Apa Itu The Graph (GRT)? Cara Kerja, Tokenomics, dan Risikonya
The Graph adalah protokol pengindeksan data blockchain. Per 22 Oktober 2026 GRT diperdagangkan $0,02524, market cap $276,36 juta, turun 60,7% dalam setahun.
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan
The Graph adalah protokol pengindeksan data blockchain yang berfungsi sebagai API global untuk membuat data on-chain mudah diakses lewat GraphQL. Token native-nya, GRT, dipakai untuk mengoordinasikan kerja antara Indexer, Curator, dan Delegator di jaringan. Per 22 Oktober 2026, GRT diperdagangkan di kisaran $0,02524 dengan kapitalisasi pasar $276,36 juta, menempatkannya di peringkat 152 menurut data CoinGecko.
Ringkasan GRT
Per 22 Oktober 2026.
| Fakta | Detail |
|---|---|
| Nama | The Graph |
| Ticker | GRT |
| Kategori | AI, Infrastructure, Smart Contract Platform, Analytics, Avalanche Ecosystem, Polygon Ecosystem |
| Jaringan | Ethereum, serta tersedia di Arbitrum One, Avalanche, Energi, Harmony, NEAR Protocol, Polygon PoS, dan Sora |
| Tahun rilis/genesis | belum diungkap |
| Peringkat market cap | #152 |
| Harga | $0,02524 |
| Market cap | $276,36 juta (FDV $293,33 juta) |
| Suplai beredar | 10,94 miliar GRT |
| Suplai maksimum | tidak tersedia (total suplai 11,61 miliar GRT) |
| Kontrak Binance Futures | GRTUSDT |
Masalah yang mau diselesaikan
Data di blockchain itu mentah dan tersebar di jutaan blok. Developer yang mau bikin aplikasi berbasis data on-chain, misalnya dashboard DeFi atau marketplace NFT, biasanya harus membangun server indexing sendiri dulu supaya data itu bisa dicari dan ditampilkan dengan cepat. Proses ini mahal, makan waktu, dan harus dikelola terus-menerus.
The Graph menawarkan jalan pintas. Developer tinggal memakai atau membuat subgraph, semacam skema indeks untuk smart contract tertentu, lalu mengambil data itu lewat query GraphQL biasa. Menurut situs resminya, The Graph sudah melayani lebih dari 1,27 triliun query dan diklaim bisa memangkas biaya infrastruktur data 60-98% per bulan dibanding membangun server sendiri.
Cara kerja The Graph
Jaringan The Graph digerakkan oleh empat peran yang saling terhubung. Developer membuat atau memakai subgraph yang sudah ada lewat Graph Explorer untuk mengatur data smart contract yang mereka butuhkan. Indexer kemudian stake GRT, menjalankan infrastruktur untuk memproses subgraph tersebut, dan melayani query dari aplikasi yang memakainya, lalu dapat imbalan GRT.
Delegator adalah pemegang GRT yang tidak mau menjalankan infrastruktur sendiri. Mereka bisa mendelegasikan token ke Indexer pilihan untuk ikut mengamankan jaringan dan mendapat bagian reward. Curator punya peran berbeda: mereka signal GRT ke subgraph yang mereka anggap berguna, sinyal kualitas yang membantu Indexer memutuskan subgraph mana yang layak diprioritaskan.
Selain subgraph, dokumentasi resmi The Graph juga menyebut produk Substreams untuk streaming data blockchain secara real-time maupun historis, dengan klaim dukungan ke lebih dari 60 jaringan blockchain. Desain ini membuat The Graph disebut sebagai lapisan infrastruktur yang memungkinkan aplikasi web3 dan AI berjalan tanpa server terpusat milik developer sendiri.
Fungsi token GRT
GRT adalah token ERC-20 yang jadi alat koordinasi ekonomi di jaringan The Graph. Tiga fungsi utamanya:
- Staking oleh Indexer sebagai jaminan bahwa mereka memproses query dengan benar, dan sebagai syarat untuk dapat reward.
- Delegasi oleh pemegang GRT yang ingin ikut mengamankan jaringan lewat Indexer pilihan tanpa menjalankan node sendiri.
- Signaling oleh Curator untuk menandai subgraph mana yang berguna dan layak diindeks secara prioritas.
Di luar tiga fungsi ini, GRT juga dipakai sebagai alat tukar di dalam ekonomi query. Aplikasi yang memakai data dari subgraph pada akhirnya membayar biaya dalam GRT ke Indexer yang melayani mereka.
Tokenomics GRT
Data suplai yang tersedia per 22 Oktober 2026: suplai beredar 10,94 miliar GRT dari total suplai 11,61 miliar GRT, sementara suplai maksimum tercatat tidak tersedia di CoinGecko. Artinya ada potensi penambahan suplai ke depan tanpa batas atas yang jelas dari data yang kami cek.
