Saham INDF: Profil Indofood Sukses Makmur, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
INDF adalah saham produsen makanan dan minuman terbesar di Indonesia, bagian dari Grup Salim. Simak bisnis, kinerja semester I 2026, dan risikonya.
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan
INDF adalah kode saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk, produsen makanan dan minuman yang bermarkas di Jakarta dan menjadi salah satu nama terbesar di sektor konsumer Indonesia. Bisnisnya membentang dari mi instan, tepung terigu, minyak goreng, sampai produk konsumen bermerek lewat anak usahanya, Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP). Perusahaan ini bagian dari Grup Salim dan mengekspor produknya hingga Australia, Asia, dan Eropa.
Ringkasan saham INDF
Per 23 Oktober 2026:
| Keterangan | Data |
|---|---|
| Kode | INDF |
| Nama resmi | PT Indofood Sukses Makmur Tbk |
| Sektor/subsektor | belum ada di sumber yang kami cek |
| Tahun IPO | 1994 |
| Harga terakhir | Rp6.625 per lembar |
| Harga 1 lot | Rp662.500 |
| Rentang 52 minggu | Rp5.850 - Rp7.600 |
| Kinerja 1 bulan | -4,3% |
| Kinerja 3 bulan | -4,3% |
| Kinerja 1 tahun | -7,7% |
| Indeks | belum ada di sumber yang kami cek |
Bisnis Indofood
Indofood menyebut dirinya perusahaan total food solutions, artinya kegiatan usahanya mencakup seluruh rantai produksi makanan, mulai dari pengolahan bahan baku sampai produk jadi di rak toko. Lini usahanya mencakup penggilingan gandum lewat Bogasari, produk konsumen bermerek seperti mi instan Indomie dan Sarimi lewat ICBP, makanan ringan lewat kerja sama dengan Frito-Lay, susu lewat Indolakto, sampai agribisnis dan perkapalan.
Struktur ini membuat Indofood punya eksposur yang lebar, dari komoditas pertanian di hulu sampai barang konsumen bermerek di hilir. Produknya juga menembus pasar ekspor ke Australia, Asia, dan Eropa, meski pasar domestik tetap jadi andalan utama penjualan.
Sejarah singkat dan IPO
Cikal bakal Indofood adalah PT Panganjaya Intikusuma yang didirikan 14 Agustus 1990. Nama ini kemudian berganti jadi PT Indofood Sukses Makmur pada 5 Februari 1994. Tak lama setelah itu, pada 12 Februari 1994, sebanyak 18 perusahaan milik Grup Salim yang bergerak di produksi makanan digabungkan ke dalam Indofood, termasuk pabrik Indomie, pabrik Sarimi, pabrik bumbu dan saus, sampai pabrik kemasan.
Indofood mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta pada 14 Juli 1994, dengan melepas 2,75% saham pada harga Rp6.200 per saham. Di waktu yang sama, perusahaan juga melepas 20% saham dalam bentuk obligasi di pasar internasional.
Setelah IPO, Indofood terus memperluas bisnis lewat akuisisi, dari divisi penggilingan gandum Bogasari pada 1995, perusahaan perkebunan dan agrobisnis pada 1997, perusahaan kemasan karton pada 2004, sampai Indolakto pada 2008 lewat akuisisi Drayton Pte. Ltd. yang punya 68,57% saham efektif di perusahaan susu tersebut. Pada 2010, anak usaha konsumen bermerek Indofood resmi melantai sendiri di BEI dengan nama ICBP, setelah proses restrukturisasi internal Grup CBP.
Pemegang saham dan manajemen
Indofood bagian dari Grup Salim sejak awal berdirinya. Pada 1999, kepemilikan Indofood dialihkan ke First Pacific, lengan bisnis Grup Salim di Hong Kong, dari sebelumnya ditempatkan di bawah Indocement. Di tahun yang sama, Eva Riyanti Hutapea diangkat sebagai Direktur Utama, menjadi orang luar pertama yang menduduki posisi itu di Indofood.
Anthoni Salim kemudian diangkat sebagai Direktur Utama pada 24 Juni 2004, menggantikan Eva. Sumber yang kami cek tidak merinci komposisi pemegang saham dan susunan direksi terkini secara persentase, jadi pembaca yang butuh data pemegang saham dan manajemen terbaru disarankan mengecek laporan keterbukaan informasi di idx.co.id.
Kinerja keuangan terbaru
Menurut laporan investor.id yang terbit 19 Oktober 2026, kinerja Indofood pada semester I 2026 menunjukkan penjualan naik 9% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp65,53 triliun. Namun laba bersih justru turun 19% YoY menjadi Rp4,72 triliun, dan penyebabnya disebutkan sebagai kerugian kurs yang belum terealisasi.
