OpenTrades
TentangAUMSimulasiCara ikutChartHargaNewsFAQ
  IDEN English versionMasukDaftar gratis
TentangAUMSimulasiCara ikutChartHargaNewsFAQ
Mata uang  
MasukDaftar gratis
NewsProfil Saham

Saham PTBA: Profil Bukit Asam, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya

PTBA naik 37,2% dalam setahun ke Rp3.210, ditopang lonjakan laba bersih H1 2026 dan sentimen revisi harga DMO batu bara.

TTim Queenby26 Oktober 2026 · 11 menit baca

Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan

Saham PTBA: Profil Bukit Asam, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
Di artikel ini
  1. Ringkasan saham PTBA
  2. Bisnis Bukit Asam
  3. Sejarah singkat dan IPO
  4. Pemegang saham dan manajemen
  5. Kinerja keuangan terbaru
  6. Dividen
  7. Pergerakan harga saham PTBA
  8. Berita dan katalis terbaru
  9. Pesaing di BEI
  10. Risiko
  11. Apa artinya buat investor
  12. Cara beli saham PTBA
  13. FAQ
  14. Apakah PTBA rutin membagikan dividen?
  15. Berapa harga 1 lot saham PTBA?
  16. Apakah PTBA masuk indeks LQ45?
  17. Apa beda PTBA dengan ADRO dan ITMG?
  18. Kenapa saham PTBA sempat melonjak 7% lebih pada 3 September 2026?

PTBA adalah kode saham PT Bukit Asam (Persero) Tbk, perusahaan tambang batu bara milik negara yang jadi bagian dari holding BUMN pertambangan MIND ID. Bisnis utamanya mulai dari penambangan, pengolahan, sampai penjualan batu bara untuk pasar domestik dan ekspor, dengan porsi besar penjualan ke PLN lewat skema Domestic Market Obligation (DMO).

Ringkasan saham PTBA

Per 26 Oktober 2026:

KategoriDetail
KodePTBA
Nama resmiPT Bukit Asam (Persero) Tbk
Sektor/subsektorPertambangan batu bara, BUMN di bawah holding MIND ID
Tahun IPO2002
Harga terakhirRp3.210 per lembar
Harga 1 lotRp321.000 (100 lembar)
Rentang 52 mingguRp2.220 - Rp3.490
Kinerja 1 bulan+3,9%
Kinerja 3 bulan+36,0%
Kinerja 1 tahun+37,2%
Rata-rata volume harian (3 bulan)39,61 juta lembar
Indeks LQ45/IDX30belum ada di sumber yang kami cek

Bisnis Bukit Asam

Bukit Asam menjalankan rantai bisnis batu bara dari hulu ke hilir: eksplorasi, penambangan, pengolahan, sampai logistik lewat jalur kereta api dan pelabuhan sendiri. Salah satu asetnya, Pelabuhan Tarahan, disebut sebagai dermaga batu bara dan pelabuhan curah terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas 25 juta ton per tahun dan bisa disandari kapal berbobot mati hingga 210.000 DWT.

Perusahaan juga merambah pembangkit listrik lewat PLTU Banjarsari berkapasitas 2x110 MW yang beroperasi sejak 2015, PLTU Banko Tengah 2x620 MW, dan PLTU Sumsel-8 yang pembiayaannya disepakati dengan Exim Bank of China pada 2018. Hingga akhir 2021, Bukit Asam memiliki 9 anak usaha di berbagai lini, mulai dari perkebunan kelapa sawit lewat PT Bumi Sawindo Permai, kontraktor penambangan PT Satria Bahana Sarana, pertambangan batu bara PT Tabalong Prima Resources, infrastruktur tambang PT Mitra Hasrat Bersama, sampai investasi lewat PT Bukit Multi Investama yang didirikan pada 2014.

Dari sisi penjualan, mayoritas pasar PTBA adalah domestik, terutama ke PLN lewat skema DMO. Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas yang dikutip Kompas.com, PTBA tercatat sebagai emiten dengan porsi penugasan DMO tertinggi di industri, yakni 48% yang sudah tersalurkan hingga Mei 2026.

