Apa Itu Akash Network (AKT)? Cara Kerja, Tokenomics, dan Risikonya
Akash Network menjual komputasi cloud dan GPU lewat marketplace terdesentralisasi. Ini profil lengkap AKT: cara kerja, tokenomics, data pasar, dan risikonya.
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan
Akash Network adalah jaringan blockchain berbasis Cosmos SDK yang membangun marketplace komputasi cloud terdesentralisasi, termasuk sewa GPU untuk kebutuhan AI. Token native-nya, AKT, dipakai untuk staking, keamanan jaringan, dan sebagai alat pembayaran di dalam marketplace tersebut. Per 24 Oktober 2026, AKT diperdagangkan di kisaran $0,68 dengan kapitalisasi pasar sekitar $204,53 juta, menempatkannya di peringkat 178 berdasarkan market cap menurut CoinGecko.
Ringkasan AKT
Per 24 Oktober 2026.
| Fakta | Detail |
|---|---|
| Nama | Akash Network |
| Ticker | AKT |
| Kategori | AI, DePIN, Smart Contract Platform, Proof of Stake |
| Jaringan | Akash, Archway, Osmosis (dibangun di atas Cosmos SDK) |
| Tahun rilis/genesis | Belum diungkap |
| Peringkat market cap | 178 (CoinGecko) |
| Harga | $0,68390 |
| Market cap | $204,53 juta |
| Suplai beredar | 299,09 juta AKT |
| Suplai maksimum | 388,54 juta AKT |
| Kontrak Binance Futures | AKTUSDT |
Masalah yang mau diselesaikan
Pasar cloud computing selama ini dikuasai segelintir penyedia besar seperti AWS, Google Cloud, dan Microsoft Azure. Harga ditentukan sepihak oleh perusahaan-perusahaan itu, dan menurut materi resmi Akash, tarif legacy provider cenderung statis demi menjaga margin korporasi, bukan mencerminkan harga pasar sebenarnya dari hardware yang dipakai.
Masalah ini kian terasa seiring melonjaknya permintaan AI. Kebutuhan GPU untuk training dan inference model AI terus naik, sementara pasokan GPU kelas enterprise seperti H100 dan A100 terbatas dan mahal kalau disewa dari cloud tradisional. Banyak kapasitas komputasi, baik di data center maupun server pribadi, menganggur karena tidak terhubung ke marketplace yang efisien.
Akash Network memosisikan diri sebagai jawaban atas dua masalah itu sekaligus: membuka akses ke komputasi lebih murah lewat kompetisi pasar terbuka, dan memberi jalan bagi siapa pun yang punya hardware menganggur untuk menyewakannya dan mendapat penghasilan.
Cara kerja Akash Network
Akash berjalan di atas Cosmos SDK dengan mekanisme konsensus Proof-of-Stake, yang menurut penjelasan resmi dianggap lebih efisien energi dibanding Proof-of-Work. Jaringan ini bersifat blockchain agnostic, artinya dirancang bisa berinteraksi dengan ekosistem blockchain lain, dan token AKT juga hadir di jaringan Archway dan Osmosis.
Mekanisme inti Akash adalah marketplace permissionless dengan sistem lelang terbalik atau reverse auction. Penyewa komputasi (tenant) mengonfigurasi kebutuhan mereka lewat file konfigurasi bernama SDL (Stack Definition Language) atau memakai image Docker yang sudah ada, lalu menentukan spesifikasi seperti jenis GPU, wilayah server, dan harga maksimum yang mau dibayar.
Permintaan itu disebar ke seluruh penyedia infrastruktur independen di jaringan. Para provider lalu bersaing mengajukan penawaran harga secara real time. Tenant tinggal memilih bid yang paling sesuai, dan begitu lease diterima, jaringan otomatis mengatur routing backend dan menyalakan container untuk menjalankan workload tersebut. Menurut situs resmi Akash, proses dari konfigurasi sampai workload aktif bisa selesai dalam hitungan detik.
