OpenTrades
TentangAUMSimulasiCara ikutChartHargaNewsFAQ
  IDEN English versionMasukDaftar gratis
TentangAUMSimulasiCara ikutChartHargaNewsFAQ
Mata uang  
MasukDaftar gratis
NewsProfil Saham

Saham PGAS: Profil Perusahaan Gas Negara, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya

PGAS, subholding gas Pertamina, diperdagangkan di Rp1.355 per 25 Oktober 2026, turun 23,4% dalam setahun di tengah tekanan kebijakan harga gas industri.

TTim Queenby25 Oktober 2026 · 12 menit baca

Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan

Saham PGAS: Profil Perusahaan Gas Negara, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
Di artikel ini
  1. Ringkasan saham PGAS
  2. Bisnis PGN
  3. Sejarah singkat dan IPO
  4. Pemegang saham dan manajemen
  5. Kinerja keuangan terbaru
  6. Dividen
  7. Pergerakan harga saham PGAS
  8. Berita dan katalis terbaru
  9. Pesaing di BEI
  10. Risiko
  11. Apa artinya buat investor
  12. Cara beli saham PGAS
  13. FAQ
  14. Apakah PGAS rutin membagikan dividen?
  15. Berapa harga 1 lot saham PGAS?
  16. Apakah PGAS masuk indeks LQ45?
  17. Apa bedanya PGAS dengan RAJA (Rukun Raharja)?
  18. Kenapa harga saham PGAS turun tajam saat harga gas industri dipangkas?
  19. Siapa pemegang saham mayoritas PGAS saat ini?

PGAS adalah kode saham PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, perusahaan yang mendistribusikan dan mentransmisikan gas bumi di Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatra. Sejak Desember 2021, perusahaan ini mulai memakai nama dagang Pertamina Gas Negara setelah resmi menjadi bagian dari holding BUMN migas di bawah Pertamina. Bisnis utamanya mencakup distribusi gas ke rumah tangga, industri, dan pembangkit listrik, transmisi gas lewat jaringan pipa, serta sedikit kegiatan hulu minyak dan gas.

Ringkasan saham PGAS

Per 25 Oktober 2026:

ItemKeterangan
KodePGAS
Nama resmiPT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (beroperasi dengan nama dagang Pertamina Gas Negara sejak Desember 2021)
Sektor/subsektorEnergi (BUMN gas bumi)
Tahun IPO2003
Harga terakhirRp1.355 per lembar
Harga 1 lotRp135.500 (100 lembar)
Rentang 52 mingguRp1.125 - Rp2.520
Kinerja 1 bulan / 3 bulan / 1 tahun-5,9% / -10,6% / -23,4%
Rata-rata volume harian 3 bulan32,36 juta lembar
Indeks (LQ45/IDX30)belum ada di sumber yang kami cek

Bisnis PGN

PGN mengoperasikan tiga lini bisnis utama: distribusi dan niaga gas bumi, transmisi gas bumi, dan kegiatan hulu (lifting minyak dan gas) dalam skala kecil. Distribusi dan transmisi adalah penyumbang pendapatan terbesar, sementara kegiatan hulu hanya menyumbang sekitar 10,3 juta barel setara minyak (MMBOE) menurut catatan hingga akhir 2019.

Untuk mengelola operasionalnya, PGN membagi wilayah kerja menjadi empat fokus: Regional Distribution I (Sumatera Selatan, Lampung, hingga Jawa Barat termasuk Jakarta), Regional Distribution II (Jawa Timur, Semarang, Tarakan, Sorong), Regional Distribution III (Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau termasuk Batam), dan Regional Transmission yang mencakup jaringan pipa transmisi di Sumatera Selatan, Lampung, dan Jawa bagian barat.

Hingga akhir 2021, PGN memiliki pipa distribusi sepanjang 5.703 kilometer dan pipa transmisi 5.073 kilometer, sebagian besar berada di Jawa dan Sumatra. Perusahaan juga mengoperasikan unit penyimpanan dan regasifikasi gas alam cair terapung (FSRU) Lampung, yang disewa dari perusahaan Norwegia Hoegh LNG selama 20 tahun dengan biaya sewa sekitar 200 ribu dolar AS per hari sejak beroperasi pada 2014. FSRU ini punya kapasitas simpan 170.000 meter kubik dan kemampuan regasifikasi 240 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD), meski utilisasinya sempat sangat rendah karena PLN sebagai pelanggan utama tidak mencapai kesepakatan harga sewa pada kontrak lanjutan.