Soal detail alokasi token ke tim, investor, treasury, komunitas, atau jadwal unlock tertentu, informasi itu tidak ada di sumber resmi maupun data pasar yang kami kutip di artikel ini. Kami tidak bisa menyajikan rincian itu tanpa mengarang angka. Pembaca yang butuh detail alokasi sebaiknya mengecek dokumen tokenomics resmi dari The Graph Foundation langsung.
Tim, pendanaan, dan sejarah singkat
Materi edukasi di situs resmi The Graph menyebut nama Brandon Ramirez sebagai penulis dokumen "The Graph Network In Depth", salah satu bacaan yang direkomendasikan untuk memahami arsitektur jaringan. Pengelolaan ekosistem disebut berada di bawah The Graph Foundation, yang juga menerbitkan materi "Intro to Web3 and The Graph" serta roadmap jaringan.
Di luar itu, sumber yang kami cek tidak menyebut riwayat pendanaan, nama investor, atau tanggal peluncuran mainnet secara spesifik. Karena itu bagian tahun genesis di tabel ringkasan ditulis "belum diungkap" alih-alih mengarang tanggal.
Data pasar dan on-chain
Beberapa istilah di bagian ini sering dipakai trader kripto tapi mungkin asing buat pemula, jadi kita jelaskan sambil jalan.
Di Binance Futures, kontrak GRTUSDT per 22 Oktober 2026 diperdagangkan di $0,02514, naik 1,78% dalam 24 jam dengan volume transaksi $5,9 juta. Funding rate tercatat 0,0081% per periode. Funding rate adalah biaya periodik yang dibayarkan antara trader long dan short di pasar futures perpetual; angka positif berarti posisi long yang membayar short, tanda minat beli dengan leverage sedikit lebih dominan meski besarannya tipis.
Open interest, yaitu total nilai kontrak futures yang masih terbuka dan belum ditutup, tercatat $3,2 juta, turun 10,7% dalam 30 hari terakhir. Penurunan open interest biasanya menandakan minat trading leverage yang mengendur, baik karena trader menutup posisi maupun karena minat pasar terhadap koin ini sedang melemah. Dari sisi posisi, 63% akun di Binance Futures tercatat berada di sisi long, menunjukkan mayoritas trader memasang posisi untuk kenaikan harga meski open interest justru menyusut.
Soal pergerakan harga, ada perbedaan angka antara sumber. CoinGecko mencatat kenaikan 7,7% dalam 30 hari dan penurunan 60,7% dalam setahun terakhir untuk harga spot GRT di $0,02524. Data Binance Futures justru menunjukkan penurunan 1,2% dalam 30 hari tapi kenaikan 59,2% dalam 90 hari untuk kontrak GRTUSDT. Perbedaan ini wajar karena dua sumber mengambil snapshot waktu dan basis perhitungan yang berbeda, jadi sebaiknya dipakai sebagai gambaran arah umum, bukan angka yang harus sama persis.
Sebagai konteks jangka panjang, GRT pernah mencatat harga tertinggi sepanjang masa $2,84 pada 11 Februari 2021. Harga saat ini di kisaran $0,025 berarti GRT masih tertinggal lebih dari 99% dari level tertingginya itu.
Kompetitor
| Proyek | Fokus utama | Beda dengan The Graph |
|---|---|---|
| Chainlink | Jaringan oracle untuk menyalurkan data off-chain ke smart contract | Chainlink lebih fokus membawa data eksternal (harga, cuaca, hasil event) ke dalam blockchain, sementara The Graph mengindeks data yang sudah ada di dalam blockchain itu sendiri |
| Covalent | Penyedia API data blockchain terstruktur untuk analitik dan aplikasi | Covalent menawarkan API data siap pakai lintas banyak chain tanpa model subgraph kustom, berbeda dari pendekatan subgraph per proyek di The Graph |
| Pocket Network | Jaringan RPC terdesentralisasi untuk akses node blockchain | Pocket Network fokus pada akses mentah ke node RPC, sedangkan The Graph fokus pada data yang sudah diindeks dan bisa di-query lewat GraphQL |
Risiko GRT
Beberapa risiko konkret yang relevan buat siapa pun yang mengikuti atau trading GRT:
- Volatilitas tinggi dan tren jangka panjang negatif. GRT turun 60,7% dalam setahun terakhir dan masih lebih dari 99% di bawah all-time high $2,84 pada Februari 2021.
- Minat trading leverage yang menyusut. Open interest di Binance Futures turun 10,7% dalam 30 hari, menandakan likuiditas derivatif yang mengecil dan berpotensi membuat pergerakan harga lebih tajam saat volume tipis.
