,56 triliun di Desember 2025), ekuitas Rp16,24 triliun (dari Rp15,60 triliun), dan liabilitas Rp22,38 triliun (dari Rp20,95 triliun). Posisi kas dan setara kas justru turun menjadi Rp5,97 triliun dari Rp6,40 triliun pada akhir 2025.
Dalam earnings call 26 Oktober 2026 yang diringkas Stockbit, manajemen optimistis volume penjualan BBM pada kuartal IV 2026 akan ditopang pola musiman klien pertambangan yang mengejar kuota produksi RKAB akhir tahun, didorong harga batu bara tinggi yang mendorong penambang membuka pit baru. Konsensus analis memproyeksikan laba bersih 2026 penuh sebesar Rp2,78 triliun, yang menurut Stockbit hanya membutuhkan laba bersih kuartal IV sebesar Rp571 miliar, di bawah realisasi kuartal III sebesar Rp780 miliar. Stockbit sendiri memperkirakan laba bersih kuartal IV bisa mencapai Rp660-780 miliar, sehingga laba bersih setahun penuh berpotensi melampaui konsensus dengan pertumbuhan tahunan di kisaran 16-21%.
Untuk rincian laporan keuangan audited, investor tetap disarankan mengecek dokumen resmi di idx.co.id.
Dividen
AKR Corporindo punya kebijakan dividen minimal 30% dari laba bersih, berlaku jika laba bersih tahun berjalan melebihi Rp50 miliar. Hal ini disampaikan Corporate Secretary Arum Pawestri dalam public expose 8 September 2026, seperti dikutip Kontan.
Perusahaan sudah membagikan dividen interim Rp50 per saham pada Agustus 2026. Dividen final tahun buku 2025 tercatat Rp50 per saham. Menurut riset Stockbit yang dirilis 27 Oktober 2026, manajemen mengindikasikan dividen final tahun buku 2026 kemungkinan besar lebih tinggi dari Rp50 per saham tahun sebelumnya, meski manajemen disebut menjadi lebih konservatif karena ada peluang investasi baru yang belum dianggarkan di awal tahun dan berpotensi diumumkan sebelum akhir 2026.
Dengan asumsi pertumbuhan laba bersih 2026 sebesar 20% secara tahunan dan rasio pembayaran dividen di kisaran 70-80% (dibandingkan DPR 2025 sekitar 80%), Stockbit memperkirakan dividen final AKRA 2026 bisa berada di kisaran Rp54-68 per saham di luar dividen interim. Estimasi ini mengimplikasikan dividend yield sekitar 3,8-4,9% pada harga acuan Rp1.400 per saham. Perlu diingat, ini proyeksi analis, bukan angka final yang sudah diputuskan RUPS.
Pergerakan harga saham AKRA
Per 29 Oktober 2026, AKRA diperdagangkan di Rp1.405 per lembar, berada di sekitar 62% dari rentang 52 minggunya yang membentang dari Rp1.100 hingga Rp1.595. Posisi ini jauh dari level terendah setahun terakhir tapi juga belum mendekati level tertinggi.
Dalam sebulan terakhir harga AKRA turun 2,1%, dan dalam tiga bulan terakhir turun 4,1%. Namun dalam setahun terakhir harga saham ini masih naik 15,2%, menunjukkan tren jangka panjang yang masih positif meski ada koreksi jangka pendek. Rata-rata volume transaksi harian dalam tiga bulan terakhir tercatat 20,94 juta lembar saham.
Salah satu lonjakan harga yang tercatat dalam sumber terjadi pada 8 September 2026, ketika saham AKRA ditutup di Rp1.525, naik 5,17% dalam sehari, didorong sentimen bocoran rencana dividen jumbo dari manajemen. Kenaikan itu melanjutkan tren kenaikan sebulan sebelumnya yang terakumulasi 8,54%, menurut Kontan. Mikirduit juga mencatat AKRA sempat mengalami gap down akibat sentimen rencana penurunan status pasar Indonesia oleh MSCI menjadi Standalone, namun saham ini disebut sudah berhasil menutup gap tersebut.
Berita dan katalis terbaru
- 26 Oktober 2026 (Liputan6, mengutip keterbukaan informasi BEI): AKRA melaporkan pendapatan Rp46,53 triliun dan laba bersih Rp2,44 triliun untuk periode 9M26, tumbuh masing-masing 43,6% dan 32,4% secara tahunan.
- 26-27 Oktober 2026 (Mikirduit dan Stockbit): analis menyoroti margin bruto dan margin usaha AKRA yang menipis meski laba tumbuh dua digit, serta peluang dari rencana ekspansi LNG dan kinerja kawasan industri JIIPE.
