IHSG Anjlok 3,49% ke 5.098, Saham Bank dan Infrastruktur Rontok
IHSG ditutup di 5.098,06 pada Kamis, turun 184,26 poin usai pembukaan sempat menguat ke 5.320. The Fed tahan suku bunga tapi keputusannya tak bulat.
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan
Pasar saham Indonesia kembali dihajar tekanan jual besar pada Kamis, 29 Oktober 2026. IHSG ditutup anjlok 184,26 poin atau 3,49% ke level 5.098,06, padahal pagi harinya indeks sempat dibuka kuat di 5.305,20 dan melaju ke kisaran 5.320.
Momentum positif itu cuma bertahan sebentar. Sebelum pukul 10.00 WIB, gelombang jual sudah menguasai perdagangan dan membuat indeks jatuh tajam. Sepanjang sesi siang sampai sore, IHSG terjebak di kisaran 5.125 hingga 5.175, tanpa sinyal pembalikan arah yang meyakinkan.
Menjelang bel penutupan, indeks sempat merangkak naik ke area 5.120. Tapi harapan itu pupus karena aksi jual kembali deras di menit-menit terakhir, hingga IHSG akhirnya mendarat di dekat titik terendah sepanjang hari.
Koreksi sedalam ini mengindikasikan investor masih was-was menghadapi ketidakpastian global. Selain mengamati arah suku bunga AS, pelaku pasar juga menanti data inflasi terbaru dan memantau perkembangan konflik geopolitik yang bisa mengerek harga energi sekaligus mengguncang arus modal.
Tekanan Jual Merata di Hampir Semua Saham
Skala koreksi ini tergambar jelas dari rasio saham yang naik dan turun. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 624 ditutup merah, hanya 98 yang berhasil menguat, dan 70 lainnya stagnan.
Rasio timpang ini jadi bukti bahwa tekanan jual bukan cuma menimpa segelintir emiten besar, tapi merata ke berbagai kelompok saham. Akibatnya, seluruh indeks sektoral kompak ditutup di zona merah.
Sektor perindustrian memimpin pelemahan dengan koreksi 4,64%, diikuti barang baku yang turun 4,53% dan infrastruktur yang melemah 4,24%. Dalam klasifikasi sektor yang lain, utilities bahkan ambruk 5,99%, jasa pendidikan turun 4,60%, dan basic materials terkoreksi 4,02%.
Selisih angka ini muncul karena ada dua metode pengelompokan sektor yang berbeda dalam data perdagangan BEI. Tapi arah pergerakannya seragam, tidak satu pun sektor yang sanggup bertahan di zona hijau hingga penutupan.
Transaksi hari itu tetap ramai dengan volume 22,80 miliar saham senilai Rp10,98 triliun, menandakan banyak investor memilih keluar dari posisi di tengah gejolak pasar.
Bank Besar Jadi Pemberat Utama
Lima saham berkapitalisasi jumbo tercatat paling banyak menekan laju indeks: BBCA, ASII, BBRI, TLKM, dan BMRI. Karena bobot kapitalisasinya besar, pergerakan kelima saham ini punya pengaruh signifikan terhadap arah IHSG. Saat saham-saham bank raksasa melemah berbarengan dengan emiten sektor lain, ruang bagi indeks untuk bertahan dari tekanan jual pun makin sempit.
Sebagai penyeimbang, lima saham lain justru bergerak melawan arus: DSSA, TPIA, CMRY, TMAS, dan BINA. Tapi kontribusi mereka terlalu kecil untuk menahan derasnya tekanan jual yang melanda ratusan saham lain.
Di jajaran LQ45, UNVR dan AKRA kompak melemah 0,36%, sementara ITMG turun lebih dalam di 1,50%. Penurunan paling tajam hari itu dicatat oleh WIFI yang ambles 6,97%, disusul BRPT turun 6,88% dan INDY melemah 6,77%.
Sebaran saham yang jatuh ini menegaskan tekanan pasar hari itu merambah hampir semua lini, dari perbankan, infrastruktur digital, sampai energi dan industri.
The Fed Tahan Suku Bunga, Tapi Keputusannya Tidak Bulat
Pemicu utama guncangan pasar hari itu datang dari luar negeri, yakni keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%-4,00%.
Yang bikin pasar gelisah, keputusan ini tidak diambil secara bulat. Dua pejabat The Fed, Lisa Cook dan Beth Hammack, justru menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, atau setara 0,25 persen. Perbedaan sikap di internal bank sentral ini memperbesar kekhawatiran pasar bahwa inflasi di AS belum benar-benar terkendali. The Fed sendiri belum memberi sinyal jelas soal arah kebijakan berikutnya.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, menegaskan bank sentral masih berkomitmen membawa inflasi kembali ke target 2%. Ia juga menilai ekonomi AS tetap tangguh, dengan pertumbuhan semester pertama 2026 yang direvisi naik menjadi 2,4%. Namun suku bunga yang bertahan tinggi tetap mengerek biaya pinjaman dan berisiko menahan laju investasi korporasi, termasuk proyek pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan.
Pelaku pasar bahkan kini menaksir peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember mencapai sekitar 80%. Begitu keputusan The Fed diumumkan, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun langsung terkerek ke 5,042%.
Efek ke Pasar Negara Berkembang
Kenaikan yield Treasury ke 5,042% ini jadi sinyal yang perlu diwaspadai pasar negara berkembang, Indonesia termasuk di dalamnya. Semakin tinggi imbal hasil aset berdenominasi dolar, semakin besar pula daya tariknya buat investor global, yang pada akhirnya memengaruhi keputusan mereka soal penempatan dana antara pasar negara maju dan berkembang.
Dalam praktiknya, kombinasi antara ancaman kenaikan suku bunga The Fed di Desember dan yield Treasury yang makin menggiurkan ini kerap membuat investor asing menimbang ulang porsi portofolionya di pasar berkembang, termasuk saham-saham perbankan dan infrastruktur di BEI yang sensitif terhadap biaya pendanaan.
Apa Artinya Buat Investor
Level 5.098,06 kini jadi acuan baru pascakoreksi tajam ini. Yang perlu dipantau investor ke depan adalah apakah IHSG sanggup bertahan di atas level psikologis 5.000, atau justru makin tergerus jika sinyal dari The Fed memburuk.
Saham-saham bank jumbo seperti BBCA, BBRI, dan BMRI layak terus diawasi mengingat bobotnya yang besar terhadap pergerakan indeks. Saham-saham yang paling babak belur hari ini, yakni WIFI, BRPT, dan INDY, juga berpotensi mengalami volatilitas susulan dalam beberapa hari ke depan.
Beberapa agenda yang patut masuk radar: pernyataan lanjutan pejabat The Fed menjelang pertemuan Desember, pergerakan yield US Treasury tenor 10 tahun, dan rilis data inflasi AS berikutnya. Ketiganya berpotensi menentukan arah arus modal asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, dalam beberapa pekan mendatang.
Kapan IHSG ditutup di 5.098?
IHSG menyentuh level itu pada penutupan perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026, usai sesi yang dibuka kuat lalu berbalik arah akibat tekanan jual yang masif.
Apakah penurunan ini hanya terjadi di saham-saham tertentu?
Tidak. Sebanyak 624 dari total saham yang diperdagangkan ditutup melemah, menandakan tekanan jual menyebar ke hampir seluruh sektor dan kelompok saham.
Sumber
- journalistindependent.com · IHSG Anjlok 3,49 Persen ke 5.098, Saham Bank dan Infrastruktur Tertekan
Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.