PGN juga punya sejumlah anak usaha untuk mendukung bisnis intinya, antara lain PT Transportasi Gas Indonesia (Transgasindo) untuk pipa transmisi, PT Saka Energi Indonesia untuk hulu gas, PT Gagas Energi Indonesia untuk hilir gas, PT PGAS Solution untuk EPC dan operasi-pemeliharaan, serta PT Nusantara Regas yang didirikan bersama Pertamina untuk regasifikasi LNG.

Sejarah singkat dan IPO

Cikal bakal PGN bermula jauh sebelum Indonesia merdeka, yaitu pada 1863 dengan nama NV Nederlandsch-Indische Gasmaatschappij (NIGM). Perusahaan ini mulai mengoperasikan pabrik gas berbasis kokas di Jakarta dan Surabaya pada 1879, lalu berganti nama menjadi NV Overzeese Gas en Elektriciteitsmaatschappij (OGEM) pada 1950 setelah merambah bisnis pembangkitan listrik.

Pada 1959, pemerintah Indonesia menasionalisasi aset pembangkitan listrik dan produksi gas milik OGEM. Bisnis gas kemudian dipisah menjadi perusahaan negara bernama PN Perusahaan Gas Negara pada 1965. Status badan hukum perusahaan ini berubah beberapa kali: menjadi perusahaan umum (Perum) pada 1984, lalu menjadi persero pada 1994.

PGN resmi melantai di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada Desember 2003, setelah sebelumnya menyelesaikan proyek besar seperti pipa transmisi Grissik-Duri pada 1998 dan Grissik-Batam-Singapura pada 2003. Tonggak penting lain terjadi pada April 2018, ketika pemerintah menyerahkan mayoritas saham PGN ke Pertamina sebagai bagian dari pembentukan holding BUMN migas. Pada Desember 2018, PGN mengambil alih mayoritas saham PT Pertamina Gas dari Pertamina, dan pada Desember 2021 perusahaan mulai beroperasi dengan nama dagang "Pertamina Gas Negara" untuk menegaskan posisinya sebagai bagian dari Pertamina.

Pemegang saham dan manajemen

Berdasarkan sumber yang kami cek, Pertamina menjadi pemegang saham mayoritas PGN sejak April 2018, meski persentase kepemilikan terbaru tidak disebutkan secara spesifik di sumber ini. Nama-nama manajemen yang tercatat dalam berita termasuk Arief Kurnia Risdianto sebagai Direktur Utama, Mirza Mahendra sebagai Direktur, dan Hery Murahmanta sebagai Direktur Infrastruktur dan Teknologi.

Ada aktivitas pembelian saham oleh orang dalam yang cukup menonjol pada pertengahan 2026. Direktur Mirza Mahendra membeli 20 juta saham PGAS pada 10 Juli 2026 seharga Rp1.450 per lembar, dengan nilai transaksi sekitar Rp29 miliar, sehingga kepemilikannya naik dari 50 juta menjadi 70 juta saham. Dua hari berselang, Direktur Utama Arief Kurnia Risdianto membeli 679.000 saham PGAS seharga Rp1.470 per lembar atau senilai hampir Rp1 miliar, padahal sebelumnya ia belum memiliki saham PGAS sama sekali. Kedua transaksi ini dilaporkan lewat keterbukaan informasi BEI dengan keterangan "tujuan transaksi investasi dengan status kepemilikan langsung".

Kinerja keuangan terbaru

Sumber yang kami cek tidak memuat angka pendapatan atau laba bersih PGN untuk periode terbaru seperti 2025 atau 2026. Data historis yang tersedia hanya menyebut bahwa laba PGN turun tajam menjadi 143,1 juta dolar AS pada 2017, dibanding 838 juta dolar AS pada 2012, penurunan yang menurut pernyataan Deputi Bidang Usaha Tambang, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN saat itu, Fajar Harry Sampurno, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI pada 14 Maret 2018, banyak dipicu oleh persoalan rendahnya utilisasi FSRU Lampung.

Karena tidak ada angka laporan keuangan terkini yang bisa dipastikan dari sumber ini, pembaca yang ingin melihat kinerja pendapatan dan laba PGN tahun berjalan sebaiknya mengecek langsung laporan keuangan resmi di idx.co.id atau situs investor relations PGN.