Sejarah singkat dan IPO

Cikal bakal Bukit Asam bermula dari penggabungan beberapa perusahaan tambang negara pada 1968 menjadi PN Tambang Batubara. Unit Tambang Bukit Asam dari perusahaan itu kemudian dijadikan modal untuk mendirikan PT Tambang Batubara Bukit Asam pada Maret 1981. Status badan usahanya berubah jadi perusahaan umum (Perum) pada 1984, lalu Perum Tambang Batubara digabungkan ke perusahaan ini pada 1990. Pada 1993, pemerintah menugaskan perusahaan berbisnis di bidang produksi briket batu bara.

Perusahaan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2002 sekaligus berganti nama menjadi PT Bukit Asam Tbk. Salah satu aksi korporasi besar setelahnya adalah akuisisi 51% saham PT Internasional Prima Coal senilai USD17,85 juta pada 2008.

Struktur kepemilikan BUMN-nya berubah beberapa kali. Pada 2017, pemerintah menyerahkan mayoritas saham PTBA ke Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sebagai bagian pembentukan holding BUMN pertambangan. Lalu pada Desember 2022, agar Inalum bisa fokus ke bisnis aluminium, mayoritas saham PTBA dialihkan ke MIND ID (Mineral Industri Indonesia), yang memang didirikan sebagai induk holding BUMN pertambangan.

Satu catatan sejarah lain: Tambang Batubara Ombilin, salah satu tambang tertua milik Bukit Asam, ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 2019.

Pemegang saham dan manajemen

Mengikuti riwayat korporasi di atas, mayoritas saham PTBA saat ini dipegang oleh MIND ID selaku holding BUMN industri pertambangan, menggantikan posisi Inalum sejak akhir 2022. Dari sisi manajemen, sumber yang kami cek menyebut Eko Prayitno menjabat sebagai Corporate Secretary Division Head PTBA, yang menjadi juru bicara perusahaan dalam keterbukaan informasi soal kajian buyback saham. Susunan direksi dan komisaris lengkap belum ada di sumber yang kami cek; untuk data terkini, publik bisa mengecek laporan tahunan atau situs resmi PTBA dan idx.co.id.

Kinerja keuangan terbaru

Menurut laporan Fortune Indonesia yang dipublikasikan 26 Oktober 2026, PTBA membukukan pendapatan Rp22,03 triliun pada semester I-2026, naik 8% secara tahunan. Laba bersih melonjak 218% menjadi Rp2,65 triliun, ditopang pemulihan operasional di kuartal kedua, peningkatan penjualan ekspor, dan kenaikan harga jual rata-rata batu bara.

Produksi batu bara sepanjang semester I-2026 mencapai 19,45 juta ton, sementara volume penjualan lebih tinggi di 21,10 juta ton karena ada tambahan pasokan dari persediaan. Dari total penjualan itu, 10,77 juta ton (51%) diserap pasar domestik, sejalan dengan prioritas pemenuhan energi nasional, dan 10,33 juta ton terjual untuk ekspor, naik 5% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka serupa untuk periode yang sama juga muncul di laporan Kompas.com tanggal 3 September 2026, meski dengan sedikit variasi pembulatan. Di situ disebutkan laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk mencapai Rp2,64 triliun pada semester I-2026, naik lebih dari tiga kali lipat dari Rp833,04 miliar pada semester I-2025. Laba per saham ikut melompat dari Rp72 menjadi Rp230. Pendapatan tercatat Rp22,02 triliun, naik dari Rp20,45 triliun, dengan laba bruto melonjak ke Rp4,24 triliun dari Rp2,24 triliun karena beban pokok pendapatan justru turun menjadi Rp17,78 triliun dari Rp18,20 triliun.

Untuk kuartal III-2026, analis MNC Sekuritas Raka Junico W memproyeksikan pendapatan PTBA mencapai Rp13,7 triliun, naik 15% secara kuartalan dan 29% secara tahunan, berdasarkan riset yang dikutip investor.id pada 25 Oktober 2026. Proyeksi ini ditopang perkiraan volume penjualan 12,3 juta ton (naik 12% qoq, 1,4% yoy) dan harga jual rata-rata gabungan (blended ASP) Rp1,1 juta per ton, naik 3% qoq dan 27% yoy. Namun, angka kuartal III ini masih berupa proyeksi analis, bukan hasil resmi yang sudah dirilis perusahaan. Untuk laporan keuangan resmi dan terbaru, pembaca disarankan mengecek langsung di idx.co.id.