Liputan6.com dalam arsip beritanya juga mencatat hal serupa, yaitu penjualan Indofood tumbuh 9% sementara laba turun 19% hingga semester I 2026. Pola ini konsisten di kedua sumber, menunjukkan tekanan ke laba bersih datang dari faktor nonoperasional berupa fluktuasi nilai tukar rupiah, bukan dari penurunan penjualan produk.
Sumber yang kami cek tidak memuat rincian laporan keuangan kuartal III 2026 atau laporan tahunan penuh. Untuk angka pendapatan, laba, dan rasio keuangan terbaru secara lengkap, pembaca disarankan mengecek laporan keuangan resmi di idx.co.id atau situs investor relations Indofood.
Dividen
Tidak ada data soal kebijakan atau riwayat pembagian dividen INDF di sumber yang kami cek untuk artikel ini. Investor yang ingin tahu riwayat dividen, rasio payout, atau jadwal cum date dan pembayaran terbaru sebaiknya mengecek pengumuman resmi di idx.co.id, karena data ini biasanya diumumkan lewat keterbukaan informasi setelah RUPS tahunan.
Pergerakan harga saham INDF
Per 23 Oktober 2026, INDF diperdagangkan di Rp6.625 per lembar. Posisi ini berada di tengah rentang 52 minggu Rp5.850 hingga Rp7.600, lebih dekat ke area tengah-bawah ketimbang mendekati level tertinggi tahunan.
Secara persentase, saham ini turun 4,3% dalam sebulan terakhir, turun 4,3% dalam tiga bulan terakhir, dan turun 7,7% dalam setahun terakhir. Rata-rata volume transaksi harian dalam tiga bulan terakhir tercatat 6,57 juta lembar.
Beberapa rilis analis teknikal dalam beberapa bulan terakhir memberi gambaran soal level-level yang jadi perhatian pasar. Pada 10 September 2026, menurut catatan Kontan, INDF sempat berada dalam fase uptrend dengan level support di Rp7.425 dan resistance di Rp7.600. Lebih dari sebulan kemudian, pada 19 Oktober 2026, investor.id mencatat INDF menguat 0,38% ke Rp6.625 setelah rebound dari tekanan jual tajam, dengan support disebut berada di Rp6.550. Perbandingan dua titik waktu ini menggambarkan bahwa harga saham sempat terkoreksi cukup dalam dari level Rp7.400-an ke area Rp6.600-an dalam rentang sekitar sebulan lebih.
Berita dan katalis terbaru
Beberapa katalis dan sorotan pasar terhadap INDF dalam beberapa bulan terakhir:
- 19 Oktober 2026 (investor.id): BRI Danareksa Sekuritas mencatat INDF menguat 0,38% ke Rp6.625, dengan MACD mulai menguat dan histogram positif. Analis itu juga menyoroti pelemahan rupiah dan kenaikan harga komoditas global sebagai risiko yang bisa menekan margin Indofood ke depan.
- 19 Oktober 2026 (liputan6.com): disebutkan bahwa penjualan Indofood tumbuh 9%, tapi laba bersihnya turun 19% hingga semester I 2026.
- 13 Oktober 2026 (liputan6.com): INDF masuk daftar rekomendasi saham dari BNI Sekuritas, bersama BBCA, ADRO, KLBF, MAPA, dan ANTM, di tengah IHSG yang diperkirakan bergerak di kisaran 5.800-6.020.
- 10 September 2026 (investasi.kontan.co.id): analis teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, mencatat INDF bertahan di atas MA20 dengan MACD melandai di area positif dan Stochastic bergerak netral, saat IHSG ditutup melemah 0,12% ke 6.678,20 pada hari sebelumnya.
Tema yang berulang dari beberapa laporan ini adalah tekanan nilai tukar rupiah dan harga komoditas global terhadap margin Indofood, di tengah penjualan yang sebenarnya masih tumbuh.
Pesaing di BEI
Beberapa emiten yang sering dibandingkan dengan INDF di BEI karena berada di sektor konsumer atau punya keterkaitan bisnis langsung:
- ICBP (Indofood CBP Sukses Makmur Tbk): ini sebenarnya anak usaha INDF sendiri, melantai terpisah di BEI sejak 2010, dengan fokus khusus di produk konsumen bermerek seperti mi instan, bumbu, dan makanan ringan.
- MYOR (Mayora Indah Tbk): produsen biskuit, kopi, dan makanan ringan yang juga bersaing di rak ritel yang sama dengan produk-produk Indofood.
- SIMP (Salim Ivomas Pratama Tbk): perusahaan agribisnis kelapa sawit yang juga bagian dari Grup Salim, relevan dibandingkan dengan sisi hulu bisnis Indofood di sektor agribisnis.