- 27 Oktober 2026 (Stockbit): earnings call manajemen menyampaikan ekspektasi musiman penjualan BBM kuartal IV, guidance penjualan lahan JIIPE yang tidak dinaikkan meski realisasi 9M26 sudah di 93 hektare dari target 90-100 hektare, serta sinyal dividen final 2026 yang berpotensi lebih tinggi dari Rp50 per saham tahun lalu.
- 9 September 2026 (Kontan): bocoran rencana dividen jumbo dari manajemen mendorong harga saham AKRA melonjak 5,17% dalam sehari ke Rp1.525.
- 7-8 September 2026 (Liputan6, mengutip keterbukaan informasi BEI): dua direktur AKRA, Bambang Soetino dan Nery Polim, melepas sebagian kepemilikan saham mereka dalam rangka divestasi.
- Harga minyak mentah Brent sempat menguat ke sekitar US$114 per barel, tertinggi dalam lima bulan terakhir, bersamaan dengan gangguan pasokan BBM di sejumlah daerah, menurut Mikirduit. Kondisi ini berpotensi menambah nilai penjualan BBM industri AKRA, meski dampaknya terhadap laba tidak otomatis positif karena bergantung pada biaya pengadaan dan kemampuan menyesuaikan harga jual.
Apa artinya buat investor
Beberapa hal konkret yang bisa dipantau sebelum menilai saham AKRA lebih lanjut:
- Rilis kinerja kuartal IV 2026: konsensus analis menaruh ekspektasi laba bersih setahun penuh di Rp2,78 triliun, yang menurut Stockbit hanya membutuhkan laba bersih Rp571 miliar pada kuartal IV, jauh di bawah realisasi kuartal III sebesar Rp780 miliar. Realisasi aktual bisa dibandingkan dengan estimasi ini saat laporan keuangan tahunan terbit.
- Pengumuman dividen final: manajemen mengindikasikan dividen final tahun buku 2026 berpotensi lebih tinggi dari Rp50 per saham tahun sebelumnya, tapi besaran dan jadwal pastinya baru final setelah disetujui RUPS. Keterbukaan informasi BEI jadi sumber paling akurat untuk memantau ini.
- Realisasi penjualan lahan JIIPE: target manajemen di 90-100 hektare untuk 2026 sudah hampir tercapai di 93 hektare pada 9M26. Tambahan penjualan 3-5 hektare pada kuartal IV bisa jadi indikator apakah bisnis kawasan industri ini terus jadi sumber pendapatan baru yang berkembang.
- Harga minyak Brent dan pasokan BBM domestik: pergerakan Brent yang sempat menyentuh US$114 per barel serta gangguan pasokan BBM di beberapa daerah bisa memengaruhi volume dan margin penjualan BBM AKRA pada kuartal-kuartal mendatang.
- Posisi harga terhadap rentang 52 minggu: harga AKRA saat ini di Rp1.405 berada di antara level terendah Rp1.100 dan tertinggi Rp1.595 dalam setahun terakhir. Pergerakan mendekati salah satu ujung rentang ini biasa jadi acuan teknikal, tanpa menjamin arah pergerakan ke depan.
- Aktivitas insider dan sentimen indeks global: penjualan saham oleh dua direktur pada September 2026 dan sensitivitas saham ini terhadap keputusan indeks global seperti status MSCI bisa memengaruhi likuiditas dan volatilitas harga dalam jangka pendek.
Pesaing di BEI
Beberapa emiten BEI yang beririsan dengan sebagian lini bisnis AKRA:
- PGAS (Perusahaan Gas Negara): fokus pada distribusi dan transmisi gas bumi, berbeda dari AKRA yang lebih besar di distribusi BBM cair dan kimia.
- DMAS (Puradelta Lestari): pengembang kawasan industri murni, sebanding dengan segmen JIIPE milik AKRA, tapi tanpa bisnis distribusi energi.
- ELSA (Elnusa): bergerak di jasa penunjang hulu migas dan logistik energi, beririsan dengan sisi logistik AKRA meski model bisnisnya berbeda.
Risiko
- Konsentrasi pendapatan: segmen perdagangan dan distribusi BBM menyumbang 90,5% dari pendapatan segmen, dengan margin tipis 5,74%, sehingga profitabilitas perusahaan sangat bergantung pada volume penjualan dan efisiensi biaya pengadaan.
- Margin yang menipis: margin bruto turun dari 8,54% menjadi 7,76% dan margin usaha dari 6,44% menjadi 5,82% secara tahunan di 9M26, menandakan tekanan biaya pokok penjualan yang naik lebih cepat dari pendapatan.
