Saham INCO: Profil Vale Indonesia, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
INCO turun ke Rp3.800 per 26 Oktober 2026, jauh dari puncak 52 minggu Rp7.900. Ini profil bisnis nikel, kinerja, dan risiko Vale Indonesia.
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan
INCO adalah kode saham PT Vale Indonesia Tbk di Bursa Efek Indonesia, perusahaan tambang dan pengolahan nikel terintegrasi yang beroperasi di Blok Sorowako, Sulawesi Selatan. Perusahaan ini bagian dari Vale, grup pertambangan multikomoditas asal Brasil, dan sejak 2020 sebagian sahamnya dimiliki pemerintah Indonesia lewat MIND ID.
Ringkasan saham INCO
Per 26 Oktober 2026:
| Item | Detail |
|---|---|
| Kode | INCO |
| Nama resmi | PT Vale Indonesia Tbk |
| Sektor/subsektor | belum ada di sumber yang kami cek |
| Tahun IPO | 1990 |
| Harga terakhir | Rp3.800 per lembar |
| Harga 1 lot | Rp380.000 (100 lembar) |
| Rentang 52 minggu | Rp3.210 - Rp7.900 |
| Kinerja 1 bulan | -19,5% |
| Kinerja 3 bulan | -22,0% |
| Kinerja 1 tahun | -10,0% |
| Indeks (LQ45/IDX30) | belum ada di sumber yang kami cek |
Rata-rata volume harian dalam tiga bulan terakhir tercatat 15,37 juta lembar, menandakan saham ini masih cukup aktif diperdagangkan meski harganya sedang tertekan.
Bisnis Vale Indonesia
Vale Indonesia menambang nikel laterit dan mengolahnya menjadi nikel dalam matte, produk setengah jadi yang jadi bahan baku industri baja tahan karat dan baterai. Seluruh operasi tambang dan pabrik berada di Blok Sorowako, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Teknologi yang dipakai adalah pyrometalurgi, proses peleburan bersuhu tinggi untuk memisahkan nikel dari bijihnya.
Volume produksi nikel perusahaan rata-rata sekitar 75.000 metrik ton per tahun. Seluruh hasil produksi dijual ke dua pembeli lewat kontrak jangka panjang, yaitu Vale Canada dan Sumitomo Metal Mining Co., Ltd. dari Jepang. Pola penjualan yang terkonsentrasi pada dua mitra ini jadi ciri khas bisnis Vale Indonesia dibanding penambang nikel lain yang menjual ke pasar domestik lebih luas.
Wilayah operasi perusahaan saat ini seluas 118.017 hektare, tersebar di Sulawesi Selatan (70.566 hektare), Sulawesi Tengah (22.699 hektare), dan Sulawesi Tenggara (24.752 hektare). Luas ini sudah menyusut dari 190.510 hektare pada Kontrak Karya awal, hasil renegosiasi tahun 2014 dan pelepasan 418 hektare untuk kawasan terpadu mandiri pemerintah daerah pada 2017.
Untuk menopang operasi, Vale Indonesia menjalankan tiga pembangkit listrik tenaga air: PLTA Larona (165 MW, beroperasi sejak 1979), PLTA Balambano (110 MW, 1999), dan PLTA Karebbe (90 MW, 2011). Sekitar 38% konsumsi energi operasionalnya berasal dari ketiga PLTA ini, yang tergolong energi terbarukan.
Di luar aktivitas tambang, perusahaan menjalankan program reklamasi lahan lewat kebun bibit modern yang beroperasi sejak April 2006. Fasilitas seluas 2,5 hektare ini memproduksi rata-rata 700.000 bibit per tahun dan dipakai untuk merehabilitasi lebih dari 100 hektare lahan bekas tambang setiap tahunnya. Perusahaan juga membangun 80 kolam pengendapan dengan teknologi Lamella Gravity Settler pada 2014, senilai investasi 3,5 juta dollar AS, yang disebut sebagai fasilitas pengolahan air limbah pertama dengan teknologi itu di industri pertambangan Indonesia.
Perusahaan saat ini sedang membangun pabrik pengolahan nikel baru di Sambalagi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dan di Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, bersama mitranya. Proyek ini berkaitan dengan teknologi HPAL (high pressure acid leaching), proses pengolahan nikel kadar rendah yang makin dibutuhkan sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik.
