OpenTrades
TentangAUMSimulasiCara ikutChartHargaNewsFAQ
  IDEN English versionMasukDaftar gratis
TentangAUMSimulasiCara ikutChartHargaNewsFAQ
Mata uang  
MasukDaftar gratis
NewsProfil Saham

Saham CPIN: Profil Charoen Pokphand Indonesia, Bisnis, Kinerja, Risikonya

CPIN diperdagangkan Rp2.760 per lembar, turun 47,2% dalam setahun usai didepak dari MSCI Global Standard. Begini profil bisnis dan risikonya.

TTim Queenby24 Oktober 2026 · 11 menit baca

Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan

Saham CPIN: Profil Charoen Pokphand Indonesia, Bisnis, Kinerja, Risikonya
Di artikel ini
  1. Ringkasan saham CPIN
  2. Bisnis Charoen Pokphand Indonesia
  3. Sejarah singkat dan IPO
  4. Pemegang saham dan manajemen
  5. Kinerja keuangan terbaru
  6. Dividen
  7. Pergerakan harga saham CPIN
  8. Berita dan katalis terbaru
  9. Pesaing di BEI
  10. Risiko
  11. Apa artinya buat investor
  12. Cara beli saham CPIN
  13. FAQ
  14. Apakah CPIN rutin membagikan dividen?
  15. Berapa harga 1 lot saham CPIN?
  16. Apakah CPIN masuk indeks LQ45?
  17. Apa beda CPIN dengan JPFA?
  18. Kenapa harga saham CPIN turun tajam dalam setahun terakhir?

CPIN adalah kode saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan ini bergerak di bisnis agribisnis unggas terintegrasi: produksi pakan ternak, pembibitan anak ayam atau day old chick (DOC), hingga budi daya dan pengolahan daging ayam. CPIN merupakan bagian dari Charoen Pokphand Group, konglomerat asal Thailand yang juga menguasai bisnis pakan, unggas, ritel, hingga telekomunikasi di berbagai negara.

Ringkasan saham CPIN

Per 24 Oktober 2026:

KeteranganDetail
KodeCPIN
Nama resmiPT Charoen Pokphand Indonesia Tbk
Sektor/subsektorbelum ada di sumber yang kami cek (bisnis utama: pakan ternak, pembibitan unggas, dan pengolahan daging ayam)
Tahun IPObelum ada di sumber yang kami cek
Harga terakhirRp2.760 per lembar
Harga 1 lotRp276.000 (100 lembar)
Rentang 52 mingguRp2.390 - Rp5.275
Kinerja 1 bulan-8,6%
Kinerja 3 bulan-14,6%
Kinerja 1 tahun-47,2%
Indeks LQ45/IDX30belum ada di sumber yang kami cek

Rata-rata volume harian dalam 3 bulan terakhir tercatat 30,99 juta lembar, menurut data Yahoo Finance.

Bisnis Charoen Pokphand Indonesia

CPIN menjalankan model bisnis terintegrasi vertikal ala Charoen Pokphand Group: mulai dari produksi pakan ternak, pembibitan anak ayam (DOC), hingga budi daya ayam pedaging dan pengolahan produk olahan daging ayam. Dari laporan keuangan semester I 2026 yang dikutip mikirduit.com, tiga segmen utama perusahaan adalah ayam pedaging sebagai kontributor pendapatan terbesar, disusul segmen pakan, dan penjualan DOC.

Model bisnis ini sejalan dengan strategi besar Charoen Pokphand Group secara global. Menurut Wikipedia Indonesia, grup asal Thailand ini dikenal dengan integrasi vertikal: mereka memasok pakan dan bibit ayam ke peternak mitra, lalu membeli kembali ayam dewasa untuk diproses dan dijual ke pedagang grosir, restoran, hingga gerai waralaba makanan cepat saji. Pola kemitraan dengan peternak lokal inilah yang membuat CP Group bisa membangun jaringan pasokan ayam yang luas di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Sejarah singkat dan IPO

Cikal bakal Charoen Pokphand Group bermula dari toko benih kecil bernama Chia Tai Chueng yang didirikan dua bersaudara imigran Tionghoa, Chia Ek Chor dan Chia Siew Whooy, di Pecinan Bangkok pada 1921. Awalnya bisnis ini mengimpor benih dari Tiongkok dan mengekspor babi serta telur ke Hong Kong. Baru pada dekade 1950-an toko ini mulai masuk ke bisnis pakan ternak, terutama untuk ayam.

