OpenTrades
TentangAUMSimulasiCara ikutChartHargaNewsFAQ
  IDEN English versionMasukDaftar gratis
TentangAUMSimulasiCara ikutChartHargaNewsFAQ
Mata uang  
MasukDaftar gratis
NewsMakro

Rupiah Melemah ke Rp18.033 usai BI Tahan Bunga, GWM Dipangkas 2%

Rupiah dibuka melemah 0,06% ke Rp18.033 usai BI tahan BI-rate 5,75% dan pangkas GWM 2% untuk perkuat likuiditas.

TTim Queenby22 Oktober 2026 · 4 menit baca

Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan

Rupiah Melemah ke Rp18.033 usai BI Tahan Bunga, GWM Dipangkas 2%
Di artikel ini
  1. Apa yang Diputuskan BI
  2. Risiko Outflow Terkait MSCI
  3. Sentimen Global: Yield Obligasi AS Turun
  4. Rantai Efek ke Pasar Lain
  5. Apa Artinya Buat Trader

Nilai tukar rupiah dibuka melemah 11 poin atau 0,06 persen ke Rp18.033 per dolar AS pada Kamis, 22 Oktober 2026, dari penutupan sebelumnya di Rp18.022. Pelemahan ini terjadi tepat setelah Bank Indonesia mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur yang menahan suku bunga acuan.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan pelemahan rupiah hari ini dipengaruhi oleh keputusan domestik tersebut. "Rupiah hari ini diperkirakan melemah dipengaruhi oleh domestik hasil keputusan RDG BI yang menahan suku bunga acuan tetap di 5,75 persen," ujarnya kepada ANTARA di Jakarta.

Apa yang Diputuskan BI

BI-rate tetap di level 5,75 persen pada rapat kali ini. Namun di balik keputusan itu, ada dua perubahan teknis yang ikut memengaruhi likuiditas pasar.

Pertama, suku bunga deposit facility, yakni bunga yang diterima bank saat menaruh dana di BI, dinaikkan 25 basis poin menjadi 5 persen. Kedua, suku bunga lending facility, bunga saat bank meminjam dana dari BI, tetap di 6,5 persen. Kombinasi ini menyempitkan selisih antara dua instrumen tersebut, yang biasanya mendorong bank lebih nyaman menaruh dana jangka pendek di BI ketimbang menyalurkannya ke pasar.

Perubahan lain yang cukup signifikan ada di giro wajib minimum (GWM), yaitu persentase dana pihak ketiga yang wajib disimpan bank di BI dan tidak bisa disalurkan jadi kredit. BI menurunkan GWM rata-rata sebesar 2 persen untuk memperkuat kecukupan likuiditas rupiah di perbankan.

Secara rinci, GWM bank umum konvensional turun dari 9 persen menjadi 7 persen. Sementara GWM bank umum syariah dan unit usaha syariah turun dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen. Artinya, lebih banyak dana bank yang bisa dilepas ke pasar, baik untuk kredit maupun instrumen lain, meski suku bunga acuan sendiri tidak bergeser.

Risiko Outflow Terkait MSCI

BI disebut terus mewaspadai risiko di pasar saham domestik, termasuk memantau potensi arus keluar modal asing menyusul pengumuman MSCI soal usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia. Perubahan klasifikasi indeks oleh penyedia indeks global seperti MSCI biasanya memengaruhi keputusan alokasi dana manajer investasi besar, karena banyak dana pasif yang mengikuti komposisi indeks tersebut.

Kalau klasifikasi Indonesia berubah ke arah yang kurang menguntungkan, ada kemungkinan sebagian dana asing keluar dari pasar saham dan obligasi domestik. Ini salah satu alasan BI menjaga kewaspadaan ekstra di tengah keputusan menahan suku bunga kali ini.

Sentimen Global: Yield Obligasi AS Turun

Di sisi lain, Rully melihat ada peluang penguatan pasar obligasi pemerintah Indonesia seiring meningkatnya permintaan terhadap obligasi pemerintah Amerika Serikat. Yield obligasi AS tercatat turun ke 5,1 persen. Yield yang turun menandakan harga obligasi naik, biasanya terjadi saat investor global memburu aset yang dianggap aman atau saat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed menguat.

Kalau tren ini berlanjut, permintaan terhadap surat utang negara Indonesia berpotensi ikut terdorong, karena investor global biasanya membandingkan imbal hasil obligasi berbagai negara sebelum menempatkan dana.