Sejarah singkat dan IPO
Kontrak Karya pertama Vale Indonesia, yang saat itu masih bernama PT International Nickel Indonesia, diteken pada 1968. Produksi nikel komersial pertama dimulai 1978, dikirim ke Jepang. Perusahaan mencatatkan saham di Bursa Efek Jakarta (sekarang BEI) pada 16 Mei 1990 lewat IPO sebesar 21,18% saham.
Beberapa tonggak penting sesudahnya:
- 1996: Kontrak Karya direnegosiasi, masa operasi diperpanjang hingga 2025.
- 2011: perusahaan berganti nama dari PT INCO menjadi PT Vale Indonesia Tbk, bersamaan dengan beroperasinya PLTA Karebbe.
- 2014: Kontrak Karya diamendemen, termasuk pengurangan luas wilayah konsesi.
- 2015: rekor produksi tertinggi tercatat 81.200 metrik ton, sekaligus memperkenalkan budidaya padi organik di wilayah pemberdayaan masyarakat sekitar Sorowako.
- 2018: perusahaan mencatat rekor 17,4 juta jam kerja tanpa kecelakaan kerja (zero lost time injury) dalam periode 5 April 2017 hingga 5 April 2018.
- 2019: Vale Indonesia meraih predikat PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
- 2020: pemerintah Indonesia lewat MIND ID (PT Indonesia Asahan Aluminium) mengambil 20% saham perusahaan lewat skema divestasi.
- 13 Mei 2024: perusahaan memperoleh Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang berlaku hingga 28 Desember 2035, perpanjangan 10 tahun dari masa Kontrak Karya yang berakhir 28 Desember 2025.
Pemegang saham dan manajemen
Berdasarkan sumber yang tersedia, Vale Indonesia merupakan bagian dari Vale, perusahaan multitambang asal Brasil, sebagai pemegang saham pengendali. Pemerintah Indonesia lewat MIND ID (PT Indonesia Asahan Aluminium) memiliki 20% saham sejak proses divestasi pada 2020. Nama direksi dan komisaris saat ini tidak disebut di sumber yang kami cek, jadi untuk susunan manajemen terbaru sebaiknya dicek langsung di laporan tahunan atau situs resmi perusahaan.
Kinerja keuangan terbaru
Pada semester I-2026, Vale Indonesia membukukan laba bersih 104,37 juta dollar AS, setara sekitar Rp1,87 triliun, melonjak 313,4% secara tahunan dibanding periode sama tahun sebelumnya. Pendapatan perusahaan pada periode yang sama naik 27,26% secara tahunan menjadi 543,06 juta dollar AS, menurut laporan Kompas yang mengutip data kinerja perusahaan.
Lonjakan laba yang jauh lebih besar dari kenaikan pendapatan biasanya terkait dengan kombinasi kenaikan harga jual nikel dan efisiensi biaya produksi, meski rincian detailnya tidak dijabarkan di sumber ini. Untuk angka laporan keuangan lengkap per kuartal atau semester terbaru, investor sebaiknya mengecek laporan keuangan resmi yang dipublikasikan di idx.co.id.
Dividen
Sumber yang kami cek tidak menyebutkan kebijakan atau riwayat dividen Vale Indonesia. Investor yang ingin tahu detail pembagian dividen, rasio payout, atau jadwal cum date sebaiknya merujuk langsung ke keterbukaan informasi perusahaan di idx.co.id atau situs resmi Vale Indonesia.
Pergerakan harga saham INCO
Per 26 Oktober 2026, INCO diperdagangkan di Rp3.800, hanya sedikit di atas batas bawah rentang 52 minggunya di Rp3.210 dan jauh dari puncak Rp7.900. Posisi ini menunjukkan saham sedang berada di area bawah kisaran setahun terakhir, setelah koreksi beruntun: turun 19,5% dalam sebulan dan 22,0% dalam tiga bulan terakhir. Secara tahunan, penurunannya lebih moderat di 10,0%.
Sempat ada momen rebound. Pada 22 Oktober 2026, menurut laporan Kompas, saham INCO melonjak 5,12% ke Rp3.900 pada sesi siang, mengikuti penguatan ANTM sebesar 4,4%. BRI Danareksa Sekuritas menilai kenaikan ini terjadi setelah saham mengalami tekanan jual yang dalam, namun belum mengonfirmasi pembalikan tren karena masih menghadapi level resistance di kisaran 4.047, berdekatan dengan moving average 20 hari di 4.097. Jika level itu tertembus, target kenaikan berikutnya ada di 4.560, yang juga merupakan garis tren turun (downtrend line). Di sisi bawah, area 3.600 disebut sebagai support terdekat yang perlu dijaga. Indikator MACD saat itu masih berada di zona negatif dan di bawah garis sinyal, menandakan momentum pemulihan belum cukup kuat.
