OJK: Rebound IHSG 4,9% Ditopang Buyback dan Ritel, Bukan Asing
Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi sebut penguatan IHSG ke 5.439 ditopang kekuatan domestik, sementara asing masih net sell Rp1,28 triliun dan MSCI terus mengevaluasi pasar Indonesia.
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 5.439 pada Jumat, 23 Oktober 2026, naik dari 5.185 pada penutupan pekan sebelumnya. Artinya, IHSG menguat 4,9 persen dalam sepekan perdagangan 19-23 Oktober 2026, menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI).
Yang menarik, penguatan ini terjadi saat investor asing masih mencatatkan jual bersih Rp1,28 triliun pada Jumat itu saja. Secara kumulatif sepanjang 2026, nilai jual bersih asing sudah mencapai Rp94,87 triliun.
Kekuatan domestik jadi penopang
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menilai rebound IHSG ini hasil kerja investor domestik. Dalam keterangan tertulis Bakom, Minggu (25/10/2026), ia menyebut pembelian kembali saham (buyback) oleh emiten dan aktivitas investor ritel sebagai dua kekuatan utama.
"Alhamdulillah market kita sudah rebound. Ini kekuatan domestik, karena asing masih net sale. Jadi ini kekuatan domestik yang melakukan buyback dan investor retail kita yang juga luar biasa," kata Friderica.
Buyback adalah aksi perusahaan membeli kembali sahamnya sendiri di pasar, biasanya untuk menahan laju penurunan harga atau menunjukkan keyakinan manajemen terhadap valuasi perusahaan. Ketika dilakukan serentak oleh banyak emiten besar, efeknya bisa menahan tekanan jual dari pihak lain, termasuk asing.
Meski begitu, Friderica mengingatkan bahwa kenaikan indeks dalam sepekan belum cukup menggambarkan ketahanan pasar modal secara menyeluruh. Transparansi perdagangan, keterbukaan informasi kepemilikan saham, dan konsistensi penegakan hukum tetap jadi perhatiannya, terutama di tengah evaluasi MSCI terhadap pasar Indonesia.
Fundamental emiten: 74 persen cetak laba
Di luar soal arus dana, OJK juga memaparkan data kinerja korporasi. Pendapatan emiten tercatat tumbuh 15,9 persen pada triwulan II-2026, disertai pertumbuhan laba bersih.
Dari total 962 perusahaan tercatat di BEI, sebanyak 74 persen membukukan laba. "Jadi dari total 962 emiten yang tercatat di pasar modal Indonesia, 74 persennya adalah mencatatkan laba. Fundamental ekonomi dan juga fundamental perusahaan-perusahaan yang tercatat di pasar modal Indonesia adalah sangat kuat," ujar Friderica.
Menurutnya, kinerja ini menjadi salah satu penopang pasar modal di tengah tekanan eksternal, termasuk arus keluar dana asing yang masih berlangsung. Namun ia menegaskan kualitas fundamental perlu dibarengi keterbukaan informasi dan tata kelola yang baik agar kepercayaan investor terjaga.
Evaluasi MSCI: 16 dari 18 indikator positif
Salah satu isu yang terus dipantau pelaku pasar adalah evaluasi MSCI terhadap klasifikasi pasar modal Indonesia. MSCI adalah penyelenggara indeks global yang hasil penilaiannya memengaruhi aliran dana investor institusi dunia ke suatu negara, termasuk status pasar berkembang (emerging market) atau sekunder.
Friderica merujuk pada laporan MSCI Juni 2026. Menurutnya, Indonesia mendapat penilaian positif pada 16 dari 18 indikator yang dibandingkan dengan negara-negara emerging market lain. "Kita melihat secara umum review mereka sendiri di bulan Juni mengatakan bahwa Indonesia, 16 dari 18 indikator dibandingkan dengan negara-negara emerging market, kita sangat positif," katanya.
Ia memaparkan beberapa indikator spesifik yang disebut unggul. Pertama, ambang batas pelaporan kepemilikan saham di Indonesia sudah ditetapkan 1 persen, jauh lebih rendah dari sejumlah pasar lain yang baru mewajibkan pengungkapan di atas 5 persen. Semakin rendah ambang batas, semakin transparan informasi kepemilikan bagi investor.
Kedua, Indonesia memiliki 39 tipe klasifikasi investor, yang menurut Friderica memberi gambaran lebih granular soal struktur investor dibanding negara lain yang bahkan tidak memiliki rincian serupa. Ketiga, ketentuan terkait initial capital offering (penawaran modal awal) di Indonesia berada di kisaran 15 sampai 25 persen.
Sanksi Rp1,5 triliun dan dua kasus dugaan manipulasi
Di sisi penegakan aturan, OJK melaporkan telah menjatuhkan sanksi senilai Rp1,5 triliun kepada pihak-pihak yang terlibat pelanggaran di pasar modal. Regulator juga mengidentifikasi dua perusahaan yang diduga melakukan manipulasi pasar, dengan penanganan perkara dilakukan melalui koordinasi antarlembaga.
OJK menyatakan akan melanjutkan pembenahan pasar modal untuk memperkuat transparansi, likuiditas, dan kepercayaan investor, sebagai respons terhadap perhatian MSCI atas kualitas pasar Indonesia. "Kami akan cermati, kami akan lakukan terus perbaikan-perbaikan yang ada supaya market kita semakin kredibel, makin liquid, makin transparan dan bisa menjadi rumah untuk investasi masyarakat kita ke depan," kata Friderica.
Apa artinya buat investor
Investor ritel maupun institusi lokal perlu mencermati beberapa hal dari laporan ini. Pertama, arus jual bersih asing yang sudah mencapai Rp94,87 triliun sepanjang 2026 masih berlangsung, sehingga rebound IHSG saat ini bergantung pada konsistensi buyback emiten dan minat beli ritel domestik.
Kedua, pantau emiten-emiten yang sedang atau baru selesai melakukan buyback, karena aksi ini bisa memengaruhi suplai saham beredar dan sentimen jangka pendek. Ketiga, perkembangan evaluasi MSCI ke depan layak diikuti karena hasil klasifikasi pasar bisa memengaruhi keputusan alokasi dana investor institusi global ke saham-saham di BEI.
Keempat, data pertumbuhan pendapatan emiten sebesar 15,9 persen pada triwulan II-2026 dan rasio 74 persen emiten yang cetak laba dari total 962 perusahaan tercatat bisa jadi referensi saat menilai valuasi sektor tertentu. Terakhir, perkembangan penanganan dua perusahaan yang diduga manipulasi pasar juga layak dipantau karena berkaitan dengan kredibilitas transaksi di bursa.
Sumber
- theeconopost.com · IHSG Pekan Ini Menguat 4,9 Persen di Tengah Aksi Jual Asing dan Evaluasi MSCI
Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.