Menurut Wikipedia, CP Group meluncurkan operasi pabrik pakan pertamanya di Indonesia pada 1972, bagian dari ekspansi internasional grup ini setelah sebelumnya mengekspor ayam ke Jepang pada 1973 dan masuk ke Singapura pada 1976. Operasi inilah yang menjadi cikal bakal PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk yang kini tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode CPIN. Tahun pasti IPO CPIN di BEI sendiri belum ada di sumber yang kami cek, sehingga pembaca yang butuh detail ini disarankan mengecek riwayat pencatatan di situs resmi idx.co.id.

Pemegang saham dan manajemen

Satu nama pemegang saham signifikan yang muncul dalam keterbukaan informasi BEI adalah UBS AG Ldn. Menurut laporan liputan6.com (17 September 2026), UBS AG membeli 2.261.447 saham CPIN pada 14 September 2026 di harga Rp3.141 per saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp7,10 miliar. Setelah transaksi ini, kepemilikan UBS AG naik dari 5,99% menjadi 6,01%, atau setara 984.998.447 saham.

Keterbukaan informasi tersebut menyebut tujuan transaksi adalah lindung nilai atau hedging atas aktivitas perdagangan derivatif, dengan status kepemilikan langsung. Dokumen yang sama juga mencantumkan UBS AG sebagai pengendali perseroan. Data manajemen, termasuk nama direksi dan komisaris CPIN, tidak tersedia dalam sumber yang kami cek, sehingga pembaca yang ingin detail susunan pengurus sebaiknya merujuk ke laporan tahunan resmi di idx.co.id.

Kinerja keuangan terbaru

Berdasarkan laporan mikirduit.com (1 September 2026) yang mengutip laporan keuangan semester I 2026, CPIN membukukan pertumbuhan laba bersih yang cukup tajam. Berikut ringkasannya:

Pos keuangan (semester I 2026)NilaiPertumbuhan YoY
PendapatanRp39,42 triliun+19,2%
Laba kotorRp6,95 triliun+47,1%
Laba usahaRp4,64 triliun+74,2%
Laba bersihRp3,71 triliun+94,7%
Pendapatan segmen pakanRp13,38 triliun+46%
Penjualan DOC (day old chick)Rp2,28 triliun+71,5%

Menurut laporan tersebut, lonjakan laba bersih lebih banyak didorong efisiensi operasional yang mengerek margin keuntungan, bukan semata dari pertumbuhan penjualan. Segmen pakan mencatat pertumbuhan pendapatan paling agresif dan menjadi kontributor pendapatan terbesar kedua setelah segmen ayam pedaging, yang disebut masih mencatatkan pertumbuhan positif meski angka pastinya tidak tercantum dalam sumber yang kami cek.

Untuk data kinerja kuartal atau tahun buku penuh terbaru, pembaca disarankan mengecek laporan keuangan resmi CPIN di idx.co.id karena sumber yang kami miliki hanya mencakup hingga semester I 2026.

Dividen

Kami tidak menemukan data kebijakan dividen, riwayat pembagian dividen, atau dividend yield CPIN dalam sumber yang tersedia. Pembaca yang ingin mengetahui histori dividen CPIN disarankan mengecek keterbukaan informasi dan laporan tahunan resmi perusahaan di idx.co.id.

Pergerakan harga saham CPIN

Per 24 Oktober 2026, CPIN diperdagangkan di Rp2.760 per lembar. Posisi ini jauh lebih dekat ke batas bawah rentang 52 minggu di Rp2.390, dibanding batas atas di Rp5.275. Artinya, harga saat ini sudah terkoreksi cukup dalam dari level tertingginya dalam setahun terakhir.

