Saham ICBP: Profil Indofood CBP Sukses Makmur, Bisnis dan Risikonya
ICBP, produsen Indomie dan produk konsumen bermerek Indofood, diperdagangkan Rp6.075 per 22 Oktober 2026, turun 31,7% dalam setahun.
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan
ICBP adalah kode saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan ini anak usaha Indofood Sukses Makmur (INDF) yang memproduksi mi instan, bumbu, kecap, sambal, hingga biskuit dengan merek-merek yang akrab di dapur rumah tangga Indonesia. Sahamnya tercatat di BEI sejak 2010 dan termasuk kelompok saham dengan likuiditas relatif tinggi di pasar.
Ringkasan saham ICBP
Per 22 Oktober 2026:
| Kategori | Detail |
|---|---|
| Kode | ICBP |
| Nama resmi | PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk |
| Sektor/subsektor | belum ada di sumber yang kami cek |
| Tahun IPO | 2010 (7 Oktober 2010) |
| Harga terakhir | Rp6.075 per lembar |
| Harga 1 lot | Rp607.500 (100 lembar) |
| Rentang 52 minggu | Rp5.500 - Rp8.975 |
| Kinerja 1 bulan / 3 bulan / 1 tahun | -11,6% / -14,7% / -31,7% |
| Indeks | LQ45 (disebut dalam pemberitaan 21 Oktober 2026) |
Bisnis Indofood CBP
ICBP lahir dari restrukturisasi internal Grup Consumer Branded Products (CBP) milik Indofood Sukses Makmur. Perusahaan ini menaungi bisnis mi instan dan bumbu yang sebelumnya tersebar di beberapa anak usaha Indofood, lalu digabung jadi satu entitas pada 2009-2010.
Pada Januari 2010, empat perusahaan lagi digabung penuh ke ICBP: PT Gizindo Primanusantara, PT Indosentra Pelangi (produsen bumbu, kecap, dan sambal bermerek Indofood), PT Indobiskuit Mandiri Makmur, dan PT Ciptakemas Abadi yang bergerak di bidang kemasan. Dengan begitu, portofolio ICBP mencakup mi instan, bumbu dapur, kecap, sambal, biskuit, dan kemasan untuk kebutuhan produksi sendiri maupun pihak ketiga.
Sebagai bagian dari Grup Indofood yang lebih besar, sejarah grup ini juga mencatat kerja sama dengan Frito-Lay (anak usaha PepsiCo) untuk kategori makanan ringan seperti Chitato dan Lay's, serta dengan Nestlé untuk kategori bumbu tertentu. Detail struktur kepemilikan masing-masing kerja sama ini di level ICBP secara spesifik tidak dirinci dalam sumber yang kami cek.
Sejarah singkat dan IPO
Cikal bakal bisnis mi instan Indofood bermula jauh sebelum ICBP berdiri sebagai entitas terpisah. PT Sanmaru Food Manufacturing mulai memproduksi Indomie pada 1972, disusul Sarimi pada 1982, dan Pop Mie pada 1987. Seluruh entitas produsen makanan milik Grup Salim ini kemudian digabung ke dalam PT Indofood Sukses Makmur pada 12 Februari 1994, tak lama sebelum perusahaan mencatatkan sahamnya (sebagai Indofood) di Bursa Efek Jakarta pada 14 Juli 1994 dengan harga Rp6.200 per saham.
Belasan tahun kemudian, Indofood memekarkan sebagian bisnisnya. Pada 2009, kegiatan usaha mi instan dan bumbu dipisahkan dan digabungkan ke dalam entitas baru bernama PT Indofood CBP Sukses Makmur. Setelah proses restrukturisasi rampung di awal 2010, ICBP melakukan Penawaran Saham Perdana dan resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 7 Oktober 2010.
Pemegang saham dan manajemen
ICBP adalah anak usaha PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), yang kepemilikannya dipegang Grup Salim melalui First Pacific, lengan bisnis Salim di Hong Kong. Berdasarkan pemberitaan RUPST ICBP tanggal 26 Juni 2026, Anthoni Salim menjabat sebagai Direktur Utama dan CEO ICBP. Nama yang sama juga tercatat sebagai Direktur Utama Indofood Sukses Makmur sejak 24 Juni 2004, menunjukkan kepemimpinan Grup Salim yang menyatu di induk maupun anak usaha.
Untuk rincian lengkap struktur kepemilikan saham publik serta jajaran direksi dan komisaris terkini, sumber yang kami cek tidak memuat detailnya. Pembaca yang butuh data persentase kepemilikan saham bisa mengecek laporan tahunan atau keterbukaan informasi ICBP di idx.co.id.
Kinerja keuangan terbaru
Sumber yang kami cek untuk artikel ini tidak memuat angka pendapatan atau laba bersih ICBP untuk periode kuartalan maupun tahunan terbaru. Karena itu, kami tidak bisa menyajikan angka pertumbuhan pendapatan atau laba secara spesifik di sini.
Investor yang ingin melihat kinerja keuangan ICBP secara akurat sebaiknya mengecek laporan keuangan resmi perusahaan yang dipublikasikan di situs Bursa Efek Indonesia, idx.co.id, atau laman investor relations ICBP.