Dividen

Sumber yang kami cek tidak memuat data historis dividen PTBA secara rinci, seperti nilai dividen per saham tahun-tahun sebelumnya. Yang ada hanya proyeksi dari riset MNC Sekuritas yang dikutip investor.id pada 25 Oktober 2026, yakni potensi imbal hasil dividen sekitar 6,4% yang jadi salah satu alasan sekuritas tersebut menaikkan target harga saham PTBA. Karena ini proyeksi, bukan angka resmi yang sudah diputuskan lewat RUPS, pembaca sebaiknya mengecek pengumuman dividen resmi di idx.co.id atau situs PTBA begitu ada keterbukaan informasi.

Pergerakan harga saham PTBA

Harga PTBA terakhir berada di Rp3.210 per lembar, cukup jauh dari titik terendah 52 minggu di Rp2.220 tapi juga belum menyentuh titik tertinggi di Rp3.490. Posisi ini setara sekitar 78% dari rentang 52 minggu, lebih dekat ke area atas, dengan jarak sekitar 8% di bawah rekor tertinggi setahun terakhir.

Dalam tiga bulan terakhir saham ini naik 36,0%, dan dalam setahun naik 37,2%, artinya sebagian besar kenaikan tahunan terjadi dalam kuartal belakangan. Salah satu titik pentingnya terjadi pada 3 September 2026, ketika saham PTBA melonjak lebih dari 7% dalam sehari ke level Rp2.920, dipicu sentimen wacana revisi harga patokan DMO batu bara. Kenaikan harian itu disertai nilai transaksi Rp206,61 miliar menurut data yang dikutip Kompas.com. Dalam sebulan terakhir, kenaikannya melambat jadi 3,9%, mengindikasikan momentum rally mulai mendingin dibanding periode sebelumnya, meski tetap di zona hijau.

Berita dan katalis terbaru

Ada tiga perkembangan utama yang relevan dipantau investor PTBA belakangan ini:

  1. Kajian buyback saham. Menurut Fortune Indonesia (26 Oktober 2026), manajemen PTBA tengah mengkaji opsi pembelian kembali saham untuk merespons dinamika pasar domestik dan global. Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno, menyatakan kajian ini mempertimbangkan likuiditas, kebutuhan modal kerja, dan rencana bisnis perusahaan. "Kami memahami pentingnya merespons dinamika pasar secara bijak," kata Eko dalam keterangan tertulis yang dikutip media tersebut. Hingga berita diterbitkan, manajemen belum memutuskan eksekusi buyback dan berjanji akan menyampaikan keterbukaan informasi sesuai aturan OJK dan BEI bila keputusan sudah diambil.
  1. Proyeksi kinerja kuartal III-2026. Investor.id (25 Oktober 2026) melaporkan MNC Sekuritas menaikkan target harga PTBA berdasarkan proyeksi pertumbuhan pendapatan 29% yoy, potensi dividend yield 6,4%, dan ketahanan rantai pasok. Riset itu mencatat keunggulan logistik PTBA lewat jalur Sungai Musi yang relatif tidak terganggu El Nino, berbeda dengan sejumlah tambang di Kalimantan yang mengalami kendala pengangkutan akibat penurunan muka air.
  1. Sentimen revisi kebijakan DMO. Kompas.com (3 September 2026) melaporkan lonjakan harga saham PTBA dipicu wacana pemerintah merevisi harga patokan DMO batu bara yang sudah tidak berubah sejak 2018 di level USD70 per ton, sementara harga ekspor acuan Newcastle sudah di kisaran USD130-150 per ton. Riset BRI Danareksa Sekuritas menyebut PTBA berpotensi jadi penerima manfaat terbesar jika revisi itu terealisasi, mengingat porsi penugasan DMO-nya mencapai 48%.

