OpenTrades
TentangAUMSimulasiCara ikutChartHargaNewsFAQ
  IDEN English versionMasukDaftar gratis
TentangAUMSimulasiCara ikutChartHargaNewsFAQ
Mata uang  
MasukDaftar gratis
NewsProfil Saham

Saham ADRO: Profil Alamtri Resources Indonesia, Bisnis, dan Risikonya

ADRO, eks Adaro Energy, kini bernama Alamtri Resources Indonesia. Simak bisnis, sejarah, kinerja harga, dan risiko sahamnya per 21 Oktober 2026.

TTim Queenby21 Oktober 2026 · 10 menit baca

Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan

Saham ADRO: Profil Alamtri Resources Indonesia, Bisnis, dan Risikonya
Di artikel ini
  1. Ringkasan saham ADRO
  2. Bisnis Alamtri Resources
  3. Sejarah singkat dan IPO
  4. Pemegang saham dan manajemen
  5. Kinerja keuangan terbaru
  6. Dividen
  7. Pergerakan harga saham ADRO
  8. Berita dan katalis terbaru
  9. Apa artinya buat investor
  10. Pesaing di BEI
  11. Risiko
  12. Cara beli saham ADRO

ADRO adalah kode saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk, perusahaan yang bergerak di pertambangan dan jasa batu bara, energi terbarukan dan tidak terbarukan, utilitas, mineral, serta infrastruktur pendukung. Perusahaan ini sebelumnya bernama Adaro Energy dan dikenal lewat produk batu bara rendah polutan bermerek Envirocoal. ADRO sedang jadi perhatian pasar karena menjalankan buyback saham senilai maksimal Rp5 triliun yang dimulai 20 Oktober 2026, tak lama setelah harganya sempat ambruk tajam dalam sehari.

Ringkasan saham ADRO

Per 21 Oktober 2026.

KeteranganDetail
KodeADRO
Nama resmiPT Alamtri Resources Indonesia Tbk
Bidang usahaPertambangan dan jasa batu bara, energi, utilitas, mineral, infrastruktur pendukung (deskripsi usaha, bukan klasifikasi sektor resmi IDX)
Tahun IPO2008 (saat masih bernama PT Adaro Energy Tbk)
Harga terakhirRp2.400 per lembar
Harga 1 lotRp240.000
Rentang 52 mingguRp1.695 - Rp2.860
Kinerja 1 bulan-8,4%
Kinerja 3 bulan-5,5%
Kinerja 1 tahun+41,6%
Indeks (LQ45/IDX30)Belum ada di sumber yang kami cek

Bisnis Alamtri Resources

Alamtri Resources Indonesia bergerak di pertambangan batu bara, jasa energi terbarukan dan tidak terbarukan, utilitas, mineral dan pengolahan mineral, serta infrastruktur pendukung. Produk andalannya batu bara bermerek Envirocoal, yang punya karakteristik kadar abu dan sulfur ultra-rendah serta kadar nitrogen rendah. Karakteristik ini membuat Envirocoal dipasarkan sebagai batu bara yang relatif ramah lingkungan dibanding jenis batu bara lain.

Pada 2022, perusahaan memproduksi 62,88 juta ton batu bara, menjadikannya produsen batu bara terbesar kedua di Indonesia saat itu. Di daftar Forbes Global 2000 tahun 2023, perusahaan ini menempati peringkat ke-1.393 dunia dan ke-7 di Indonesia, salah satu dari hanya dua perusahaan batu bara Indonesia yang masuk daftar tersebut. Selain tambang batu bara termal lewat anak usaha Adaro Indonesia, grup ini juga punya lini batu bara kokas keras lewat Adaro Minerals serta bisnis pembangkit listrik lewat beberapa PLTU.

Sejarah singkat dan IPO

Cikal bakal bisnis ini bermula di dekade 1970-an, ketika pemerintah membagi Kalimantan Timur dan Selatan jadi delapan blok batu bara. Enadimsa dari Spanyol mengambil Blok 8 di Tabalong yang saat itu dianggap kurang menarik karena lokasi jauh dan kualitas batu baranya rendah. Enadimsa mendirikan PT Adaro Indonesia dan meneken Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) dengan pemerintah pada 1982.

Penambangan dimulai 1983. Pada 1989, konsorsium perusahaan Australia dan Indonesia membeli 80% saham PT Adaro Indonesia dari Enadimsa. Produksi komersial resmi dimulai 22 Oktober 1992, dengan merek dagang Envirocoal yang sudah didaftarkan setahun sebelumnya. Pengiriman pertama sebanyak 68.750 ton dilakukan ke Krupp Industries asal Jerman pada 22 Oktober 1991.