Berdasarkan kombinasi faktor domestik dan global itu, Rully memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.120 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Rantai Efek ke Pasar Lain

Keputusan BI ini berpotensi merambat ke beberapa instrumen lain, meski arah pastinya masih bergantung pada perkembangan lanjutan.

Di pasar saham, kombinasi suku bunga tertahan dan risiko outflow terkait MSCI bisa membuat investor asing lebih berhati-hati dalam waktu dekat, terutama pada saham-saham dengan bobot besar di indeks global. Sebaliknya, penurunan GWM yang menambah likuiditas perbankan berpotensi memberi ruang bagi bank untuk menyalurkan kredit lebih longgar, yang secara tidak langsung bisa menopang sentimen di sektor perbankan.

Di pasar kripto, pelemahan rupiah dan ketidakpastian arah suku bunga domestik biasanya tidak berdampak langsung karena harga aset kripto lebih banyak mengikuti sentimen global dan dolar AS. Namun jika yield obligasi AS terus turun dan mendorong aset berisiko global menguat, ini bisa jadi angin tambahan yang mendukung minat terhadap aset kripto, meski hubungan ini belum pasti.

Untuk pasar obligasi domestik, membaiknya permintaan terhadap surat utang AS berpotensi menular ke obligasi pemerintah Indonesia, sebagaimana diproyeksikan Rully. Tapi ini masih berupa potensi, bukan kepastian, karena arah pasar obligasi RI juga sangat dipengaruhi oleh keputusan BI soal suku bunga ke depan dan perkembangan isu MSCI.

Apa Artinya Buat Trader

Beberapa hal yang bisa dipantau dari keputusan BI ini.

  • Level kurs rupiah: proyeksi kisaran Rp18.000 sampai Rp18.120 per dolar AS jadi acuan jangka pendek, dengan Rp18.033 sebagai titik pembukaan hari ini.
  • Perkembangan isu MSCI: pengumuman lanjutan soal klasifikasi pasar modal Indonesia berpotensi memicu volatilitas tambahan di saham dan rupiah, terutama kalau sudah ada kejelasan arah keputusan.
  • Yield obligasi AS: pergerakan yield di kisaran 5,1 persen bisa jadi indikator sentimen risk-on atau risk-off global yang ikut memengaruhi arus dana ke emerging market termasuk Indonesia.
  • Likuiditas perbankan: dampak penurunan GWM terhadap penyaluran kredit dan suku bunga deposito perbankan baru akan terlihat dalam beberapa pekan ke depan, bukan langsung.
  • Rapat kebijakan BI berikutnya: arah suku bunga acuan ke depan akan jadi penentu utama tren rupiah dalam jangka menengah.

Sumber

  1. ambon.antaranews.com · Rupiah melemah pengaruh dari keputusan BI tahan suku bunga
  2. Validnews · Rupiah Tertekan Ke Rp18.033 Usai BI Tahan Suku Bunga & Pangkas GWM
  • #rupiah
  • #Bank Indonesia
  • #suku bunga
  • #GWM
  • #MSCI
  • #dolar AS
BagikanWhatsAppXTelegram

Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.

Mau trade kami ikut ke akun lu?Lihat dulu akunnya jalan di dashboard demo. Daftar gratis, member aktif setelah bayar.
Daftar gratis

Baca juga

  • BMI Fitch Solutions: BI-Rate Bisa Naik Jadi 6,5% pada 2027Makro · 24 Oktober 2026BMI Fitch Solutions: BI-Rate Bisa Naik Jadi 6,5% pada 2027
  • BI Tahan BI-Rate di 5,75% Demi Jaga Stabilitas RupiahMakro · 21 Oktober 2026BI Tahan BI-Rate di 5,75% Demi Jaga Stabilitas Rupiah
  • The Fed Naikkan Bunga, BI Tahan di 5,75%: Kapan Giliran Rupiah?Makro · 14 Oktober 2026The Fed Naikkan Bunga, BI Tahan di 5,75%: Kapan Giliran Rupiah?
OPENTRADES

Intelligence in Every Trade.

AI-powered trading automation, built for disciplined execution.

ProdukTentang OpenTradesAkun liveRiwayat tradeChart gratisHargaOpenTrades NewsMembershipAffiliate
AkunMasukDaftar gratisSyarat & KetentuanWhatsApp

Trading futures berisiko tinggi dan bisa bikin modal habis. Semua angka di sini asli dari akun yang lagi jalan, bukan janji dan bukan ajakan beli atau jual aset apa pun. Pakai uang yang siap lu risikokan.

© 2026 OpenTrades · opentrades.app · Syarat & Ketentuan