Pesaing di BEI

  • ADRO (Adaro Energy Indonesia / Alamtri Resources) — perusahaan tambang batu bara swasta terbesar dengan orientasi ekspor yang kuat dan diversifikasi ke energi terbarukan serta smelter aluminium.
  • ITMG (Indo Tambangraya Megah) — produsen batu bara swasta dengan fokus ekspor ke pasar Asia, terafiliasi dengan grup Banpu dari Thailand.
  • HRUM (Harum Energy) — perusahaan tambang batu bara yang juga merambah bisnis nikel, dengan skala produksi lebih kecil dibanding PTBA.

Pembeda utama PTBA dari ketiganya adalah statusnya sebagai BUMN di bawah holding MIND ID dengan porsi penjualan domestik ke PLN yang jauh lebih besar lewat skema DMO.

Risiko

  • Ketergantungan pada harga komoditas. Pendapatan dan laba PTBA sensitif terhadap pergerakan harga batu bara global maupun harga patokan DMO domestik, yang bisa berubah sewaktu-waktu akibat keputusan pemerintah.
  • Konsentrasi pendapatan pada satu komoditas. Meski punya lini bisnis pembangkit listrik dan anak usaha di sektor lain, mayoritas pendapatan PTBA masih bertumpu pada penjualan batu bara.
  • Risiko kebijakan dan regulasi. Status BUMN membuat PTBA rentan terhadap perubahan kebijakan pemerintah, termasuk soal harga DMO, alokasi produksi, dan rencana kerja tambang (RKAB).
  • Risiko transisi energi. Tekanan global untuk mengurangi penggunaan batu bara sebagai sumber energi bisa memengaruhi permintaan jangka panjang, meski sumber yang kami cek tidak merinci dampak kuantitatifnya terhadap PTBA.
  • Risiko operasional dan cuaca. Riset yang dikutip investor.id menyebut gangguan cuaca seperti El Nino bisa memengaruhi logistik tambang batu bara, meski PTBA relatif lebih terlindungi lewat jalur Sungai Musi dibanding tambang di Kalimantan.
  • Risiko eksekusi aksi korporasi. Rencana buyback saham masih berstatus kajian dan belum ada kepastian eksekusi maupun besarannya.
  • Valuasi setelah kenaikan tajam. Harga saham PTBA sudah naik 36% dalam tiga bulan dan 37,2% dalam setahun, sehingga ruang kenaikan lanjutan bisa lebih terbatas dibanding saat harga masih di area bawah rentang 52 minggu, meski ini bukan jaminan arah harga ke depan.

Apa artinya buat investor

Beberapa hal konkret yang bisa dipantau ke depan, bukan sebagai saran beli atau jual:

  • Keterbukaan informasi buyback. PTBA berjanji merilis pengumuman resmi di BEI begitu ada keputusan eksekusi, jadi perkembangan kajian ini bisa dicek lewat laman keterbukaan informasi di idx.co.id.
  • Laporan keuangan kuartal III-2026. Proyeksi MNC Sekuritas soal pendapatan Rp13,7 triliun dan ASP Rp1,1 juta per ton baru terkonfirmasi saat laporan resmi dirilis perusahaan, bukan dari riset sekuritas semata.
  • Nasib revisi harga DMO. Wacana revisi harga patokan DMO dari USD70 per ton sejak September 2026 jadi salah satu pemicu volatilitas harga saham PTBA, sehingga keputusan pemerintah soal ini layak diikuti.
  • Posisi harga terhadap rentang 52 minggu. Harga Rp3.210 saat ini berada sekitar 78% dari rentang Rp2.220-Rp3.490, sehingga pergerakan berikutnya bisa dibandingkan terhadap kedua titik ini sebagai referensi, bukan patokan pasti.
  • Kepastian dividen. Potensi yield 6,4% yang disebut MNC Sekuritas masih proyeksi, bukan keputusan RUPS. Jadwal cum date dan nilai dividen resmi perlu dicek di idx.co.id begitu diumumkan.

Cara beli saham PTBA

Untuk membeli saham PTBA, langkah pertama adalah membuka rekening efek di perusahaan sekuritas yang berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terdaftar sebagai anggota Bursa Efek Indonesia. Satu lot saham PTBA setara 100 lembar, dan dengan harga terakhir Rp3.210 per lembar, nilai satu lot sekitar Rp321.000 di luar biaya transaksi broker. Setelah rekening aktif dan dana disetor, pembelian bisa dilakukan lewat aplikasi trading sekuritas pada jam perdagangan bursa.