Dividen

Tidak ada data kebijakan atau riwayat pembagian dividen PGAS dalam sumber yang kami cek. Investor yang membutuhkan informasi dividen per saham, rasio payout, atau jadwal cum date sebaiknya merujuk ke keterbukaan informasi BEI atau hasil RUPS Tahunan PGN yang dipublikasikan di idx.co.id.

Pergerakan harga saham PGAS

Per 25 Oktober 2026, PGAS diperdagangkan di Rp1.355 per lembar. Harga ini berada relatif dekat dengan batas bawah rentang 52 minggu di Rp1.125, jauh dari batas atas di Rp2.520. Posisi ini mencerminkan tekanan harga yang cukup berat dalam setahun terakhir, dengan penurunan 23,4% dibanding setahun lalu, 10,6% dalam tiga bulan terakhir, dan 5,9% dalam sebulan terakhir.

Sebagai pembanding historis, pada 10 Juli 2026 saat para direksi melakukan pembelian saham, harga PGAS sempat berada di kisaran Rp1.450-Rp1.470 dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp35,51 triliun menurut data google finance yang dikutip Liputan6.com. Harga ini kemudian turun lebih jauh seiring sentimen negatif dari kebijakan penurunan harga gas industri yang diumumkan pemerintah pada 29 Juni 2026, di mana saham PGAS sempat terkoreksi lebih dari 6% pada hari pengumuman dan berlanjut turun 4% pada hari berikutnya.

Yang menarik, pada pertengahan Oktober 2026 PGAS justru menunjukkan ketahanan relatif. Menurut laporan Kontan pada 21 Oktober 2026, saham PGAS bersama PTBA bergerak melawan arah pelemahan sejumlah saham BUMN energi lain, menguat sekitar 2,5% pada perdagangan 19 dan 20 Oktober 2026 setelah sebelumnya terkoreksi cukup dalam. Rata-rata volume perdagangan harian PGAS dalam tiga bulan terakhir tercatat 32,36 juta lembar, angka yang menunjukkan saham ini masih cukup aktif ditransaksikan meski harganya tertekan.

Berita dan katalis terbaru

Beberapa peristiwa berikut relevan dipantau investor PGAS:

  • 29 Juni 2026: Pemerintah resmi memangkas harga gas alam cair (LNG) untuk industri non-HGBT menjadi 13 dolar AS per MMBTU dari sebelumnya sekitar 20-23 dolar AS per MMBTU, berlaku hingga akhir 2026. Menurut Mikirduit (13 Juli 2026), kebijakan ini dipicu keluhan pelaku industri seperti sektor keramik dan serikat pekerja KSPSI soal lonjakan biaya energi, kekhawatiran PHK, serta persoalan pasokan gas pipa dari lapangan Jawa Barat yang menurun sehingga harus ditutup dengan LNG impor yang lebih mahal. PMI Manufaktur Indonesia juga tercatat turun ke 46,9 pada Juni 2026 dari 50,0 pada Mei, level terendah sejak Juni 2025.
  • Dampak ke PGAS: Sebagai distributor gas terbesar di Indonesia, PGAS dipandang sebagai salah satu emiten yang paling langsung terdampak kebijakan ini, bersama RAJA (Rukun Raharja). PGN menyatakan siap menjalankan kebijakan pemerintah sambil menjaga keandalan pasokan gas bagi pelanggan.
  • 10-13 Juli 2026: Dua pejabat tinggi PGN, Direktur Mirza Mahendra dan Direktur Utama Arief Kurnia Risdianto, melakukan pembelian saham PGAS di pasar, masing-masing senilai Rp29 miliar dan hampir Rp1 miliar.
  • Program jargas: Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN, Hery Murahmanta, dalam konferensi pers Pubex Live 2025 pada 10 September 2025, menyatakan optimisme bahwa program pembangunan 1 juta sambungan jaringan gas bumi rumah tangga (jargas) bisa berjalan optimal lewat sinergi dengan Kementerian ESDM. Ia menyebut jargas sebagai salah satu solusi mengurangi ketergantungan pada subsidi dan energi impor.
  • 19-20 Oktober 2026: Saham PGAS dan PTBA menguat sekitar 2,5% di tengah pelemahan sejumlah saham BUMN energi lain, menurut Kontan, mengindikasikan mulai ada akumulasi di tengah diskon harga pasar.