Dividen
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada Kamis, 26 Juni 2026, pemegang saham ICBP menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp265 per lembar saham. Direktur Utama dan CEO ICBP, Anthoni Salim, menyatakan dividen tersebut dibayarkan kepada pemegang saham pada 28 Juli 2026.
Dihitung dari harga saham ICBP per 22 Oktober 2026 di Rp6.075, dividen Rp265 per saham itu setara dengan sekitar 4,4% dari harga saat ini. Angka ini sekadar perbandingan matematis, bukan patokan yield yang pasti berulang tahun depan, karena kebijakan dividen bisa berubah tiap tahun buku.
Pergerakan harga saham ICBP
Per 22 Oktober 2026, ICBP diperdagangkan di Rp6.075 per lembar. Posisi ini berada di bagian bawah rentang 52 minggu Rp5.500 hingga Rp8.975, lebih dekat ke level terendah ketimbang tertinggi tahunan.
Secara tren, saham ini masih tertekan dalam beberapa periode terakhir. Kinerja 1 bulan tercatat -11,6%, 3 bulan -14,7%, dan 1 tahun -31,7%. Dari puncak 52 minggu di Rp8.975, harga saat ini sudah terkoreksi cukup dalam.
Namun ada sinyal pembalikan arah jangka pendek. Pada penutupan perdagangan Rabu, 21 Oktober 2026, ICBP menguat 5,19% ke Rp6.075, salah satu kenaikan harian terbesar di jajaran saham LQ45 hari itu, menurut data Bursa Efek Indonesia yang dikutip digtara.com. Sebelum itu, herald.id pada 11 Oktober 2026 sudah mencatat tanda-tanda pemulihan pada ICBP dan INDF setelah keduanya sempat tertekan.
Dari sisi likuiditas, rata-rata volume transaksi harian ICBP dalam 3 bulan terakhir tercatat 5,86 juta lembar, angka yang relatif memadai untuk saham berkapitalisasi besar di BEI.
Berita dan katalis terbaru
Beberapa perkembangan yang relevan bagi pemegang atau calon pemegang saham ICBP belakangan ini:
- 21 Oktober 2026 (digtara.com): ICBP melesat 5,19% ke Rp6.075, ikut mengangkat IHSG yang ditutup naik 0,94% ke 5.328,36. Penguatan ini terjadi sehari setelah Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI Rate di 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur 20-21 Oktober 2026, sebagaimana disampaikan Gubernur BI Destry Damayanti.
- 21 Oktober 2026 (insight.kontan.co.id): berdasarkan data transaksi hingga Selasa, 20 Oktober 2026, ICBP justru mencatat jual bersih asing Rp91,2 miliar dalam sepekan dan Rp89,76 miliar dalam sebulan. Ini kontras dengan induk usahanya, INDF, yang mencatat beli bersih asing Rp142,45 miliar sepekan dan Rp168,26 miliar sebulan pada periode yang sama.
- 11 Oktober 2026 (herald.id): ICBP dan INDF disebut mulai menunjukkan tanda pemulihan harga setelah sempat tertekan, meski fokus utama artikel ini sebenarnya saham komponen otomotif DRMA.
- 26 Juni 2026 (liputan6.com): RUPST ICBP menyetujui dividen tunai Rp265 per saham, dengan jadwal pembayaran 28 Juli 2026.
Di luar katalis spesifik ICBP, pasar saham secara umum masih diwarnai ketidakpastian terkait arah kebijakan indeks MSCI dan arus modal asing, faktor yang menurut Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, turut memengaruhi pergerakan IHSG secara luas.
Pesaing di BEI
Beberapa emiten konsumer di BEI yang beririsan dengan lini bisnis ICBP:
- MYOR (Mayora Indah): produsen biskuit, kembang gula, kopi olahan, dan mi instan, dengan porsi ekspor yang relatif besar.
- ULTJ (Ultrajaya Milk Industry): fokus pada susu cair dan minuman UHT, lebih sempit dibanding ragam lini produk ICBP.
- GOOD (Garudafood Putra Putri Jaya): produsen makanan ringan dan minuman kemasan, bersaing di rak ritel yang sama dengan sebagian produk ICBP.
INDF sebagai induk usaha ICBP juga tercatat terpisah di BEI, meski keduanya bukan pesaing melainkan satu grup usaha dengan segmen bisnis berbeda.
Risiko
Beberapa risiko yang relevan dipantau terkait saham ICBP:
- Volatilitas harga saham: ICBP sudah terkoreksi 31,7% dalam setahun terakhir dan berada di bagian bawah rentang 52 minggu, menunjukkan tekanan jual yang berkepanjangan.
- Arus modal asing: data per 20 Oktober 2026 menunjukkan ICBP mencatat jual bersih asing dalam sepekan maupun sebulan terakhir, berbeda dari tren beli bersih asing di saham induknya, INDF.
- Risiko makro: ketidakpastian kebijakan indeks MSCI dan arus dana asing disebut sebagai salah satu faktor yang bisa memengaruhi keberlanjutan penguatan IHSG secara umum, termasuk saham-saham di dalamnya.