Data Yahoo Finance mencatat performa negatif di semua jangka waktu: turun 8,6% dalam sebulan terakhir, 14,6% dalam tiga bulan, dan 47,2% dalam setahun. Rata-rata volume transaksi harian dalam tiga bulan terakhir berada di 30,99 juta lembar.

Tekanan jual ini sejalan dengan sorotan analis soal valuasi CPIN yang disebut sudah sangat murah secara historis. Mikirduit.com dalam artikel 15 Oktober 2026 mencatat PBV (Price to Book Value) CPIN sudah berada di bawah batas -2 standar deviasi dari rata-rata historisnya, bersama BRIS dan TBIG. Istilah PBV band menggambarkan rentang valuasi historis saham dibanding rata-ratanya; makin dalam di bawah rata-rata, secara historis makin murah. Namun, seperti ditegaskan dalam artikel tersebut, kondisi PBV murah bukan jaminan harga saham akan segera naik. Kinerja fundamental dan prospek bisnis tetap perlu diperiksa sendiri oleh investor.

Berita dan katalis terbaru

Ada tiga peristiwa besar yang membentuk pergerakan CPIN belakangan ini:

Downgrade MSCI Global Standard ke Small Caps (31 Agustus 2026). Menurut mikirduit.com, CPIN didepak dari indeks MSCI Global Standard ke kategori Small Caps pada akhir Agustus 2026. Perubahan status indeks semacam ini biasanya memicu aksi jual dari dana global yang melacak indeks tersebut, karena mereka wajib menyesuaikan portofolio dengan komposisi indeks baru. Riset yang sama meninjau 18 saham Indonesia yang pernah keluar dari MSCI Global Standard sejak Februari 2023, dan menemukan potensi rebound harga biasanya muncul dalam rentang 4-12 bulan setelah downgrade, meski tidak selalu terbukti, seperti pada ICBP dan KLBF yang memasuki periode 12 bulan di November 2026 tanpa pemulihan signifikan.

Usulan penurunan status pasar Indonesia oleh MSCI (16 Oktober 2026). Berdasarkan laporan topbusiness.id, Bursa Efek Indonesia anjlok 11% pada 16 Oktober 2026, penurunan terdalam sejak 1998, setelah MSCI menyatakan pasar saham Indonesia tidak lagi memenuhi kriteria status emerging market. MSCI dikabarkan tengah menyiapkan langkah mengeluarkan pasar Indonesia dari sejumlah produk investasi acuan global, yang berpotensi memicu arus keluar dana asing lebih lanjut.

CPIN masuk daftar trading idea pasca-volatilitas (19 Oktober 2026). Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, dalam risetnya yang dikutip topbusiness.id menyarankan investor menghindari dulu saham dengan kepemilikan asing tinggi di tengah ketidakpastian status MSCI ini. Ia menyebut level support IHSG di rentang 4.900-5.000 dan resistance di 5.200-5.250. CPIN masuk daftar trading idea hari itu bersama TINS, NCKL, INCO, AADI, dan TAPG, di tengah IHSG yang sempat ditutup turun 11,6% dengan net sell asing sekitar Rp3,4 triliun.

Transaksi UBS AG di saham CPIN (17 September 2026). Seperti dijelaskan di bagian pemegang saham, UBS AG membeli 2,26 juta saham CPIN senilai Rp7,10 miliar untuk kebutuhan lindung nilai derivatif, menambah kepemilikannya menjadi 6,01%.

Pesaing di BEI

Menurut mikirduit.com, dua pesaing utama CPIN di sektor pakan ternak dan unggas yang tercatat di BEI adalah:

  • JPFA (Japfa Comfeed Indonesia) — perusahaan pakan ternak dan unggas terintegrasi yang juga memiliki lini bisnis sapi perah dan akuakultur.
  • MAIN (Malindo Feedmill) — perusahaan pakan ternak dan unggas dengan skala operasi lebih kecil dibanding CPIN dan JPFA.