Berita dan katalis terbaru
Beberapa perkembangan yang relevan dipantau pemegang saham INCO:
- 22 Oktober 2026 (Kompas): INCO dan ANTM rebound setelah koreksi tajam, dengan laporan kinerja laba bersih semester I-2026 yang melonjak 313,4% YoY menjadi 104,37 juta dollar AS dan pendapatan naik 27,26% YoY menjadi 543,06 juta dollar AS.
- 20 Oktober 2026 (Liputan6): Vale Indonesia menghadapi kenaikan harga sulfur menjelang pengembangan fasilitas pengolahan nikel baru berbasis HPAL, sebuah tantangan biaya produksi untuk proyek ekspansi di Sambalagi dan Pomalaa.
- 19 Oktober 2026 (TopBusiness dan Liputan6): INCO masuk daftar trading idea dari BNI Sekuritas bersama TINS, NCKL, AADI, CPIN, dan TAPG, di tengah sentimen negatif pasar akibat rencana penurunan status pasar Indonesia oleh MSCI dari kategori emerging market. Pada 16 Oktober 2026, IHSG anjlok 11%, penurunan terdalam sejak 1998, disertai net sell asing sekitar Rp3,4 triliun, dengan saham-saham kepemilikan asing tinggi seperti BBCA, BBRI, BMRI, ANTM, dan TLKM menjadi yang paling banyak dilepas. Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, dalam risetnya menyarankan investor menghindari dulu saham dengan kepemilikan asing tinggi akibat dampak wacana downgrade MSCI tersebut.
Apa artinya buat investor
Ada beberapa titik konkret yang bisa dipantau untuk INCO dalam waktu dekat, bukan sebagai sinyal beli atau jual, melainkan sebagai acuan membaca arah saham ini.
Di sisi teknikal, level resistance Rp4.047 dan moving average 20 hari di Rp4.097 jadi penentu apakah rebound dari 22 Oktober berlanjut atau cuma pantulan sesaat setelah koreksi dalam. Kalau dua level itu tertembus, target berikutnya ada di area Rp4.560, yang juga menjadi garis downtrend yang sudah bertahan beberapa bulan terakhir. Di sisi bawah, support Rp3.600 jadi batas yang biasa dipakai analis sebagai sinyal pelemahan lanjutan kalau harga jatuh di bawahnya.
Dari sisi fundamental, laporan keuangan kuartal atau semester berikutnya akan jadi penentu apakah lonjakan laba 313,4% YoY pada semester I-2026 bisa berlanjut, atau justru sudah mencapai puncaknya karena faktor harga nikel yang sifatnya sementara.
Sentimen makro juga layak diawasi. Wacana downgrade status pasar Indonesia oleh MSCI, yang memicu koreksi IHSG 11% pada 16 Oktober 2026, membuat saham berkepemilikan asing tinggi seperti INCO rawan tertekan kembali kalau ada kepastian baru soal keputusan MSCI tersebut.
Terakhir, perkembangan proyek HPAL di Sambalagi dan Pomalaa, termasuk dampak kenaikan harga sulfur terhadap biaya produksinya, patut diikuti karena berpotensi memengaruhi margin Vale Indonesia begitu fasilitas itu mulai beroperasi.
Pesaing di BEI
Beberapa emiten tambang nikel dan logam lain yang sering dibandingkan dengan INCO di BEI:
- ANTM (Aneka Tambang): BUMN tambang dengan portofolio lebih beragam, mencakup nikel, emas, dan bauksit, berbeda dengan INCO yang fokus pada nikel matte.
- NCKL (Trimegah Bangun Persada): produsen nikel swasta dengan basis operasi di luar Sulawesi Selatan, sering disebut berdampingan dengan INCO dalam riset saham komoditas tambang.
- TINS (Timah): penambang logam BUMN, meski komoditas utamanya timah bukan nikel, sering masuk dalam kelompok saham tambang yang bergerak searah karena sentimen sektor serupa.