Perusahaan yang kini jadi induk usaha awalnya didirikan Agustus 2004 dengan nama PT Padang Karunia. Pada 2005, lewat PT Alam Tri Abadi, perusahaan ini mengakuisisi PT Adaro Indonesia senilai sekitar US$923 juta utang plus US$50 juta ekuitas. Tahun 2008 nama diubah jadi PT Adaro Energy Tbk, dan di tahun yang sama resmi melantai di Bursa Efek Indonesia.

Setelah IPO, ekspansi berlanjut lewat sejumlah akuisisi: 25% proyek IndoMet Coal bersama BHP Billiton pada 2010, dua perusahaan batu bara di Sumatera Selatan pada 2011, opsi akuisisi PT Bhakti Energi Persada pada 2012, hingga pembangunan PLTU ultra-supercritical 2x1000 MW di Batang bersama J-Power dan Itochu mulai 2016 dengan investasi US$4,2 miliar. Tahun 2018, perusahaan mengakuisisi tambang batu bara Kestrel di Australia, memperluas jejak ke luar negeri. Pada kuartal kedua 2020, lewat Adaro Minerals, perusahaan mulai mengirim batu bara kokas keras dari Tambang Maruwai ke Jepang.

Nama berubah lagi pada November 2024 menjadi PT Alamtri Resources Indonesia Tbk, nama yang dipakai hingga sekarang. Perubahan ini menyusul Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 9 Februari 2022, yang akhirnya berujung pada pemisahan usaha (spin-off) bisnis perdagangan batu bara ke entitas baru bernama PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Setelah spin-off itu, peran ADRO bergeser dari induk usaha batu bara menjadi perusahaan dengan portofolio energi dan infrastruktur yang lebih luas.

Pemegang saham dan manajemen

Salah satu pemegang saham yang aktif tercatat dalam keterbukaan informasi adalah PT Trinugraha Thohir, perusahaan milik Garibaldi "Boy" Thohir. Pada 19 Oktober 2026, Trinugraha Thohir membeli 470.000 saham ADRO di harga Rp2.130 per saham, senilai sekitar Rp1 miliar. Setelah transaksi ini, kepemilikan Trinugraha Thohir di ADRO naik jadi 209.889.470 saham atau 0,729%, dari sebelumnya 209.419.470 saham (0,727%). Dalam laporan keterbukaan, tujuan transaksi disebut sebagai "investasi".

Di sisi manajemen, Corporate Secretary Alamtri Resources Indonesia yang disebut dalam pemberitaan adalah Maharani Cindy Opssedha. Susunan lengkap direksi, komisaris, dan daftar pemegang saham pengendali lainnya belum ada di sumber yang kami cek. Untuk data lengkap, cek laporan tahunan dan keterbukaan informasi di idx.co.id.

Kinerja keuangan terbaru

Angka pendapatan dan laba bersih ADRO untuk periode terbaru belum ada di sumber yang kami cek. Pembaca yang ingin melihat detail pendapatan, laba bersih, dan pertumbuhan tahun berjalan disarankan mengecek laporan keuangan resmi di idx.co.id atau laman investor relations Alamtri Resources Indonesia. Yang bisa dipastikan dari sumber berita, manajemen menyatakan kondisi keuangan perusahaan "kuat" dan pengelolaan likuiditas "prudent", cukup untuk membiayai program buyback Rp5 triliun tanpa mengganggu kebutuhan investasi maupun operasional.

Dividen

Data riwayat pembagian dividen ADRO, baik nominal per saham maupun jadwal cum date dan pembayarannya, belum ada di sumber yang kami cek. Untuk kebijakan dan riwayat dividen resmi, cek keterbukaan informasi dan risalah RUPST di idx.co.id.

Pergerakan harga saham ADRO

Per 21 Oktober 2026, ADRO diperdagangkan di Rp2.400 per lembar. Posisi ini berada di kisaran tengah rentang 52 minggu, yang bentangnya dari Rp1.695 hingga Rp2.860, atau sekitar 60% dari rentang tersebut dihitung dari titik terendah.

Dalam sebulan terakhir harga tercatat turun 8,4%, dan dalam tiga bulan turun 5,5%. Namun secara tahunan, ADRO masih mencatat kenaikan 41,6%. Rata-rata volume transaksi harian dalam tiga bulan terakhir mencapai 40,48 juta lembar, angka yang tergolong aktif untuk saham sekelas ini.