Ketiga emiten ini kerap dibandingkan karena model bisnis yang serupa: produksi pakan, pembibitan, hingga budi daya ayam pedaging.

Risiko

Beberapa risiko konkret yang relevan dipantau untuk CPIN:

  • Risiko sektor komoditas. Bisnis pakan ternak sangat bergantung pada harga bahan baku impor seperti jagung dan bungkil kedelai, serta rentan terhadap gangguan cuaca ekstrem seperti El Nino yang pernah disebut sebagai bayang-bayang risiko kenaikan biaya produksi CPIN.
  • Risiko status indeks global. CPIN baru saja didepak dari MSCI Global Standard ke Small Caps pada Agustus 2026, yang historisnya memicu tekanan jual dari dana asing yang melacak indeks tersebut.
  • Risiko makro pasar Indonesia. Usulan MSCI menurunkan status pasar Indonesia dari emerging market pada Oktober 2026 berpotensi memicu arus keluar dana asing yang lebih luas, bukan cuma di CPIN, tapi di saham-saham dengan kepemilikan asing tinggi secara umum.
  • Konsentrasi kepemilikan asing. UBS AG tercatat memiliki 6,01% saham CPIN dan disebut sebagai pengendali perseroan dalam keterbukaan informasi BEI, sehingga transaksi besar dari pemegang saham ini berpotensi memengaruhi harga.
  • Risiko valuasi. PBV CPIN memang sudah di bawah -2 standar deviasi historisnya, namun seperti diingatkan mikirduit.com, kondisi murah secara valuasi bukan jaminan harga akan segera pulih. Kinerja fundamental tetap perlu diperiksa dari laporan keuangan resmi.
  • Risiko likuiditas dan volatilitas harga. Dengan penurunan harga 47,2% dalam setahun dan rentang 52 minggu yang lebar (Rp2.390-Rp5.275), saham ini tergolong volatil dalam periode ini.

Apa artinya buat investor

Beberapa hal konkret yang bisa dipantau investor yang sudah memegang atau sedang mempertimbangkan CPIN:

  • Posisi harga terhadap rentang 52 minggu. Harga Rp2.760 saat ini dekat batas bawah Rp2.390. Pergerakan mendekati atau menembus level itu bisa jadi sinyal tekanan jual belum selesai, sementara kenaikan ke arah tengah rentang bisa jadi indikasi sentimen mulai membaik.
  • Jadwal genap setahun status MSCI Small Caps. Berdasarkan riset mikirduit.com, periode 12 bulan sejak CPIN turun kasta dari MSCI Global Standard baru genap akhir Agustus 2027. Pola historis pada 18 saham lain yang pernah kena downgrade serupa menunjukkan potensi rebound biasanya muncul dalam rentang 4-12 bulan, meski tidak selalu terbukti seperti kasus ICBP dan KLBF.
  • Kelanjutan proses review status pasar Indonesia oleh MSCI. Keputusan final MSCI soal status emerging market Indonesia bisa memengaruhi arus dana asing di saham-saham berkapitalisasi besar dengan kepemilikan asing tinggi, termasuk CPIN.
  • Rilis laporan keuangan kuartal berikutnya. Data kinerja yang tersedia baru sampai semester I 2026. Laporan kuartal III atau full year 2026 di idx.co.id akan jadi acuan apakah tren pertumbuhan laba bersih 94,7% YoY masih berlanjut.
  • Pergerakan kepemilikan UBS AG. Sebagai pemegang saham pengendali dengan 6,01% kepemilikan, perubahan signifikan pada posisi UBS AG di keterbukaan informasi BEI layak dipantau.

Cara beli saham CPIN

Saham CPIN dibeli dalam satuan lot, di mana 1 lot setara 100 lembar saham. Dengan harga Rp2.760 per lembar per 24 Oktober 2026, nilai 1 lot CPIN adalah Rp276.000, belum termasuk biaya transaksi dari sekuritas.

Untuk membeli saham ini, investor perlu membuka rekening efek di perusahaan sekuritas yang berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terdaftar sebagai anggota bursa di Bursa Efek Indonesia. Setelah rekening aktif dan dana disetor, pemesanan saham CPIN bisa dilakukan melalui aplikasi trading saham milik sekuritas tersebut.