Perbedaan utama INDF dengan ICBP ada pada cakupan bisnis. INDF jadi induk usaha dengan portofolio lebih luas termasuk Bogasari dan agribisnis, sementara ICBP murni fokus pada produk konsumen bermerek.
Risiko
Beberapa risiko yang relevan dipantau investor terhadap saham INDF:
- Risiko nilai tukar: laporan semester I 2026 menunjukkan laba bersih tertekan oleh kerugian kurs yang belum terealisasi akibat pelemahan rupiah, menandakan eksposur signifikan terhadap fluktuasi mata uang.
- Risiko harga komoditas: sebagai produsen makanan berbahan baku gandum, minyak sawit, dan bahan pangan lain, margin Indofood sensitif terhadap kenaikan harga komoditas global, seperti disinggung analis BRI Danareksa Sekuritas.
- Risiko sektor konsumer: permintaan produk makanan dan minuman relatif stabil, tapi daya beli masyarakat dan kebijakan harga bahan pokok tetap bisa memengaruhi volume penjualan.
- Konsentrasi bisnis domestik: meski ada ekspor ke Australia, Asia, dan Eropa, pasar utama Indofood tetap Indonesia, sehingga kondisi ekonomi dalam negeri jadi faktor penting.
- Risiko likuiditas dan volatilitas harga: dengan rata-rata volume harian 6,57 juta lembar dalam tiga bulan terakhir dan harga yang sudah turun 7,7% dalam setahun, pergerakan saham ini perlu dipantau relatif terhadap rentang 52 minggunya yang cukup lebar, dari Rp5.850 sampai Rp7.600.
- Keterbatasan data publik: sumber yang kami cek tidak memuat rincian struktur kepemilikan saham terkini, kebijakan dividen, maupun laporan keuangan kuartal terbaru secara lengkap, sehingga investor perlu melengkapi riset dari laporan resmi di idx.co.id sebelum mengambil keputusan.
Apa artinya buat investor
Beberapa hal konkret yang bisa dipantau dari data yang ada, alih-alih menebak arah harga ke depan:
- Level harga: INDF saat ini di Rp6.625, dengan support jangka pendek yang pernah disebut analis di Rp6.550 (per 19 Oktober 2026) dan Rp7.425 (per 10 September 2026, saat harga masih di kisaran Rp7.600-an). Selisih dua level ini menggambarkan seberapa jauh harga sudah bergeser dalam rentang sebulan lebih.
- Rentang 52 minggu Rp5.850-Rp7.600 bisa jadi acuan untuk melihat posisi harga saat ini relatif terhadap titik tertinggi dan terendah setahun terakhir.
- Laporan keuangan berikutnya: angka semester I 2026 yang sudah dirilis, yaitu penjualan naik 9% dan laba turun 19%, adalah data terakhir yang tersedia di sumber yang kami cek. Laporan kuartal III atau laporan tahun penuh 2026 belum muncul di pemberitaan yang kami telusuri, sehingga jadwal rilis resmi di idx.co.id perlu dipantau.
- Sensitivitas terhadap rupiah dan harga komoditas: karena laba bersih semester I 2026 tertekan kerugian kurs yang belum terealisasi, pergerakan nilai tukar rupiah ke depan relevan dipantau sebagai indikator apakah tekanan serupa berpotensi berulang.
- Data dividen: karena tidak ada di sumber yang kami cek, investor yang mengandalkan dividen sebagai bagian dari pertimbangan perlu mengecek langsung riwayat pembayarannya di idx.co.id.
Cara beli saham INDF
Satu lot saham INDF setara 100 lembar. Berdasarkan harga per 23 Oktober 2026 di Rp6.625 per lembar, nilai satu lot sekitar Rp662.500.
Untuk membeli saham ini, investor perlu membuka rekening efek di perusahaan sekuritas yang berizin OJK dan terdaftar sebagai anggota bursa di BEI. Setelah rekening aktif dan dana disetor, order beli saham INDF bisa dilakukan lewat aplikasi trading sekuritas tersebut sesuai harga pasar yang berlaku saat itu.
Artikel ini bersifat informasi untuk membantu riset, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham INDF.
Sumber
- Yahoo Finance
- Wikipedia · Indofood Sukses Makmur
- investor.id · Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin 19 Oktober 2026: MYOR, ACES, INDF
- liputan6.com · Rekomendasi Saham Analis 13 Oktober 2026: BBCA, ADRO, INDF, KLBF, ANTM, MAPA
- investasi.kontan.co.id · Simak Rekomendasi Teknikal Saham AKRA, INDF, dan DEWA untuk Hari Ini (10/9)
- liputan6.com · Saham INDF
Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.