- Sensitivitas terhadap suku bunga dan nilai tukar: keputusan BI Rate dan pergerakan rupiah berdampak pada sentimen pasar saham konsumer secara luas, sebagaimana tercermin dari reaksi pasar usai RDG BI 21 Oktober 2026.
- Konsentrasi bisnis: sebagian besar lini usaha ICBP berpusat pada produk pangan olahan bermerek seperti mi instan dan bumbu dapur, sehingga kinerja perusahaan cukup terkait dengan daya beli konsumen domestik dan harga bahan baku.
- Keterbatasan data kinerja keuangan: sumber yang kami cek tidak memuat angka laba atau pendapatan terbaru, jadi investor perlu memverifikasi sendiri data fundamental melalui laporan keuangan resmi di idx.co.id sebelum mengambil keputusan.
Apa artinya buat investor
Beberapa hal konkret yang bisa dipantau terkait ICBP ke depan:
- Posisi harga Rp6.075 saat ini dekat dengan level terendah 52 minggu di Rp5.500. Pergerakan harga dalam beberapa sesi ke depan bisa menunjukkan apakah level ini bertahan sebagai area penopang atau justru tertembus.
- Tren beli-jual asing: data hingga 20 Oktober 2026 menunjukkan ICBP masih net sell asing, berbeda dari INDF yang net buy. Data beli/jual bersih asing semacam ini biasanya diperbarui harian dan bisa dipantau lewat data Bursa Efek Indonesia atau aplikasi sekuritas.
- Jadwal dividen: dividen Rp265 per saham untuk tahun buku sebelumnya sudah dibayarkan 28 Juli 2026. Kebijakan dividen untuk tahun berikutnya biasanya diputuskan lewat RUPST pertengahan tahun, sehingga jadwal RUPST ICBP berikutnya layak dipantau bagi yang mengincar dividen.
- Reaksi terhadap kebijakan BI Rate: keputusan Rapat Dewan Gubernur BI berikutnya berpotensi memengaruhi sentimen saham konsumer termasuk ICBP, mengingat reaksi pasar yang positif usai BI mempertahankan suku bunga di 5,75% pada 21 Oktober 2026.
- Laporan keuangan resmi: karena sumber yang kami cek tidak memuat angka pendapatan dan laba terbaru, menunggu rilis laporan keuangan kuartalan ICBP di idx.co.id jadi langkah yang masuk akal sebelum menilai fundamental perusahaan secara menyeluruh.
Cara beli saham ICBP
Untuk membeli saham ICBP, investor perlu membuka rekening efek di perusahaan sekuritas yang berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan merupakan anggota Bursa Efek Indonesia. Transaksi saham di BEI dilakukan dalam satuan lot, di mana 1 lot setara 100 lembar saham.
Dengan harga ICBP di Rp6.075 per lembar per 22 Oktober 2026, nilai 1 lot saham ini sekitar Rp607.500, belum termasuk biaya transaksi broker yang besarannya bervariasi antar sekuritas.
FAQ
Apakah ICBP rutin membagikan dividen?
Berdasarkan data yang kami cek, ICBP membagikan dividen tunai Rp265 per saham yang disetujui dalam RUPST 26 Juni 2026 dan dibayarkan 28 Juli 2026. Untuk riwayat dividen tahun-tahun sebelumnya, cek keterbukaan informasi resmi di idx.co.id.
Berapa harga 1 lot saham ICBP?
Dengan harga terakhir Rp6.075 per lembar, 1 lot (100 lembar) ICBP bernilai sekitar Rp607.500, belum termasuk biaya transaksi dari sekuritas.
Apakah ICBP masuk indeks LQ45?
Berdasarkan pemberitaan digtara.com tanggal 21 Oktober 2026, ICBP disebut sebagai salah satu saham dalam indeks LQ45 yang mencatat penguatan signifikan.
Apa bedanya ICBP dengan induknya, INDF?
ICBP adalah anak usaha Indofood Sukses Makmur (INDF) yang fokus pada produk konsumen bermerek seperti mi instan, bumbu, kecap, sambal, dan biskuit, sementara INDF sebagai induk memiliki portofolio lebih luas termasuk agribisnis dan Bogasari.
Kenapa ICBP naik 5,19% pada 21 Oktober 2026?
Kenaikan ICBP ke Rp6.075 terjadi bersamaan dengan penguatan IHSG 0,94% setelah Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75%, menurut laporan digtara.com.
Artikel ini bersifat informasi untuk membantu riset, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham ICBP.
Sumber
- Yahoo Finance
- Wikipedia · Indofood Sukses Makmur
- digtara.com · Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Kamis 22 Oktober 2026
- insight.kontan.co.id · Bukan ICBP atau MYOR, Saham Konsumer Ini yang Paling Diincar Asing saat Pasar Tekanan
- herald.id · Saham DRMA Rebound ke Rp960 Meski Komisaris Jual Saham, ICBP dan INDF Mulai Bangkit
- liputan6.com · ICBP Sebar Dividen Rp 265 per Saham, Simak Tanggal Cairnya
Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.