FAQ

Apakah CPIN rutin membagikan dividen?

Data kebijakan dividen CPIN belum ada di sumber yang kami cek. Untuk histori pembagian dividen, sebaiknya cek laporan keuangan dan keterbukaan informasi resmi di idx.co.id.

Berapa harga 1 lot saham CPIN?

Per 24 Oktober 2026, harga CPIN Rp2.760 per lembar, sehingga 1 lot (100 lembar) senilai Rp276.000.

Apakah CPIN masuk indeks LQ45?

Belum ada di sumber yang kami cek. Yang diketahui, CPIN baru saja didepak dari indeks MSCI Global Standard ke kategori Small Caps pada 31 Agustus 2026.

Apa beda CPIN dengan JPFA?

Keduanya sama-sama perusahaan pakan ternak dan peternakan ayam terintegrasi di BEI. CPIN merupakan bagian dari Charoen Pokphand Group asal Thailand, sementara JPFA (Japfa Comfeed Indonesia) berafiliasi dengan Japfa Ltd yang berbasis di Singapura.

Kenapa harga saham CPIN turun tajam dalam setahun terakhir?

Data Yahoo Finance mencatat CPIN anjlok 47,2% dalam 1 tahun hingga 24 Oktober 2026. Penurunan ini sejalan dengan downgrade status CPIN dari MSCI Global Standard ke Small Caps pada Agustus 2026, serta tekanan jual asing menyusul usulan MSCI menurunkan status pasar Indonesia dari emerging market pada Oktober 2026.

Artikel ini disusun untuk tujuan informasi, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham CPIN.

Sumber

  1. Yahoo Finance
  2. Wikipedia · Charoen Pokphand
  3. mikirduit.com · Sinyal 5 Saham Lagi Diskon Besar dari CPIN hingga MTEL
  4. topbusiness.id · Impact Downgrade MSCI Rating Masih Kuat, Enam Saham Ini Jadi Pilihan: TINS, NCKL, INCO, AADI, CPIN, dan TAPG
  5. mikirduit.com · Prospek Saham CPIN Setelah Didepak MSCI Global Standard, Begini Perhitungan Potensi Rebound-nya
  6. liputan6.com · UBS AG Beli 2,26 Juta Saham CPIN
  • #CPIN
  • #Charoen Pokphand Indonesia
  • #saham BEI
  • #sektor pakan ternak
  • #MSCI
  • #profil emiten
BagikanWhatsAppXTelegram

Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.

Mau trade kami ikut ke akun lu?Lihat dulu akunnya jalan di dashboard demo. Daftar gratis, member aktif setelah bayar.
Daftar gratis

Baca juga

  • Saham AKRA: Profil AKR Corporindo, Bisnis, Kinerja, dan RisikonyaProfil Saham · 29 Oktober 2026Saham AKRA: Profil AKR Corporindo, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
  • Saham MEDC: Profil Medco Energi, Bisnis, Kinerja, dan RisikonyaProfil Saham · 28 Oktober 2026Saham MEDC: Profil Medco Energi, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
  • Saham ITMG: Profil Indo Tambangraya Megah, Bisnis, Kinerja, dan RisikonyaProfil Saham · 27 Oktober 2026Saham ITMG: Profil Indo Tambangraya Megah, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
OPENTRADES

Intelligence in Every Trade.

AI-powered trading automation, built for disciplined execution.

ProdukTentang OpenTradesAkun liveRiwayat tradeChart gratisHargaOpenTrades NewsMembershipAffiliate
AkunMasukDaftar gratisSyarat & KetentuanWhatsApp

Trading futures berisiko tinggi dan bisa bikin modal habis. Semua angka di sini asli dari akun yang lagi jalan, bukan janji dan bukan ajakan beli atau jual aset apa pun. Pakai uang yang siap lu risikokan.

© 2026 OpenTrades · opentrades.app · Syarat & Ketentuan