Risiko
Beberapa risiko konkret yang perlu dipantau pemegang saham INCO:
- Risiko harga komoditas: pendapatan INCO sangat bergantung pada harga nikel global, yang fluktuatif mengikuti permintaan industri baja tahan karat dan baterai kendaraan listrik.
- Risiko regulasi dan perizinan: meski IUPK sudah diperpanjang hingga 2035, bisnis pertambangan di Indonesia tetap tunduk pada kebijakan pemerintah yang bisa berubah, termasuk soal luas wilayah konsesi dan kewajiban hilirisasi.
- Konsentrasi pelanggan: seluruh produksi nikel matte dijual ke dua pembeli, Vale Canada dan Sumitomo Metal Mining, lewat kontrak jangka panjang. Ketergantungan pada dua mitra ini membuat perusahaan rentan jika ada perubahan kontrak atau kebijakan pembeli.
- Risiko biaya produksi: kenaikan harga sulfur yang dilaporkan menjelang pengembangan fasilitas HPAL baru bisa menekan margin proyek ekspansi di Sambalagi dan Pomalaa.
- Risiko pasar dan likuiditas: saham INCO termasuk yang diawasi dalam kelompok saham berkepemilikan asing tinggi, sehingga rentan terkena dampak sentimen makro seperti wacana downgrade MSCI terhadap status pasar Indonesia.
- Risiko teknikal harga: saham masih berada di bawah level resistance penting (4.047 dan MA20 di 4.097) dengan indikator MACD negatif, menandakan tren pemulihan belum terkonfirmasi kuat.
Cara beli saham INCO
Untuk membeli saham INCO, satu lot setara 100 lembar saham. Per 26 Oktober 2026, harga satu lot INCO sekitar Rp380.000 berdasarkan harga Rp3.800 per lembar. Transaksi dilakukan lewat perusahaan sekuritas yang sudah berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terdaftar sebagai anggota bursa di BEI. Calon investor perlu membuka rekening efek terlebih dahulu di sekuritas pilihan, melengkapi dokumen identitas, lalu menyetor dana ke rekening dana nasabah (RDN) sebelum bisa mulai bertransaksi.
FAQ
Apakah INCO rutin membagikan dividen?
Sumber yang kami cek tidak menyebutkan riwayat atau nominal dividen INCO. Untuk data dividen resmi, sebaiknya cek laporan keuangan dan pengumuman aksi korporasi di idx.co.id.
Berapa harga 1 lot saham INCO?
Per 26 Oktober 2026, harga INCO Rp3.800 per lembar, sehingga 1 lot (100 lembar) senilai Rp380.000.
Apakah INCO masuk indeks LQ45?
Keanggotaan INCO di LQ45 atau IDX30 belum ada di sumber yang kami cek.
Apa bedanya INCO dengan ANTM?
ANTM adalah BUMN tambang yang portofolionya lebih beragam (nikel, emas, bauksit), sementara INCO fokus pada tambang dan pengolahan nikel matte di Sorowako dan merupakan bagian dari Vale asal Brasil, dengan MIND ID sebagai salah satu pemegang saham sejak divestasi 2020.
Kenapa harga saham INCO turun tajam dalam sebulan terakhir?
Penurunan ini terjadi bersamaan dengan koreksi tajam IHSG akibat wacana penurunan status pasar Indonesia oleh MSCI pada pertengahan Oktober 2026, yang memicu aksi jual asing besar-besaran di saham-saham dengan kepemilikan asing tinggi.
Siapa pemegang saham utama INCO?
INCO merupakan bagian dari Vale, perusahaan multitambang asal Brasil, dan sejak 2020 pemerintah Indonesia melalui MIND ID (PT Indonesia Asahan Aluminium) memegang 20% saham hasil divestasi.
Artikel ini disusun sebagai informasi untuk investor, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham INCO.
Sumber
- Yahoo Finance
- Wikipedia · Vale Indonesia
- money.kompas.com · Saham ANTM Melonjak 4,4 Persen, INCO Ikut Rebound, Simak Prospeknya
- liputan6.com · Saham INCO
- topbusiness.id · Impact Downgrade MSCI Rating Masih Kuat, Enam Saham Ini Jadi Pilihan: TINS, NCKL, INCO, AADI, CPIN, dan TAPG
- liputan6.com · Rekomendasi Saham Analis 19 Oktober 2026: TINS, NCKL, INCO, AADI, CPIN
Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.