- Risiko leverage di pasar futures. Dengan 63% akun di sisi long dan funding rate yang masih bisa berubah arah, posisi leverage rentan kena likuidasi saat harga bergerak tiba-tiba berlawanan arah mayoritas.
- Ketidakjelasan suplai maksimum. CoinGecko mencatat suplai maksimum GRT tidak tersedia, yang berarti potensi penambahan suplai ke depan belum punya batas pasti dari data yang kami cek.
- Minimnya transparansi alokasi token dan pendanaan di sumber yang kami cek. Tanpa dokumen tokenomics resmi yang merinci alokasi ke tim, investor, dan jadwal unlock, sulit menilai tekanan jual potensial dari pihak internal.
- Ketergantungan pada peran Indexer, Delegator, dan Curator yang aktif. Nilai jaringan The Graph bergantung pada jumlah dan kualitas Indexer yang mau stake GRT dan melayani query; kalau partisipasi menurun, keandalan jaringan ikut berisiko turun.
- Risiko regulasi. Status hukum aset kripto bisa berubah di berbagai yurisdiksi, dan perdagangan GRT di Indonesia tetap tunduk pada aturan yang berlaku.
Cara beli dan trading GRT di Indonesia
GRT bisa diperdagangkan di pasar spot lewat pair yang tersedia di berbagai exchange, dan untuk trading dengan leverage, Binance menyediakan kontrak futures GRTUSDT. Sebelum transaksi, penting memastikan platform yang dipakai terdaftar dan diawasi oleh OJK, karena aset kripto di Indonesia merupakan instrumen yang diawasi secara resmi.
Untuk trading di futures, funding rate dan risiko likuidasi membuat posisi leverage jauh lebih fluktuatif dibanding memegang GRT secara spot. Dengan open interest yang sedang menyusut seperti tercatat di data Binance per 22 Oktober 2026, pergerakan harga di kontrak futures bisa lebih tajam saat volume tipis, sehingga manajemen risiko jadi hal yang perlu diperhatikan serius sebelum membuka posisi.
Apa artinya buat trader
Beberapa hal yang bisa dipantau ke depan terkait GRT:
- Tren open interest di Binance Futures. Penurunan 10,7% dalam 30 hari bisa jadi sinyal minat trading leverage yang mengendur; kenaikan kembali OI bisa menandakan minat yang pulih.
- Funding rate GRTUSDT. Angka 0,0081% per periode saat ini relatif kecil; perubahan funding rate ke arah negatif atau jadi jauh lebih positif bisa menunjukkan pergeseran sentimen pasar futures.
- Rasio akun long versus short. Saat ini 63% akun long; rasio yang makin ekstrem di satu sisi biasanya membuat pasar lebih rentan terhadap pembalikan arah mendadak, entah short squeeze atau long squeeze.
- Selisih angka 30 hari antara CoinGecko dan Binance Futures yang perlu dicek ulang sebelum mengambil kesimpulan soal tren jangka pendek.
- Perkembangan jumlah Indexer aktif dan volume query di jaringan The Graph, karena itu indikator fundamental dipakainya protokol ini di luar sekadar pergerakan harga token.
FAQ
Apakah GRT legal diperdagangkan di Indonesia?
GRT bisa diperdagangkan di exchange kripto yang terdaftar dan diawasi OJK. Pastikan memakai platform resmi dan paham bahwa aset kripto termasuk kategori berisiko tinggi.
Berapa suplai maksimum GRT?
Berdasarkan data CoinGecko per 22 Oktober 2026, suplai maksimum GRT tidak tersedia. Suplai beredar tercatat 10,94 miliar token dari total suplai 11,61 miliar.
Apa beda The Graph dengan Chainlink?
The Graph fokus mengindeks dan menyediakan akses data blockchain lewat GraphQL dan subgraph, sementara Chainlink lebih dikenal sebagai jaringan oracle yang menyalurkan data eksternal ke smart contract. Keduanya infrastruktur Web3 tapi fungsi utamanya berbeda.
Siapa yang menjalankan jaringan The Graph?
Jaringan dijalankan oleh tiga peran utama: Indexer yang stake GRT dan memproses query, Delegator yang mendelegasikan GRT ke Indexer, dan Curator yang menandai subgraph mana yang berguna dengan signaling GRT.
Kenapa harga GRT masih jauh dari all-time high?
GRT mencatat harga tertinggi sepanjang masa $2,84 pada 11 Februari 2021. Per 22 Oktober 2026 harga berada di kisaran $0,02524, turun sekitar 60,7% dalam setahun terakhir menurut data CoinGecko.
Di mana GRT bisa ditradingkan dengan leverage?
Binance Futures menyediakan kontrak GRTUSDT untuk trading dengan leverage. Funding rate dan risiko likuidasi membuat trading leverage jauh lebih berisiko dibanding spot.
Sumber
Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.