Karena harga ditentukan lewat lelang kompetitif, bukan tarif tetap dari satu penyedia, biayanya bisa jauh lebih murah. Sebagai contoh yang dipublikasikan Akash, sewa GPU H100 di jaringan mereka dibanderol $1,33 per jam, dibandingkan $3,93 per jam di AWS untuk kelas GPU yang sama.
Siapa pun yang punya kapasitas CPU atau GPU menganggur juga bisa menjadi compute provider. Caranya dengan menjalankan software provider resmi Akash, mendaftarkan hardware ke jaringan global, lalu otomatis mendapat penghasilan ketika ada tenant yang menyewa kapasitas tersebut.
Fungsi token AKT
AKT adalah token native yang menopang keamanan dan operasional jaringan Akash. Berdasarkan deskripsi resmi, fungsi utamanya meliputi:
- Staking: pemegang AKT bisa men-stake token mereka untuk membantu mengamankan jaringan lewat mekanisme Proof-of-Stake, dan sebagai imbalannya mendapat reward.
- Alat transaksi: AKT dipakai untuk menjamin integritas dan keaslian transaksi di dalam marketplace komputasi, termasuk pembayaran antara tenant dan provider.
- Insentif ekosistem: token ini jadi mekanisme insentif yang mendorong partisipasi, baik dari sisi penyedia komputasi maupun validator jaringan.
Sumber yang tersedia tidak merinci apakah AKT dipakai untuk voting governance on-chain secara spesifik, jadi detail tata kelola di luar staking belum bisa dipastikan dari data yang kami cek.
Tokenomics AKT
Berdasarkan data CoinGecko per 24 Oktober 2026, suplai beredar AKT tercatat 299,09 juta token, dengan total suplai 299,12 juta dan suplai maksimum 388,54 juta token. Artinya masih ada sekitar 89 juta token AKT yang berpotensi masuk ke peredaran di masa depan, meski sumber yang kami cek tidak merinci jadwal rilis atau mekanisme emisi tambahan tersebut.
Fully diluted valuation (FDV) AKT saat ini $204,56 juta, hanya sedikit lebih tinggi dari market cap $204,53 juta. Gap yang tipis antara market cap dan FDV ini mengindikasikan sebagian besar suplai yang direncanakan sudah beredar.
Untuk rincian alokasi token ke tim, investor awal, treasury, atau komunitas, serta ada tidaknya jadwal vesting dan unlock mendatang, detailnya belum dipublikasikan di sumber resmi dan agregator yang kami cek untuk artikel ini. Trader yang membutuhkan data tersebut sebaiknya memeriksa dokumentasi resmi Akash atau laporan tokenomics pihak ketiga secara terpisah.
Tim, pendanaan, dan sejarah singkat
Sumber yang kami cek tidak mencantumkan nama pendiri, struktur tim, maupun riwayat pendanaan dari venture capital untuk Akash Network. Yang bisa dipastikan dari data publik adalah proyek ini memiliki repositori pengembangan terbuka di GitHub dengan nama organisasi akash-network, dan dokumentasinya didistribusikan di bawah lisensi CC BY 4.0 dengan kode sumber berlisensi Apache 2.0, menandakan proyek ini open-source.
Secara historis, token AKT pernah mencapai harga tertinggi sepanjang masa sebesar $8,07 pada 6 April 2021, saat pasar kripto secara umum sedang dalam tren bullish. Harga saat ini jauh di bawah level tersebut.
Dari sisi adopsi, situs resmi Akash menampilkan studi kasus Razer yang memakai jaringan Akash untuk men-scale kampanye AI global bernama AVA Mini. Razer mengintegrasikan platform open-source AIKit miliknya dengan jaringan komputasi independen Akash, memanfaatkan pool GPU konsumen berperforma tinggi yang tersebar untuk melayani satu endpoint terkelola. Menurut materi tersebut, tim engineering Razer berhasil mencapai elastic scaling tanpa intervensi infrastruktur manual, meski angka spesifik soal penghematan biaya atau kecepatan respons tidak dicantumkan dengan jelas dalam materi yang kami akses.