Pesaing di BEI

  • RAJA (Rukun Raharja): Bergerak di rantai pasok gas dan LNG, disebut dalam sumber sebagai emiten yang sama-sama terdampak langsung kebijakan penurunan harga gas industri non-HGBT pada 2026.
  • AKRA (AKR Corporindo): Perusahaan distribusi dan logistik energi, termasuk BBM dan bahan kimia dasar, dengan model bisnis distribusi energi yang berbeda dari fokus gas pipa PGAS.
  • MEDC (Medco Energi Internasional): Lebih banyak bermain di sisi hulu minyak dan gas, berbeda dari PGAS yang dominan di distribusi dan transmisi gas hilir.

Risiko

  • Risiko regulasi harga: Pemerintah bisa sewaktu-waktu menetapkan kebijakan harga gas untuk industri, seperti pemangkasan harga non-HGBT pada Juni 2026, yang langsung menekan margin PGAS sebagai distributor utama.
  • Risiko pasokan: Produksi gas dari lapangan-lapangan di Jawa Barat yang menurun memaksa PGN mengimpor LNG dari luar Jawa dengan biaya transportasi dan regasifikasi lebih mahal, yang bisa menekan margin jika tidak diimbangi penyesuaian harga jual.
  • Konsentrasi bisnis dan geografi: Sebagian besar jaringan pipa distribusi dan transmisi PGN terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra, sehingga gangguan pasokan atau permintaan di dua wilayah ini berdampak signifikan ke kinerja perusahaan.
  • Ketergantungan pada pemegang saham mayoritas: Sebagai bagian dari holding BUMN migas di bawah Pertamina sejak 2018, arah bisnis PGN turut dipengaruhi keputusan korporasi dan kebijakan di tingkat holding.
  • Riwayat utilisasi aset rendah: Kasus FSRU Lampung yang sempat tidak optimal karena gagal mencapai kesepakatan harga sewa dengan PLN pernah menekan laba perusahaan secara signifikan antara 2012 dan 2017, menunjukkan risiko serupa bisa terulang pada aset-aset strategis lain.
  • Volatilitas harga saham: PGAS turun 23,4% dalam setahun terakhir dengan rentang 52 minggu yang lebar, dari Rp1.125 hingga Rp2.520, mencerminkan sensitivitas tinggi terhadap sentimen kebijakan dan sektor energi.
  • Keterbatasan data kinerja terkini: Karena sumber yang tersedia tidak memuat laporan keuangan terbaru, investor perlu mengecek sendiri data resmi di idx.co.id sebelum menilai valuasi saham ini.

Apa artinya buat investor

Ada beberapa titik data konkret yang bisa dipantau soal PGAS tanpa perlu menebak arah harga.

Pertama, level Rp1.125 adalah batas bawah rentang 52 minggu saat ini, sementara area Rp1.450-1.470 pernah jadi harga pembelian dua direksi PGN pada Juli 2026. Pergerakan harga di sekitar dua level ini bisa jadi acuan untuk melihat apakah sentimen pasar membaik atau makin tertekan.

Kedua, kebijakan harga gas non-HGBT sebesar US$13 per MMBTU berlaku sampai akhir 2026. Perlu dipantau apakah pemerintah memperpanjang kebijakan ini atau mengembalikannya ke level sebelumnya, karena hal ini langsung berkaitan dengan margin niaga PGN.

Ketiga, karena sumber yang tersedia tidak memuat laporan keuangan kuartalan atau tahunan terbaru, langkah paling konkret adalah mengecek laporan keuangan resmi PGN di idx.co.id begitu dirilis, terutama untuk melihat dampak nyata kebijakan harga gas terhadap pendapatan dan margin di kuartal-kuartal setelah Juni 2026.

Keempat, perhatikan pola volume perdagangan. Rata-rata volume harian 32,36 juta lembar dalam tiga bulan terakhir bisa jadi pembanding untuk menilai ada tidaknya lonjakan minat beli atau jual saat muncul berita baru.

Kelima, transaksi pembelian saham oleh direksi PGN pada Juli 2026 adalah data keterbukaan informasi yang bisa terus dipantau di situs BEI. Pola insider buying atau selling berikutnya bisa memberi sinyal tambahan soal keyakinan manajemen, meski bukan jaminan arah harga ke depan.

Cara beli saham PGAS

Untuk membeli saham PGAS, investor perlu membuka rekening efek di perusahaan sekuritas yang berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terdaftar sebagai anggota bursa di BEI. Setelah rekening aktif dan dana disetor, order beli PGAS bisa dilakukan lewat aplikasi trading sekuritas dengan satuan minimal 1 lot atau 100 lembar saham.