Penurunan tajam dalam sebulan terakhir berawal dari kejatuhan harga pada Jumat, 16 Oktober 2026, saat ADRO sempat anjlok lebih dari 10% dalam satu hari. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 11,57%, yang menurut laporan investor.id dipicu pengumuman terkait MSCI. Saham AADI, satu grup dengan ADRO, bahkan terjun lebih dalam lagi, 12,59%, pada hari yang sama.

Berita dan katalis terbaru

Menurut laporan Kompas.com pada 20 Oktober 2026, ADRO mulai melaksanakan buyback saham sejak Selasa, 20 Oktober 2026, dengan dana maksimal Rp5 triliun. Corporate Secretary Maharani Cindy Opssedha menyatakan langkah ini mencerminkan keyakinan perseroan terhadap fundamental ekonomi nasional dan prospek bisnis jangka panjang, sekaligus dukungan terhadap stabilitas pasar modal Indonesia.

Program buyback ini sudah disetujui pemegang saham dalam RUPST 17 April 2026, dengan periode pelaksanaan 12 bulan sejak 18 April 2026, mengacu pada Peraturan OJK Nomor 29 Tahun 2023 tentang Pembelian Kembali Saham. Manajemen menegaskan buyback tidak akan mengganggu kebutuhan investasi maupun operasional perusahaan, karena kondisi keuangan dinilai kuat dan likuiditas dikelola secara prudent. Ini bukan buyback pertama ADRO. Perseroan sebelumnya pernah menjalankan buyback pada 16 Mei hingga 2 Juni 2025, membeli kembali 33 juta saham.

Berdasarkan laporan kumparan.com, langkah serupa dilakukan sejumlah emiten lain pada periode yang sama: PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menyiapkan dana maksimal Rp1 triliun hingga 31 Desember 2026, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengalokasikan maksimal Rp1 triliun untuk membeli hingga 800 juta saham atau 0,92% dari total saham beredar, dengan harga maksimal Rp3.000 per saham. Gelombang buyback ini tampak sebagai respons bersama sejumlah emiten besar terhadap tekanan jual yang menghantam pasar setelah pengumuman MSCI pertengahan Oktober 2026.

Di sisi lain, pembelian saham oleh PT Trinugraha Thohir pada 19 Oktober 2026, sehari sebelum buyback resmi dimulai, memperlihatkan pihak terafiliasi pemilik grup ikut menambah kepemilikan saat harga tertekan di kisaran Rp2.130.

Apa artinya buat investor

Ada beberapa hal konkret yang bisa dipantau terkait ADRO dalam waktu dekat, tanpa perlu menebak arah harga.

  • Realisasi buyback Rp5 triliun yang berjalan sejak 20 Oktober 2026. Perkembangan jumlah saham yang sudah dibeli kembali dan harganya biasanya diungkap bertahap lewat keterbukaan informasi di BEI.
  • Posisi harga terhadap rentang 52 minggu Rp1.695-Rp2.860. Harga Rp2.400 saat ini berada di tengah rentang itu, setelah sempat anjlok lebih dari 10% pada 16 Oktober 2026.
  • Kelanjutan sentimen seputar pengumuman MSCI yang ikut menyeret IHSG turun 11,57% pada 16 Oktober 2026. Isu ini layak dipantau karena berpotensi memengaruhi sentimen saham-saham besar lain, termasuk ADRO.
  • Transaksi pihak terafiliasi, seperti pembelian saham oleh PT Trinugraha Thohir pada 19 Oktober 2026, bisa jadi indikator tambahan meski bukan jaminan arah harga ke depan.
  • Laporan keuangan resmi di idx.co.id, karena data pendapatan dan laba terbaru ADRO belum tercakup dalam sumber berita yang dipakai pada artikel ini.

Tidak ada jaminan buyback atau sentimen tertentu akan membuat harga ADRO bergerak ke arah yang diinginkan. Keputusan investasi tetap perlu didasarkan pada riset mandiri dan profil risiko masing-masing.

Pesaing di BEI

Beberapa emiten tambang batu bara lain yang sering dibandingkan dengan ADRO di BEI:

  • PTBA (Bukit Asam): produsen batu bara milik negara (BUMN) dengan basis tambang utama di Sumatera Selatan.
  • ITMG (Indo Tambangraya Megah): perusahaan tambang batu bara dengan basis operasi di Kalimantan Timur, dikenal dengan orientasi ekspor yang kuat.
  • AADI (Adaro Andalan Indonesia): entitas hasil spin-off dari bisnis batu bara ADRO sendiri, kini beroperasi sebagai perusahaan terpisah di bursa.