Data pasar dan on-chain
Berikut gambaran data pasar AKT per 24 Oktober 2026, dari CoinGecko dan Binance:
| Metrik | Nilai |
|---|---|
| Harga (CoinGecko) | $0,68390 |
| Harga (Binance Futures AKTUSDT) | $0,68720 |
| Perubahan 24 jam (Binance) | +1,25% |
| Volume 24 jam (CoinGecko) | $3,90 juta |
| Volume 24 jam (Binance Futures) | $2,5 juta |
| Funding rate terakhir | 0,0050% per periode |
| Open interest | $2,6 juta, naik 5,4% dalam 30 hari |
| Rasio akun long | 65% |
| Perubahan 30 hari (CoinGecko) | -0,1% |
| Perubahan 30 hari (Binance) | +1,4% |
| Perubahan 90 hari (Binance) | +44,0% |
| Perubahan 1 tahun (CoinGecko) | +8,3% |
Beberapa istilah ini perlu penjelasan buat yang belum familiar. Funding rate adalah biaya periodik yang dibayarkan antara trader posisi long dan short di kontrak futures perpetual; nilai positif kecil seperti 0,0050% menandakan posisi long sedikit lebih dominan dan membayar funding ke posisi short. Open interest adalah total nilai kontrak futures yang masih terbuka alias belum ditutup, jadi kenaikan 5,4% dalam 30 hari berarti makin banyak modal yang "parkir" di posisi futures AKT. Rasio akun long 65% menunjukkan mayoritas akun trader di Binance Futures untuk AKTUSDT saat ini memegang posisi beli, meski ini tidak otomatis berarti volumenya juga didominasi long karena ukuran posisi per akun bisa berbeda-beda.
Ada sedikit perbedaan angka perubahan harga 30 hari antara CoinGecko (-0,1%) dan Binance Futures (+1,4%). Perbedaan ini wajar terjadi karena sumber data, waktu pengambilan snapshot, dan venue harga (spot vs futures) tidak selalu identik.
Dari sisi volume, angka $2,5 juta sampai $3,9 juta per hari tergolong kecil untuk standar aset kripto dengan market cap di atas $200 juta. Likuiditas yang tipis ini membuat AKT lebih rentan terhadap pergerakan harga tajam saat ada order besar masuk atau keluar.
Apa artinya buat trader
Untuk yang memantau AKTUSDT di Binance Futures, ada beberapa angka konkret yang bisa dijadikan acuan pemantauan, bukan sinyal beli atau jual:
- Funding rate 0,0050% per periode menunjukkan posisi long masih sedikit mendominasi, tapi angkanya kecil sehingga belum menandakan euforia leverage yang ekstrem.
- Open interest $2,6 juta yang naik 5,4% dalam 30 hari berarti makin banyak modal masuk ke posisi terbuka. Kombinasi open interest naik dengan rasio akun long 65% berpotensi memicu likuidasi berantai kalau harga tiba-tiba bergerak tajam ke arah berlawanan.
- Volume harian $2,5 juta sampai $3,9 juta tergolong tipis. Order besar berpotensi menggerakkan harga lebih jauh dibanding aset dengan likuiditas tebal.
- Harga saat ini $0,68 masih sekitar 91% di bawah rekor tertinggi $8,07 yang dicapai April 2021, jadi perbandingan dengan ATH perlu mempertimbangkan skala penurunan jangka panjang tersebut.
- Kenaikan 90 hari di Binance tercatat 44,0%, jauh lebih besar dibanding perubahan 30 hari yang cuma +1,4%. Ini berarti sebagian besar momentum kenaikan terjadi lebih awal dalam periode tersebut, bukan belakangan ini.
Rilis dan studi kasus baru dari tim Akash soal adopsi marketplace GPU, termasuk kerja sama seperti dengan Razer, juga layak dipantau karena permintaan riil terhadap kapasitas komputasi adalah faktor yang paling menentukan kebutuhan AKT dalam jangka panjang.