Dengan harga PGAS Rp1.355 per lembar per 25 Oktober 2026, nilai 1 lot adalah Rp135.500, belum termasuk biaya transaksi seperti komisi broker dan pajak transaksi yang besarannya berbeda-beda tiap sekuritas.

FAQ

Apakah PGAS rutin membagikan dividen?

Dari sumber yang kami cek, tidak ada data kebijakan dividen PGAS. Investor sebaiknya mengecek keterbukaan informasi dan hasil RUPS Tahunan di idx.co.id atau situs resmi PGN untuk angka dividen terbaru.

Berapa harga 1 lot saham PGAS?

Per 25 Oktober 2026, harga PGAS Rp1.355 per lembar, sehingga 1 lot (100 lembar) senilai Rp135.500 belum termasuk biaya transaksi dari sekuritas.

Apakah PGAS masuk indeks LQ45?

Belum ada di sumber yang kami cek. Status keanggotaan indeks bisa berubah tiap evaluasi berkala BEI, jadi sebaiknya dicek langsung di idx.co.id.

Apa bedanya PGAS dengan RAJA (Rukun Raharja)?

PGAS adalah subholding gas Pertamina dengan jaringan pipa distribusi dan transmisi gas bumi terbesar di Indonesia, sedangkan RAJA juga bermain di rantai pasok gas dan LNG namun dengan skala dan model bisnis berbeda. Keduanya sama-sama terdampak kebijakan penurunan harga gas industri non-HGBT pada 2026.

Kenapa harga saham PGAS turun tajam saat harga gas industri dipangkas?

Pemerintah menurunkan harga gas non-HGBT untuk industri menjadi US$13 per MMBTU dari sekitar US$20-23 per MMBTU mulai akhir Juni 2026. Pasar khawatir kebijakan ini menekan margin PGAS sebagai distributor gas terbesar, sehingga sahamnya sempat terkoreksi lebih dari 6% dalam dua hari perdagangan.

Siapa pemegang saham mayoritas PGAS saat ini?

Sejak April 2018, pemerintah menyerahkan mayoritas saham PGN ke Pertamina sebagai bagian dari pembentukan holding BUMN migas, dan status ini masih berlaku saat perusahaan mulai memakai nama dagang Pertamina Gas Negara pada Desember 2021.

Artikel ini disusun untuk tujuan informasi, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham PGAS.

Sumber

  1. Yahoo Finance
  2. Wikipedia · Pertamina Gas Negara
  3. insight.kontan.co.id · Harga Saham PTBA dan PGAS Solid, Saat Emiten BUMN Energi Lainnya Tertekan
  4. liputan6.com · Investasi, Direktur PGAS Beli 20 Juta Saham
  5. liputan6.com · Investasi, Direktur Utama PGAS Beli 679 Ribu Saham
  6. mikirduit.com · Harga Gas Industri Dipaksa Turun, Gimana Dampaknya ke Saham PGAS dan RAJA?
  • #PGAS
  • #saham BUMN
  • #Pertamina Gas Negara
  • #BEI
  • #sektor energi
  • #profil emiten
BagikanWhatsAppXTelegram

Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.

Mau trade kami ikut ke akun lu?Lihat dulu akunnya jalan di dashboard demo. Daftar gratis, member aktif setelah bayar.
Daftar gratis

Baca juga

  • Saham AKRA: Profil AKR Corporindo, Bisnis, Kinerja, dan RisikonyaProfil Saham · 29 Oktober 2026Saham AKRA: Profil AKR Corporindo, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
  • Saham MEDC: Profil Medco Energi, Bisnis, Kinerja, dan RisikonyaProfil Saham · 28 Oktober 2026Saham MEDC: Profil Medco Energi, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
  • Saham ITMG: Profil Indo Tambangraya Megah, Bisnis, Kinerja, dan RisikonyaProfil Saham · 27 Oktober 2026Saham ITMG: Profil Indo Tambangraya Megah, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
OPENTRADES

Intelligence in Every Trade.

AI-powered trading automation, built for disciplined execution.

ProdukTentang OpenTradesAkun liveRiwayat tradeChart gratisHargaOpenTrades NewsMembershipAffiliate
AkunMasukDaftar gratisSyarat & KetentuanWhatsApp

Trading futures berisiko tinggi dan bisa bikin modal habis. Semua angka di sini asli dari akun yang lagi jalan, bukan janji dan bukan ajakan beli atau jual aset apa pun. Pakai uang yang siap lu risikokan.

© 2026 OpenTrades · opentrades.app · Syarat & Ketentuan