Perbedaan utama ADRO dengan ketiganya terletak pada struktur bisnis. ADRO kini membawahi portofolio yang lebih luas mencakup energi, utilitas, mineral, dan infrastruktur, bukan sekadar tambang batu bara termal seperti PTBA dan ITMG.

Risiko

Beberapa risiko yang relevan dipantau investor ritel yang tertarik pada ADRO:

  • Risiko harga komoditas. Bisnis inti ADRO masih sangat bergantung pada harga batu bara global, yang bisa berfluktuasi tajam dan di luar kendali perusahaan.
  • Risiko regulasi. Operasi tambang batu bara diatur lewat skema PKP2B/IUPK dan berbagai regulasi lingkungan serta energi yang bisa berubah sewaktu-waktu, termasuk tekanan transisi energi global menjauhi batu bara.
  • Risiko konsentrasi struktur grup. Setelah spin-off bisnis batu bara ke AADI, investor perlu memahami perubahan profil bisnis ADRO agar tidak salah menilai sumber pendapatan utamanya saat ini.
  • Risiko volatilitas pasar. Insiden 16 Oktober 2026, saat ADRO dan IHSG sama-sama ambruk dua digit dalam sehari akibat pengumuman MSCI, jadi bukti saham ini bisa sangat sensitif terhadap sentimen indeks global.
  • Risiko efektivitas buyback. Program buyback senilai Rp5 triliun bisa menahan tekanan jual sementara, tapi tidak ada jaminan langkah ini akan menopang harga dalam jangka panjang jika fundamental atau sentimen pasar tetap tertekan.
  • Risiko likuiditas dan valuasi. Meski volume harian tergolong aktif (rata-rata 40,48 juta lembar dalam 3 bulan), pergerakan harga yang tajam dalam waktu singkat berarti saham ini bisa volatil, sehingga valuasi perlu dicek mandiri sebelum mengambil keputusan.

Cara beli saham ADRO

Satu lot saham ADRO setara 100 lembar. Dengan harga terakhir Rp2.400 per lembar, nilai satu lot sekitar Rp240.000, belum termasuk biaya transaksi dari sekuritas. Untuk membeli, investor perlu membuka rekening efek di perusahaan sekuritas yang berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terdaftar sebagai anggota bursa di BEI, lalu melakukan transaksi lewat aplikasi atau platform trading yang disediakan sekuritas tersebut.

Artikel ini merupakan informasi untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham ADRO.

Sumber

  1. Yahoo Finance
  2. Wikipedia · Alamtri Resources Indonesia
  3. investor.id · Boy Thohir Serok Saham
  4. money.kompas.com · ADRO Mulai Buyback Saham 20 Oktober, Siapkan Dana Maksimal Rp 5 Triliun
  5. kumparan.com · ADRO, BRPT, dan TPIA Kompak Buyback Saham, Siapkan Dana hingga Rp 1 Triliun
  6. investor.id · AADI & ADRO Mulai Buyback Saham Rp 10 Triliun
  • #ADRO
  • #Alamtri Resources
  • #saham batu bara
  • #buyback saham
  • #BEI
  • #Boy Thohir
BagikanWhatsAppXTelegram

Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.

Mau trade kami ikut ke akun lu?Lihat dulu akunnya jalan di dashboard demo. Daftar gratis, member aktif setelah bayar.
Daftar gratis

Baca juga

  • Saham AKRA: Profil AKR Corporindo, Bisnis, Kinerja, dan RisikonyaProfil Saham · 29 Oktober 2026Saham AKRA: Profil AKR Corporindo, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
  • Saham MEDC: Profil Medco Energi, Bisnis, Kinerja, dan RisikonyaProfil Saham · 28 Oktober 2026Saham MEDC: Profil Medco Energi, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
  • Saham ITMG: Profil Indo Tambangraya Megah, Bisnis, Kinerja, dan RisikonyaProfil Saham · 27 Oktober 2026Saham ITMG: Profil Indo Tambangraya Megah, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
OPENTRADES

Intelligence in Every Trade.

AI-powered trading automation, built for disciplined execution.

ProdukTentang OpenTradesAkun liveRiwayat tradeChart gratisHargaOpenTrades NewsMembershipAffiliate
AkunMasukDaftar gratisSyarat & KetentuanWhatsApp

Trading futures berisiko tinggi dan bisa bikin modal habis. Semua angka di sini asli dari akun yang lagi jalan, bukan janji dan bukan ajakan beli atau jual aset apa pun. Pakai uang yang siap lu risikokan.

© 2026 OpenTrades · opentrades.app · Syarat & Ketentuan