Kompetitor
| Proyek | Fokus utama | Beda utama dengan Akash |
|---|---|---|
| Render Network (RNDR) | GPU rendering grafis dan komputasi AI | Lebih spesifik pada rendering visual/3D dan workload AI, dibanding marketplace komputasi umum Akash |
| io.net | Agregasi GPU terdesentralisasi untuk AI/ML | Fokus pada menghubungkan GPU dari berbagai sumber (data center, crypto miner, individu) khusus untuk machine learning |
| Golem Network | Marketplace komputasi terdesentralisasi umum | Model peer-to-peer untuk berbagai jenis komputasi, bukan hanya cloud container seperti Akash |
Semua proyek ini sama-sama masuk kategori DePIN (decentralized physical infrastructure network) di bidang komputasi, tapi beda penekanan: ada yang spesifik GPU rendering, ada yang fokus agregasi untuk AI, dan ada yang menyasar komputasi umum lewat kontainer seperti Akash.
Risiko AKT
Beberapa risiko konkret yang perlu diperhatikan sebelum memegang atau mentradingkan AKT:
- Suplai yang belum sepenuhnya beredar: dari suplai maksimum 388,54 juta token, baru 299,09 juta yang beredar. Tambahan token di masa depan berpotensi menambah tekanan jual kalau tidak diimbangi permintaan, meski sumber yang kami cek tidak merinci jadwal rilisnya.
- Likuiditas tipis: volume harian di kisaran $2,5 juta sampai $3,9 juta tergolong kecil dibanding market cap-nya, sehingga harga AKT berpotensi bergerak tajam saat ada transaksi besar.
- Volatilitas historis tinggi: harga AKT sudah turun jauh dari rekor $8,07 pada April 2021 ke sekitar $0,68 saat ini, mencerminkan tingkat volatilitas yang besar sepanjang siklus pasar.
- Risiko leverage di futures: dengan 65% akun di Binance Futures memegang posisi long dan open interest yang terus naik, pasar AKTUSDT berpotensi mengalami likuidasi berantai kalau harga bergerak berlawanan arah secara tiba-tiba.
- Ketergantungan pada adopsi riil: model bisnis Akash bergantung pada seberapa banyak penyedia dan penyewa komputasi yang benar-benar memakai marketplace-nya. Kalau adopsi melambat, permintaan terhadap AKT sebagai alat pembayaran dan staking juga ikut melambat.
- Transparansi data terbatas: informasi soal alokasi token ke tim/investor, jadwal unlock, dan struktur pendanaan proyek tidak tersedia di sumber resmi dan agregator yang kami cek, sehingga sulit menilai risiko konsentrasi kepemilikan secara pasti.
- Risiko regulasi: seperti aset kripto lain, AKT tunduk pada perubahan kebijakan regulator di berbagai negara, termasuk soal klasifikasi aset dan aturan perdagangan derivatif.
Cara beli dan trading AKT di Indonesia
AKT bisa ditradingkan di kontrak Binance Futures dengan pair AKTUSDT untuk trader yang ingin eksposur ke pergerakan harga memakai leverage. Trading futures membawa risiko lebih besar dibanding spot karena posisi bisa terlikuidasi kalau harga bergerak berlawanan arah secara signifikan, apalagi dengan open interest yang terus bertambah seperti sekarang.
Di Indonesia, perdagangan aset kripto termasuk AKT berada di bawah pengawasan OJK. Sebaiknya transaksi dilakukan lewat exchange yang sudah terdaftar resmi sebagai pedagang aset kripto di Indonesia, bukan platform yang statusnya belum jelas. Sebelum memakai fitur futures, pastikan memahami mekanisme margin, funding rate, dan risiko likuidasi, karena kerugian di pasar leverage bisa melebihi modal awal yang disetor.
Untuk yang lebih tertarik ke eksposur jangka panjang tanpa leverage, trading spot AKT lewat exchange terdaftar tetap jadi opsi yang risikonya lebih terbatas dibanding posisi futures.
Sumber
- CoinGecko · Akash Network
- Website resmi Akash Network
- Binance Futures
Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.