FAQ

Apakah PTBA rutin membagikan dividen?

Sumber yang kami cek belum memuat rekam jejak dividen historis PTBA secara rinci. Yang ada baru proyeksi analis MNC Sekuritas soal potensi imbal hasil dividen sekitar 6,4% berdasarkan riset per 25 Oktober 2026, jadi sifatnya perkiraan, bukan kepastian. Untuk data dividen resmi, cek laporan keuangan dan pengumuman RUPS di idx.co.id.

Berapa harga 1 lot saham PTBA?

Per harga terakhir Rp3.210 per lembar, 1 lot (100 lembar) saham PTBA bernilai sekitar Rp321.000, belum termasuk biaya transaksi dari sekuritas.

Apakah PTBA masuk indeks LQ45?

Keanggotaan PTBA di indeks LQ45 atau IDX30 belum ada di sumber yang kami cek. Status terbaru bisa dicek langsung di situs BEI (idx.co.id) saat evaluasi indeks berkala.

Apa beda PTBA dengan ADRO dan ITMG?

PTBA adalah BUMN di bawah holding MIND ID dengan porsi penjualan domestik (DMO) ke PLN yang besar, sedangkan ADRO (Adaro) dan ITMG (Indo Tambangraya Megah) adalah perusahaan tambang batu bara swasta dengan orientasi ekspor yang lebih besar. Struktur kepemilikan dan eksposur kebijakan DMO jadi pembeda utama.

Kenapa saham PTBA sempat melonjak 7% lebih pada 3 September 2026?

Menurut riset BRI Danareksa Sekuritas yang dikutip Kompas.com, lonjakan itu dipicu sentimen wacana pemerintah merevisi harga patokan DMO batu bara yang sudah tidak berubah sejak 2018, dengan PTBA dianggap penerima manfaat terbesar karena porsi DMO-nya mencapai 48%.

Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham PTBA.

Sumber

  1. Yahoo Finance
  2. Wikipedia · Bukit Asam
  3. fortuneidn.com · PTBA Kaji Opsi Buyback Saham, Pertimbangkan Likuiditas Perusahaan
  4. investor.id · PTBA: Kinerja Kuartal III, Dividen, dan Target Harga Baru
  5. money.kompas.com · Saham Bukit Asam (PTBA) Melonjak 7 Persen Siang Ini, Apa Penyebabnya?
  • #PTBA
  • #Bukit Asam
  • #saham BUMN
  • #batu bara
  • #BEI
  • #MIND ID
BagikanWhatsAppXTelegram

Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.

Mau trade kami ikut ke akun lu?Lihat dulu akunnya jalan di dashboard demo. Daftar gratis, member aktif setelah bayar.
Daftar gratis

Baca juga

  • Saham AKRA: Profil AKR Corporindo, Bisnis, Kinerja, dan RisikonyaProfil Saham · 29 Oktober 2026Saham AKRA: Profil AKR Corporindo, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
  • Saham MEDC: Profil Medco Energi, Bisnis, Kinerja, dan RisikonyaProfil Saham · 28 Oktober 2026Saham MEDC: Profil Medco Energi, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
  • Saham ITMG: Profil Indo Tambangraya Megah, Bisnis, Kinerja, dan RisikonyaProfil Saham · 27 Oktober 2026Saham ITMG: Profil Indo Tambangraya Megah, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
OPENTRADES

Intelligence in Every Trade.

AI-powered trading automation, built for disciplined execution.

ProdukTentang OpenTradesAkun liveRiwayat tradeChart gratisHargaOpenTrades NewsMembershipAffiliate
AkunMasukDaftar gratisSyarat & KetentuanWhatsApp

Trading futures berisiko tinggi dan bisa bikin modal habis. Semua angka di sini asli dari akun yang lagi jalan, bukan janji dan bukan ajakan beli atau jual aset apa pun. Pakai uang yang siap lu risikokan.

© 2026 OpenTrades · opentrades.app · Syarat & Ketentuan