- Sensitivitas harga minyak: kenaikan harga Brent ke US$114 per barel bisa menaikkan nilai penjualan, tapi juga menaikkan kebutuhan modal kerja dan biaya pengadaan, sehingga dampaknya terhadap laba tidak linear.
- Ketergantungan pada proyek JIIPE: guidance penjualan lahan dan pendapatan utilitas JIIPE 2026 tidak dinaikkan manajemen meski realisasi 9M26 sudah mendekati batas atas target, menandakan sikap konservatif atau potensi perlambatan permintaan tenant industri baru.
- Kebijakan dividen bisa berubah: manajemen menyebut dividen final 2026 berpotensi tertahan karena ada peluang investasi baru yang belum dianggarkan, sehingga payout ratio aktual bisa berbeda dari estimasi analis.
- Aktivitas jual saham insider: dua direktur melepas saham pada September 2026, meski disebut untuk tujuan divestasi pribadi dan bukan indikasi langsung soal prospek bisnis.
- Risiko regulasi: status AKRA sebagai salah satu penyalur BBM bersubsidi tertentu (P3JBT) bergantung pada penunjukan pemerintah yang berlaku untuk periode tertentu, sehingga ada risiko perubahan kebijakan distribusi BBM bersubsidi ke depan.
- Risiko sentimen pasar makro: rencana penurunan status pasar saham Indonesia oleh MSCI menjadi Standalone sempat memicu gap down pada saham ini, menunjukkan kerentanan terhadap aliran dana asing dan sentimen indeks global.
Cara beli saham AKRA
Satu lot saham AKRA setara 100 lembar. Dengan harga Rp1.405 per lembar per 29 Oktober 2026, nilai satu lot sekitar Rp140.500 di luar biaya transaksi dari sekuritas.
Untuk membeli saham AKRA, investor perlu membuka rekening efek di perusahaan sekuritas yang berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terdaftar sebagai anggota bursa di BEI. Setelah rekening aktif dan dana disetor, pembelian bisa dilakukan lewat aplikasi trading saham dengan memasukkan kode AKRA pada sistem order.
FAQ
Apakah AKRA rutin membagikan dividen?
Ya. AKR Corporindo punya kebijakan dividen minimal 30% dari laba bersih bila laba bersih tahun berjalan di atas Rp50 miliar. Perusahaan membagikan dividen interim Rp50 per saham pada Agustus 2026, dan dividen final tahun buku 2025 tercatat Rp50 per saham.
Berapa harga 1 lot saham AKRA?
Per 29 Oktober 2026, harga AKRA Rp1.405 per lembar, sehingga 1 lot (100 lembar) senilai sekitar Rp140.500, belum termasuk biaya transaksi dari sekuritas.
Apakah AKRA masuk indeks LQ45?
Berdasarkan pemberitaan Kontan, AKRA disebut sebagai salah satu anggota indeks LQ45 di Bursa Efek Indonesia.
Kenapa margin laba AKRA menipis meski pendapatan naik 43,6% di 9M26?
Kenaikan beban pokok penjualan sebesar 44,9% lebih cepat dari kenaikan pendapatan, sehingga margin bruto turun dari 8,54% menjadi 7,76% secara tahunan.
Apa beda AKRA dengan PGAS atau DMAS?
AKRA fokus pada perdagangan dan distribusi BBM plus kawasan industri JIIPE, PGAS fokus distribusi gas bumi, sedangkan DMAS murni pengembang kawasan industri tanpa bisnis distribusi energi.
Apakah ada direksi AKRA yang menjual saham belakangan ini?
Ya, menurut keterbukaan informasi BEI yang dikutip Liputan6, Direktur Bambang Soetino dan Direktur Nery Polim melepas sebagian saham AKRA pada 7-8 September 2026 dalam rangka divestasi pribadi.
Artikel ini bersifat informasi untuk membantu riset investor, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham AKRA.
Sumber
- Yahoo Finance
- Wikipedia · AKR Corporindo
- mikirduit.com · Review Kinerja AKRA September 2026
- liputan6.com · Emiten AKRA Raup Pendapatan Rp 46,53 Triliun
- investasi.kontan.co.id · Diberi Bocoran Dividen Jumbo, Harga Saham LQ45 Ini Melonjak 5% Sehari
- snips.stockbit.com · AKRA 9M26 Earnings Call Takeaway: Target Pertumbuhan Laba +20% YoY pada 2026 Realistis, Ditopang Seasonality Segmen Perdagangan & Distribusi / October 27, 2026 by Stockbit ...
Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.